Beranda | Artikel
Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu
10 jam lalu

Setiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, bandara sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional yang sangat kuat.

Namun di balik arus besar itu, ada jutaan orang yang tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab.

Ada tenaga kesehatan yang berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan yang menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang hanya bisa melihat keluarga lewat layar ponsel.

Hati mereka sama seperti yang lain. Mereka juga rindu ibu. Mereka juga ingin mencium tangan ayah. Mereka juga ingin duduk di ruang tamu sederhana yang penuh kenangan masa kecil. Namun, karena berbagai hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak yang begitu jauh, atau bahkan ketiadaan biaya untuk mudik, keinginan itu harus mereka pendam.

Rindu yang bernilai ibadah

Islam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi manfaat bagi orang lain, maka pekerjaannya bernilai ibadah.

Tidak mudik bukan berarti tidak berbakti. Bisa jadi justru ia sedang berbakti dengan cara yang berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, atau menjaga pelayanan bagi masyarakat.

Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Jika seseorang tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya, ia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.

Amanah didahulukan daripada keinginan pribadi

Islam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)

Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab profesi adalah amanah.

Sering kali yang tidak mudik adalah mereka yang justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, aparat keamanan, pekerja transportasi, karyawan layanan publik, dan banyak profesi lain yang membuat orang lain bisa merayakan hari raya dengan aman dan nyaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Menjaga profesionalitas di hari raya adalah bentuk ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar karena menahan rindu demi menjaga amanah.

Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaan

Sebagian orang merasa rendah hati karena tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah halal untuk keluarga termasuk amal yang besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik sama sekali daripada makanan yang ia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar yang menjadi tulang punggung keluarga di desa. Uang yang dikirim setiap bulan justru menjadi sebab orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari bakti yang nyata.

Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang Agung

Silaturahim tidak selalu dengan hadir fisik

Memang, bertemu langsung memiliki kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahim bukanlah yang membalas kunjungan, tetapi yang tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)

Sebagian orang merasa bersalah karena tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berbakti tidak selalu harus dengan hadir secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan suara lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata yang menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ

“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.

Kesabaran menahan rindu

Menahan rindu bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)

Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Kesabaran menahan rindu adalah ibadah yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.

Jangan bandingkan diri dengan orang lain

Di era media sosial, foto kebersamaan keluarga dapat menambah rasa sepi bagi yang tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)

Setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Menjadikan momen ini sebagai muhasabah

Tidak mudik bisa menjadi waktu yang sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.

Gunakan momen ini untuk:

  • Memperbanyak doa.
  • Mengirimkan doa untuk kedua orang tua.
  • Merenungi perjalanan hidup.
  • Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Solusi praktis mengobati rindu

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  • Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.
  • Jadwalkan video call khusus bersama keluarga.
  • Kirim hadiah kecil sebagai tanda cinta.
  • Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.
  • Perbanyak zikir dan doa.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Wahai Anda yang tetap bekerja saat orang lain pulang…

Allah mengetahui rindu yang Anda simpan dalam diam.
Allah melihat pengorbanan yang mungkin tidak disorot manusia.
Allah mencatat setiap langkah yang Anda tempuh demi nafkah halal dan amanah yang dijaga.

Tidak mudik bukan tanda kurang cinta.
Tidak pulang bukan berarti kurang bakti.
Bisa jadi justru Anda sedang menjalani bentuk pengabdian yang lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.

Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada batas akhirnya. Setiap rindu yang ditahan akan diganti dengan pertemuan yang lebih hangat, pada waktu yang terbaik menurut-Nya.

Dan jika jarak masih memisahkan, doa tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah yang dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap bernilai ibadah.

Semoga Allah menjaga keluarga yang jauh di sana.
Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita.
Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di dunia dan kelak di surga-Nya.

Wallahu Ta‘ala A‘lam.

Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/112704-ketika-tidak-bisa-mudik-untuk-para-pekerja-yang-menahan-rindu.html