Beranda | Artikel
Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 1): Pemuda Yahudi yang Dicurigai Sebagai Dajjal
10 jam lalu

Ada pertanyaan yang muncul di benak kita mengenai siapa dan di mana keberadaan Dajjal. Apakah Dajjal hidup (saat ini)? Apakah ia sudah ada pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui dahulu tentang kisah Ibnu Shayyad. Pemuda Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dicurigai sebagai Dajjal. Apakah dia Dajjal atau bukan? Jika Ibnu Shayyad bukan Dajjal, apakah Dajjal sudah ada sebelum kemunculannya dengan fitnahnya, atau baru muncul kemudian (saat menjelang hari kiamat)?

Mengenal Ibnu Sayyad

Nama aslinya adalah Shaff (ada yang mengatakan Abdullah) bin Shayyad atau Shaid. Ia merupakan seorang Yahudi dari Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Ia masih kecil ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad kemudian masuk Islam, dan anaknya, ‘Umarah, termasuk dari kalangan tabi’in yang terkemuka. Imam Malik dan lainnya meriwayatkan darinya.

Adz-Dzhahabi menulis dalam bukunya Tajrid Asma’ as-Sahabah,

عبد الله بن صيَّاد، أورده ابن شاهين، وقال: هو ابن صائد، كان أبوه يهوديًّا، فولد عبد الله أعور مختونًا، وهو الّذي قيل: إنّه الدَّجّال، ثمَّ أسلم، فهو تابعيٌّ، له رؤية

“Abdullah bin Shayyad, disebut oleh Ibnu Shahin. Ayahnya seorang Yahudi, lahirlah Abdullah yang cacat mata dan disunat, dan orang mengatakan dialah Dajjal. Ia kemudian masuk Islam, sehingga termasuk tabi’in yang pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menulis dalam al-Isabah menekankan hal yang sama, dan menyebut anaknya ‘Umarah bin Abdullah bin Shayyad sebagai salah satu tabi’in yang terkemuka, yang meriwayatkan dari Imam Malik dan lainnya.

Keadaan Ibnu Shayyad

Ibnu Shayyad dikenal sebagai seorang pendusta yang sering meramal. Terkadang ucapannya benar, dan terkadang salah. Karena sifatnya itu, berita tentang dirinya tersebar luas di tengah masyarakat, sampai muncul anggapan bahwa dialah Dajjal sebagaimana akan dijelaskan dalam kisah ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya.

Baca juga: Beriman Terhadap Munculnya Dajal

Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu Sayyad

Ketika kabar tentang Ibnu Shayyad semakin melebar, dan banyak orang percaya bahwa ia adalah Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memastikan kebenaran itu. Beliau mendatangi Ibnu Shayyad secara diam-diam agar tidak ketahuan, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang mengungkap hakikat dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuka jati diri Ibnu Shayyad.

Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibnu Shayyad. Mereka menemukan Ibnu Shayyad sedang bermain dengan anak-anak di dekat benteng Bani Maghalah, dan ia sudah hampir baligh. Tiba-tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dan bertanya,

أتشهد أني رسول الله؟

“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”

Ibnu Shayyad menatap beliau dan menjawab,

أشهد أنك رسول الأميين

“Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang yang ummi.”

Dan Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أتشهد أني رسول الله؟

“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dan menjawab,

آمنت بالله وبرسله

“Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya,

ما ترى؟

“Apa yang engkau lihat?”

Ibnu Shayyad menjawab,

يأتيني صادق وكاذب

“Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

خلط عليك الأمر

“Engkau telah bingung dan tercampur dalam urusanmu.”

Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,

إنِّي خبأت لك خبيئًا؟

“Aku menyembunyikan sesuatu untukmu, coba katakan apa itu?”

Ibnu Shayyad menjawab,

هو الدُّخ

“Ad-dukh…”

Ia bermaksud mengatakan ad-dukhān (asap), namun hanya mampu mengucapkan sebagian kata itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,

اخسأ فلن تعدو قدرك

“Diam! Engkau tidak akan melampaui batasmu.”

Umar kemudian berkata,

دعني يا رسول الله أضرب عنقه

“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”

Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن يكنه؛ فلن تسلط عليه، وإن لم يكنه؛ فلا خير لك في قتله

“Jika memang dialah (Dajjal), engkau tidak akan mampu membunuhnya. Dan jika bukan dia, maka tidak ada gunanya engkau membunuhnya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepadanya,

ما ترى؟

“Apa yang engkau lihat?”

Ibnu Shayyad menjawab,

أرى عرشًا على الماء

“Aku melihat singgasana berada di atas air.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

ترى عرش إبليس على البحر، وما ترى؟

“Engkau melihat singgasana Iblis di atas lautan. Apa lagi yang kau lihat?”

Ia menjawab,

أرى صادقين وكاذبًا، أو كاذبين وصادقًا.

“Aku melihat dua yang benar dan satu yang dusta, atau dua yang dusta dan satu yang benar.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لُبِّسَ عليه، دعوه

“Pikirannya telah dikacaukan. Biarkan saja dia.” (HR. Muslim)

Ibnu Umar juga menceritakan bahwa setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka‘ab kembali mendatangi kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di balik pohon-pohon dengan harapan bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia sadar kedatangan beliau. Saat itu, Ibnu Sayyad sedang berbaring dengan selimutnya. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memanggil anaknya,

يا صاف -وهو اسم ابن صياد-! هذا محمَّد صلى الله عليه وسلم.

“Wahai Shaff! Itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”

Ibnu Shayyad pun terkejut dan bangun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

لو تركته بيَّن

“Seandainya ibunya membiarkannya, pasti urusannya menjadi jelas.” (HR. Bukhari)

Abu Dzar pernah ditugaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya kepada ibu Ibnu Shayyad,

سلها كم حملت به؟

“Berapa lama engkau mengandungnya?”

Sang ibu menjawab,

حملتُ به اثني عشر شهرًا.

“Aku mengandungnya selama dua belas bulan.”

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Dzar untuk bertanya lagi,

سلها عن صيحته حين وقع؟

“Bagaimana tangisannya saat ia lahir?”

Sang ibu menjawab,

صاح صيحة الصبي ابن شهر

“Ia menangis seperti bayi berusia satu bulan.”

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad,

إنِّي قد خبأت لك خبئًا

“Aku menyembunyikan sesuatu darimu. Apa itu?”

Ibnu Sayyad menjawab,

خبأت لي خطم شاة عفراء والدُّخان

“Engkau menyembunyikan khitm (hidung) domba dan asap.”

Ia ingin mengucapkan kata ad-dukhan (asap), tetapi ia hanya mampu mengucapkan,

الدُّخ، الدُّخ

“Ad-dukh… ad-dukh…”

Ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kata “ad-dukhan” merujuk pada firman Allah,

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Tunggulah pada hari ketika langit menurunkan asap yang jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan ayat ini sebagai ujian bagi Ibnu Sayyad.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

ابن صياد كاشف على طريقة الكهَّان، بلسان الجان، وهم يقرطون -أي: يقطعون- العبارة، ولهذا قال: هو الدُّخ يعني: الدُّخان، فعندها عرف رسول الله صلى الله عليه وسلم مادته، وأنّها شيطانية، فقال له: (اخسأ؛ فلن تعدو قدرك)

“Ibnu Shayyad memiliki kemampuan seperti para dukun yang dibantu jin, sehingga ucapannya terpotong-potong. Oleh karena itu, ia hanya mampu mengatakan ad-dukh. Saat itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa sumbernya adalah dari setan. Beliau pun berkata, ‘Diam! Engkau tidak akan melampaui batas.’

Ibnu Shayyad: Fakta, bukan mitos

Kisah Ibnu Shayyad ini pun ada yang mengatakan adalah kisah mitos saja bukan kenyataan. Salah satu yang berpendapat mengenai hal ini adalah Abu Ubaydah. Dia berkata,

شخصية ابن صياد خرافة جازت على بعض العقول، فعاشت قصتها في بعض الكتب منسوبة إلى الرسول، والرسول عليه صلوات الله لا يصدر عنه من القول والفعل إِلَّا ما هو لُباب الحق ومُصاصه، ولقد آن الأوان لنأخذ بعين الاعتبار والجد روح الحديث ومعناه، ودلالته ومرماه؛ كما نأخذ سنده وطريقه؛ لتنجو مداركنا الإِسلامية من الشطط والغلط

“Kepribadian Ibnu Shayyad adalah mitos yang diterima oleh beberapa orang, sehingga kisahnya hidup dalam beberapa kitab dan dikaitkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata atau berbuat kecuali yang merupakan inti kebenaran dan esensinya. Sudah saatnya kita memperhatikan ruh hadis, maknanya, petunjuk, dan tujuannya, sebagaimana kita memperhatikan sanad dan jalurnya, agar akal keislaman kita selamat dari penyimpangan dan kesalahan.”

Namun, hal ini dapat dijawab: hadis-hadis yang menyebut Ibnu Shayyad adalah sahih, tercantum dalam kitab-kitab hadis seperti Ash-Shahihain dan lainnya. Tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadis atau inti kebenaran. Ibnu Shayyad, seperti telah disebutkan sebelumnya, memang membuat umat Islam bingung dan termasuk salah satu penipu (Dajjal) dari golongan penipu, dan Allah menampakkan kebohongannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Muslim.

Kematian Ibnu Shayyad

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

فقدنا ابن صيَّاد يوم الحرَّة

“Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari Harrah.” (HR. Abu Daud)

Ibnu Hajar rahimahullah menilai riwayat ini sahih. Sementara pendapat yang menyebutkan bahwa Ibnu Shayyad wafat di Madinah dan bahwa orang-orang membukakan wajahnya serta mensalatinya, dianggap lemah oleh Ibnu Hajar.

[Bersambung]

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/112577-kisah-ibnu-shayyad-bag-1.html