Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 2)
Penyebutan Dajjal dalam Al-Qur’an
Para ulama pernah mempertanyakan hikmah di balik tidak disebutkannya Dajjal secara jelas dalam Al-Qur’an, padahal fitnahnya sangat besar, para Nabi memperingatkan umatnya darinya, dan kita pun diperintahkan untuk berlindung dari fitnahnya dalam salat. Para ulama kemudian memberikan beberapa jawaban, di antaranya:
Dajjal termasuk dalam “sebagian tanda-tanda” yang disebut dalam Al-Qur’an
Allah Azza wa Jalla berfirman,
{يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا…}
“Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang sebelumnya belum beriman atau belum berbuat kebaikan dalam imannya.” (QS. Al-An‘am: 158)
Yang dimaksud dengan “sebagian ayat” di sini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya Dabbah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ثلاث إذا خرجْنَ لا ينفع نفسًا إيمانُها لم تكنْ آمنت من قبلُ أوكسبت في إيمانِها خيرًا: طلوع الشّمس من مغربها، والدَّجَّال، ودابَّة الأرض
“Tiga perkara yang apabila telah muncul, tidak lagi bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman atau tidak pernah berbuat kebaikan dalam imannya: terbitnya matahari dari arah barat, keluarnya Dajjal, dan munculnya Dabbah (binatang) dari dalam bumi.”
Al-Qur’an sudah menyebutkan turunnya Nabi Isa
Nabi Isa lah yang akan membunuh Dajjal. Maka Al-Qur’an cukup menyebutkan “al-Masih yang benar” (yaitu Nabi Isa) tanpa perlu menyebut “al-Masih pendusta” (yaitu Dajjal), karena sesuai kebiasaan bahasa Arab yang sering menyebut salah satu dari dua hal yang saling berlawanan.
Bahwa Dajjal disebutkan dalam surah Al-Ghafir ayat 57
Allah Azza wa Jalla berfirman,
{لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ}
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.” (QS. Ghafir: 57)
Yang dimaksud dengan “manusia” pada ayat ini berdasarkan sebagian penafsiran adalah Dajjal. Abu Al-‘Aliyah berkata, “Yakni bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan Dajjal, ketika orang-orang Yahudi mengagungkan dirinya.”
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Penafsiran ini, jika memang benar, merupakan jawaban yang terbaik. Bisa jadi ini termasuk bagian dari hal-hal yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Dan ilmu yang paling benar hanyalah milik Allah.”
Dajjal tidak disebut dalam Al-Qur’an karena kehinaannya
Al-Qur’an tidak menyebutkan Dajjal karena rendahnya kedudukannya. Ia mengaku sebagai tuhan, padahal ia hanyalah manusia yang penuh kekurangan yang sangat jauh dari keagungan, kesempurnaan, dan kemuliaan Rabbul ‘Alamin yang Mahasuci dari segala sifat cacat. Karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah terlalu kecil dan hina untuk disebutkan dalam kitab-Nya. Meski begitu, para Nabi tetap memperingatkan umat mereka tentang bahaya dan fitnahnya, sebagaimana telah disebutkan bahwa tidak ada seorang Nabi pun melainkan memberi peringatan tentang Dajjal.
Muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa Al-Qur’an menyebut Fir‘aun, padahal ia juga mengaku sebagai tuhan?”
Jawabannya, kisah Fir‘aun telah berakhir, dan penyebutannya di dalam Al-Qur’an adalah sebagai pelajaran dan ibrah. Adapun Dajjal, maka fitnahnya akan terjadi di akhir zaman, sehingga penyebutannya ditiadakan sebagai bentuk ujian bagi manusia. Bahkan, klaim ketuhanannya begitu jelas kebatilannya, karena Dajjal secara lahiriah tampak penuh kekurangan dan kehinaan serta sangat jauh dari kedudukan yang ia klaim.
Allah pun tidak menyebutkannya karena mengetahui bahwa para hamba-Nya yang beriman tidak akan gentar dengan makhluk seperti itu. Justru mereka akan semakin teguh dan yakin, seperti ucapan pemuda yang dibunuh oleh Dajjal lalu dihidupkan kembali,
والله ما كنت فيك أشد بصيرة مني اليوم
“Demi Allah, hari ini keyakinanku tentang dirimu lebih kuat daripada sebelumnya.” (HR. Bukhari)
Suatu perkara kadang memang ditinggalkan penyebutannya karena saking jelasnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sakit menjelang wafat, tidak menuliskan wasiat tentang kepemimpinan Abu Bakar. Hal itu karena kedudukan Abu Bakar sudah sangat jelas bagi para sahabat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
يأبى الله والمؤمنون إِلَّا أبا بكر
“Allah dan kaum mukminin tidak meridai kecuali Abu Bakar.” (HR. Muslim)
Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal secara eksplisit dalam Al-Qur’an tetap relevan, karena Allah telah menyebut Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an, sedangkan fitnah mereka mirip dengan fitnah Dajjal.
Meskipun demikian, kemungkinan besar jawaban pertama adalah yang paling kuat, wallahu a‘lam, yaitu bahwa Dajjal sebenarnya sudah disebutkan secara tersirat dalam sebagian ayat. Adapun rincian dan penjelasan tentangnya, hal itu disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dari tugas beliau untuk menjelaskan perkara-perkara yang masih global.
Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?
Tempat munculnya Dajjal
Dajjal akan muncul dari arah timur, tepatnya dari wilayah Khurasan, dari tempat yang banyak orang Yahudi di kota Isfahan. Setelah itu, ia akan berkeliling ke seluruh penjuru bumi; dan tidak ada satu negeri pun yang luput darinya, kecuali Makkah dan Madinah. Ia tidak akan mampu memasuki dua kota suci itu karena keduanya dijaga oleh para malaikat.
Dalam hadis Fathimah binti Qais yang telah disebutkan sebelumnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal,
ألَّا إنّه في بحر الشّام، أو بحر اليمن، لا بل من قِبَل المشرق ما هو، من قبل المشرق ما هو (وأومأ بيده إلى المشرق)
“Ketahuilah, ia berada di laut Syam atau laut Yaman… tidak, tetapi dari arah timur, dari arah timur dia datang.” (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur). (HR. Muslim)
Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدَّجَّالُ يخرج من أرض بالمشرق؛ يُقالُ لها: خراسان
“Dajjal akan muncul dari sebuah negeri di wilayah timur, yang disebut Khurasan.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani)
Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يخرج الدَّجَّال من يهودية أصبهان، معه سبعونٍ ألفًا من اليهود
“Dajjal akan keluar dari daerah Yahudi di Isfahan, bersama tujuh puluh ribu orang Yahudi.” (HR. Ahmad; Ibnu Hajar berkata: sahih)
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun dari mana ia muncul, maka pastilah dari arah timur.”
Ibnu Katsir rahimahullah juga mengatakan, “Kemunculan pertamanya berasal dari Isfahan, dari sebuah perkampungan bernama al-Yahudiyyah.”
Dajjal tidak akan masuk Makkah dan Madinah
Dajjal diharamkan memasuki Makkah dan Madinah ketika ia keluar pada akhir zaman. Hal ini ditegaskan oleh banyak hadis sahih. Adapun negeri-negeri selain keduanya, Dajjal akan memasukinya satu per satu. Dalam hadis Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa Dajjal berkata,
فأخرج، فأسير في الأرض، فلا أدع قرية إِلَّا هبطتُها في أربعين ليلة؛ غير مكّة وطيبة، فهما محرَّمتان على كلتاهما، كلما أردت أن أدخل واحدة – أو واحدًا- منهما؛ استقبلني مَلَك بيده السيف صلتًا يصدُّني عنها، وإن على كلّ نقبٍ منها ملائكة يحرسونها
“Aku keluar, lalu berjalan di muka bumi. Tidak ada satu pun kampung yang tidak aku datangi dalam empat puluh malam, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Keduanya diharamkan bagiku. Setiap kali aku berniat memasuki salah satu darinya, seorang malaikat akan menghadangku dengan pedang terhunus dan menghalangiku. Pada setiap jalan menuju dua kota itu, terdapat malaikat-malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim)
Terdapat pula riwayat yang menetapkan bahwa Dajjal tidak akan dapat memasuki empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, ia berkata,
“Aku dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar pergi menemui salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata, ‘Sampaikan kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang Dajjal.’ … (Ia menyebutkan hadis lengkapnya, lalu berkata), ‘Dajjal tinggal di bumi selama empat puluh hari, dan ia akan menjangkau seluruh sumber air. Namun, ia tidak akan mendekati empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath-Thur, dan Masjid Al-Aqsha.’”
Adapun riwayat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang berambut ikal, keriting, dan buta sebelah mata dalam keadaan menaruh kedua tangannya di pundak seorang laki-laki sambil bertawaf di Kakbah dan para sahabat berkata bahwa itu adalah Dajjal, maka para ulama menjelaskan bahwa larangan Dajjal untuk memasuki kota Makkah dan Madinah hanya berlaku ketika Dajjal keluar di akhir zaman. Sementara sosok yang terlihat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bentuk penampakan atau gambaran tentangnya, bukan kemunculan Dajjal yang asli pada saat itu.
[Bersambung]
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/111814-tanda-kiamat-besar-munculnya-al-masih-ad-dajjal-bag-2.html