إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ
Tanda Kiamat Besar: Munculnya Al-Masih Ad-Dajjal (Bag. 1)
10 jam lalu
Fitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar kiamat yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama bahkan menyebutnya sebagai fitnah terbesar sejak Allah menciptakan manusia, karena dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal fitnah ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan iman sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.
Makna kata “Al-Masih”
Abu Abdillah al-Qurthubi menyebutkan ada dua puluh tiga pendapat terkait asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus bahkan menyebutkan hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang benar dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.
Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.
Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, ia menyesatkan manusia melalui berbagai keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membuat bumi kembali hijau, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya.
Makna kata “Ad-Dajjal”
Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, yakni seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri bermakna menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, atau dipalsukan.
Oleh karena itu, ad-Dajjal berarti pendusta besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berdusta dan menyesatkan.
Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab memiliki hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal kini telah menjadi nama khas bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian karena ia menutupi kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekufurannya dengan berbagai tipu daya dan penyesatan, atau karena ia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.
Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat
Sifat-sifat Dajjal
Dajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia memiliki banyak ciri fisik yang dijelaskan dalam berbagai hadis agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap bahaya fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beriman tidak akan tertipu ketika ia muncul, karena mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak akan tertipu olehnya kecuali orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.
Di antara sifat-sifatnya adalah ia adalah seorang laki-laki, masih muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” atau “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara ciri lainnya, ia tidak memiliki keturunan.
Berikut beberapa hadis sahih yang menyebutkan sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur, aku melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau melihat ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian melihat Dajjal). Beliau menggambarkannya,
فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ
“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berambut keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,
هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ
“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” yakni seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,
“Ia seorang pemuda, berambut keriting, matanya menonjol. Seakan-akan aku melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dalam hadis ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya cenderung gelap, rambutnya keriting, dan ia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, hadis shahih)
Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا
“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka ia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)
Dalam hadis Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)
Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga hal ini tampak menimbulkan persoalan.
Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.
Sementara Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, karena seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang benar-benar hilang penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Umar dan ia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak hilang sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya memiliki cacat: satu karena hilang total dan yang lain karena rusak.
An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.
Dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ
“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan,
ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ
“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)
Tulisan itu benar-benar nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa melihat tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, atau jika seorang yang buta huruf mampu membacanya. Hal itu karena kemampuan melihat adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan bagaimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa melihat tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun ia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun ia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan bagaimana seorang mukmin mampu melihat tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah akan menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi kemampuan melihat tanpa proses belajar.
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar dan dianut para ulama yang teliti adalah bahwa tulisan itu benar-benar nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam hal ini.”
Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam hadis Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam hadis itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,
فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا
“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami melihat sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan ia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)
Dalam hadis ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada makhluk sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)
Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?
Tentang bahwa Dajjal tidak memiliki keturunan, terdapat dalam hadis Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)
[Bersambung]
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/111447-tanda-kiamat-besar-munculnya-al-masih-ad-dajjal-bag-1.html