Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 32-44 (Bag. 2): Cara Mukmin Berargumen Teologi Tentang Penciptaan Kepada Kafir
Luasnya samudera hikmah yang Allah ﷻ bentangkan dalam dialog seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membuat kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berharga yang kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berdakwah dengan metode terbaik. Salah satu yang disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berdialog dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125)”
Dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyebutkan ada tiga metode dakwah yang dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:
- Menyeru dengan hikmah, yakni argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunnah
- Menyeru dengan mauizhah hasanah, yakni pelajaran dan nasihat yang baik serta lemah-lembut
- Berdebat dalam konteks beradu argumen
Maka, ketiganya memiliki landasan yang sama, yakni membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara fundamental seperti aspek ketuhanan atau teologi.
Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan yang lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari dialog dalam surat Al-Kahfi yang sedang kita pelajari.
Cara Mukmin Berargumen Teologi Tentang Penciptaan Kepada Kafir
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS. Al-Kahf: 37)
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya yang mukmin berdialog dengannya (pemilik kebun kafir). Momen itu diisi dengan dialog keimanan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman yang mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah yang terinjak-injak, kemudian dari setetes air yang hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang yang terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti ia merasa terhina. Maka, apa yang perlu dibanggakan dari asal penciptaan kita ini?
Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di zaman dahulu dengan segala keterbatasan ilmunya, bagaimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari benda ataupun cairan yang tiada berdaya? Tentu ini akan membuat orang takjub kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, karena kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.
لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا
“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahf: 38)
Pada kalimat ini, teman yang mukmin juga memiliki ketegasan perbedaan prinsip yang dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama yang ditekankan. Adapun yang kedua adalah kunci yang membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya yang mukmin. Hal itu berupa keimanan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepadaNya.
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahf: 39)
Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh teman yang mukmin tersebut. Argumentasi memiliki formula nalar yang kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan harta dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melebihi temannya yang mukmin, mengapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepadaNya? Bukankah ia lebih berhak dibandingkan temannya yang mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.
Dalam ayat ini dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunnahan bagi orang yang memiliki harta yang membuatnya takjub untuk berkata,
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”
Muslim Harus Pede Berdakwah Dalam Tongkrongan Pertemanan
Pelajaran lain yang dapat kita petik adalah mukmin harus pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan “kenapa engkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari syariat Islam.
Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong bersama temannya. Ia bertujuan sembari menjaga teman tongkrongannya, ia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini yang terwarnai. Ia tak mampu membantah dengan tegas kebatilan yang terjadi, atau menyeru kepada kebaikan yang wajib.
Sebagian berdalih ini adalah fikih dakwah, yakni ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah alasan yang keliru. Justru nyatanya yang bertahap itu adalah cara penyampaiannya, adapun substansi yang disampaikan serta batasan syariat tidak pernah berubah. Melaksanakan shalat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, bahkan pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surat Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap yang diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara yang tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.
Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah hak terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak pantas bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda zaman sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, atau mendiskusikan zodiak. Meskipun hal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi jurang yang sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang hal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,
ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (QS. At-Taubah: 65-66)
Termasuk pula segala becandaan yang berpotensi kepada dicelanya agama dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan yang datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)
Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu punya bekal ilmu. Bekal ilmu yang meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim memiliki amanah menyampaikan agama ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim memiliki objek dakwah yang sangat besar, yakni teman sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa ingin tahunya, cepat nalarnya, serta semangat membagikan apa yang dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan benar dan pede melakukannya, maka betapa banyak pintu kebaikan yang akan terbuka.
Mendoakan Keburukan Bagi Mereka yang Terlampau Zalim
Setelah melihat kesombongan si pemilik kebun kafir ini, teman yang mukmin ini pun berdoa dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.
فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا
“Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin;” (QS. Al-Kahf: 40)
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا
“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahf: 41)
Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan salaf bahwa yang dimaksud dengan doa itu adalah azab dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah yang licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam azab yang dimaksudkan, termasuk hama belalang yang banyak datang, atau perhitungan ketat terhadapnya yang amat luar biasa menyiksa.
Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya yang mukmin berdoa agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat harta berupa kebun tersebut. Maksudnya menurut Al-Qurthubi adalah balasan di akhirat. Sebagian lain menyebutkan yakni balasan di dunia pula. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,
أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال
“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa iman dan Islam —meskipun harta dan anaknya sedikit— itulah nikmat yang sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya akan ada hukuman dan siksa.”
Dalam potongan ini juga tersirat metode berdialog antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ Zat yang disembahnya adalah satu-satunya pemberi rizki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa yang kufur dengan Allah ﷻ, ia akan menghadapi bencana dalam kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat.
Dan sikap ini pun benar serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firmanNya selanjutnya,
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.`” (QS. Al-Kahf: 42)
Maha benar Allah ﷻ atas segala firmanNya. Allah ﷻ benar-benar kabulkan doa mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada arti penyesalan karena ia selalu datang terlambat. Semua harta benda kepemilikannya yang selalu ia banggakan kini lenyap diazab.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari momen-momen pasca dialog tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjangnya umur yang penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah pada bagian ketiga kita akan menyimak hikmah-hikmah lainnya.
[BERSAMBUNG]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/111443-tafsir-surah-al-kahfi-ayat-32-44-bag-2.html