Beranda | Artikel
Nikmat Persatuan Hakiki
10 jam lalu

Nikmat persatuan dan hadiahnya

Allah ﷻ jadikan persatuan sebagai suatu nikmat besar dan mengandung manfaat yang luar biasa. Allah ﷻ berfirman dalam firman-Nya,

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)

Maksud hablullah atau tali agama Allah ﷻ ialah janji dan jaminan Allah ﷻ Sebagaimana firman Allah ﷻ,

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang dengan tali agama Allah dan tali perjanjian dengan manusia.” (QS. Ali Imran: 112)

Ayat ini menunjukkan bahwa dengan persatuan, kita akan mendapatkan nikmat kemuliaan. Sebagaimana pemahaman kebalikan dari kehinaan yang didapat ketika seseorang tidak bersatu padu di atas jalan Allah ﷻ.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya banyak sekali menukilkan seruan ayat dan hadis untuk bersatu. Beliau pun mengingatkan,

وَقَدْ ضُمِنتْ لَهُمُ العِصْمةُ، عِنْدَ اتِّفَاقِهِمْ، مِنَ الْخَطَأِ، كَمَا وَرَدَتْ بِذَلِكَ الْأَحَادِيثُ الْمُتَعَدِّدَةُ أَيْضًا

“Mereka dijamin tidak akan salah jika mereka sepakat, sebagaimana telah disampaikan dalam banyak keterangan Nabi ﷺ.”

Kemudian beliau mengaitkan dengan hadis perpecahan umat menjadi 73 golongan. Beliau kembali menegaskan, satu yang selamat sepenuhnya dari ancaman neraka ialah mereka yang meniti jalan Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sungguh perpecahan umat menjadi perhatian besar Nabi ﷺ di penghujung hayatnya.

Allah ﷻ mengingatkan bahwa persaudaraan yang terjadi di antara Muhajirin dan Anshar adalah nikmat yang begitu besar. Itulah yang membuat mereka menjadi kuat, sebab saling dukung satu sama lain. Momen persatuan itu juga menyelamatkan mereka dari jurang api neraka, karena godaan kekafiran di tengah beratnya ekonomi dan penghidupan mereka. Namun, Allah ﷻ jadikan di hati mereka persatuan di atas iman.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perpecahan yang dimaksudkan adalah akibat dari mengikuti hawa nafsu masing-masing, sehingga tujuannya berbeda. Adapun perbedaan pendapat dalam perkara mendetail agama, tidaklah masalah. Dan siapapun yang berbeda dalam masalah ini tetap bisa bersatu dan berangkulan sebagaimana para sahabat. Simak keterangan beliau berikut ini,

وَلَيْسَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الِاخْتِلَافِ فِي الْفُرُوعِ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ اخْتِلَافًا إِذِ الِاخْتِلَافُ مَا يَتَعَذَّرُ مَعَهُ الِائْتِلَافُ وَالْجَمْعُ

“Tidak ada bukti dalam hal ini yang melarang perbedaan pendapat mengenai masalah cabang, karena itu bukanlah perselisihan. Karena perselisihan ialah yang membuat kesepakatan dan perdamaian menjadi tidak mungkin.”

وَأَمَّا حُكْمُ مَسَائِلِ الِاجْتِهَادِ فَإِنَّ الِاخْتِلَافَ فِيهَا بِسَبَبِ اسْتِخْرَاجِ الْفَرَائِضِ وَدَقَائِقِ مَعَانِي الشَّرْعِ، وَمَا زَالَتِ الصَّحَابَةُ يَخْتَلِفُونَ فِي أَحْكَامِ الْحَوَادِثِ، وَهُمْ مَعَ ذَلِكَ مُتَآلِفُونَ

“Adapun hukum mengenai masalah ijtihad (penalaran independen), perbedaan pendapat di dalamnya disebabkan oleh penentuan kewajiban dan makna terperinci dari hukum Islam. Para sahabat terus berbeda pendapat dalam hukum mengenai kasus-kasus baru, namun mereka tetap harmonis (bersatu).” (Tafsir Al-Qurthubi)

Harga persatuan senilai dunia dan seisinya

Allah ﷻ berfirman,

..هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 62-63)

Pada ayat ini, Allah ﷻ mengingatkan bahwa kekuatan kaum muslimin menjadi wasilah (sarana) pertolongan Allah ﷻ untuk menguatkan Nabi ﷺ. Tidak hanya itu, Allah ﷻ yang mempersatukan kaum muslimin, dan dengan sebab persatuan itulah, pendukung Nabi ﷺ menjadi kuat.

Ibnu Katsir rahimahullah ingatkan bahwa telah terjadi perang berkepanjangan antargenerasi Bani Aus dan Khazraj. Harga peperangan ini begitu mahal, seluruh harta, darah dan dendam itu telah bertumpuk tak terbayarkan. Hadiah apa yang dapat meluluhkan keduanya? Tidak ada materi dunia yang dapat melegakan kebencian amat dahsyat itu melainkan cahaya iman yang Allah ﷻ anugerahkan kepada kedua kelompok ini.

جَمَعَهَا عَلَى الْإِيمَانِ بِكَ، وَعَلَى طَاعَتِكَ وَمُنَاصَرَتِكَ وَمُوَازَرَتِكَ

“Allah ﷻ mengumpulkan mereka dalam mengimanimu, menaatimu, menolongmu, dan membantumu, (wahai Muhammad).” (Tafsir Ibnu Katsir)

Itulah makna dari penegasan Allah ﷻ,

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka.”

Pantas sekali Allah ﷻ menegaskan diri-Nya adalah Zat Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana di ayat ini.

Itulah harga persatuan! Harganya bukan satu dua permata yang kita korbankan untuk melembutkan hati berbagai pihak, tetapi nilainya lebih dari seluruh isi dunia. Harga persatuan adalah semahal hidayah dari Allah ﷻ.

Baca juga: Sebab-Sebab Menuju Persatuan Umat

Manusia tidak mampu menyatukan hati kecuali atas kehendak Allah ﷻ

Ingat sekali lagi! Allah ﷻ yang mempersatukan, bukan manusia. Allah ﷻ berfirman,

هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ

“Dialah yang memperkuatmu dengan kuasa-Nya dan dengan orang-orang beriman dan mempersatukan hati mereka. Walaupun engkau menginfakkan seluruh kekayaan yang ada di bumi, tidaklah engkau dapat menyatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah ﷻ yang menyatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 62-63)

Allah ﷻ seakan-akan meniadakan andil manusia dalam mempersatukan hati manusia. Hal ini karena kompleksitas dan sulitnya usaha mempersatukan hati manusia. Mengorganisir banyak orang sangatlah sulit; banyak pendapat ahli, tetapi tak satupun memberikan ilmu pasti. Sedangkan Islam mengemasnya dengan elegan, bahwa ini semua adalah taufik dari Allah ﷻ. Manusia hanya mampu mengusahakan seadanya, tetapi yang dapat mendatangkan persatuan hanya dengan cara memohon kepada Allah ﷻ untuk ditanamkan ketakwaan penuh di hati.

Relevansi ayat persatuan dengan isu kontemporer

Tulisan ini menjadi bantahan bagi para penebar syubhat dari kalangan liberal bahwa tidak ada kewajiban untuk menjadikan manusia satu agama. Manusia boleh saja menjadi muslim, tetapi juga boleh menjadi penganut agama A, B, C. Karena Allah ﷻ memang menciptakan manusia beragam, jadi tidak boleh mengajak orang untuk menganut satu agama saja. Termasuk pula mentoleransi penyimpangan seperti LGBT, dengan alasan bahwa Allah ﷻ menciptakan manusia beragam.

Jelaslah bahwasanya keberagaman adalah takdir penciptaan, sedangkan persatuan adalah tujuan penciptaan. Persatuan yang dituntut pun bukan sembarang, melainkan persatuan di atas agama yang benar, yakni Islam.

Begitupula ini menjadi bantahan bagi kelompok yang menyerukan persatuan Islam di atas berbagai kesesatan kelompok menyimpang lainnya. Syekh Saad Asy-Syal menjelaskan,

وإذا علم حقيقة هذا النوع من الاختلاف؛ عُلم أن دعاوى «التقريب» و«الاجتماع» مع وجود هذا النوع من الاختلاف دعاوى باطلة

“Apabila hakikat jenis perselisihan ini telah diketahui, maka diketahui pula bahwa seruan at-taqrib (pendekatan) dan al-ijtima’ (persatuan) tatkala adanya perselisihan (dalam asas manhaj) adalah seruan yang batil.”

Mengapa disebut seruan batil?

لأن مضمونها جمع بين المتناقضات، ولو سموها «تعددية» و«حرية» و «فتح باب الاجتهاد، وغيرها من الشعارات؛

“Karena isi seruannya itu mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Meskipun ia dinamakan “pluralitas”, “kebebasan”, dan “membuka pintu ijtihad”, atau slogan lainnya.”

Beliau melanjutkan dengan tegas,

فحقيقة هذا النوع توجب نبذ البدع والضلالات والتمسك بالسنة؛ لأنها النجاة في مثل هذا النوع من الاختلاف

“Maka hakikatnya, jenis perselisihan (pada asas manhaj ini) mengharuskan untuk memberantas bidah dan kesesatan dan berpegang teguh dengan sunah. Karena tindakan itu adalah keselamatan dalam jenis perselisihan ini.” (Adab Ikhtilaf, hal. 103)

Jadi, Syekh Saad Asy-Syal ingin mengatakan bahwa jika perbedaannya terletak pada fundamen akidah atau perkara yang sudah jelas maknanya dari Al-Quran, As-Sunah, dan ijmak ulama, maka yang dituntut adalah menghilangkan kesesatannya, bukan justru bermimpi bersatu di wadah yang sama.

Realitanya, cita-cita mereka yang ingin bersatu lintas manhaj ini tak tercapai. Para penyimpang ini pun saling bertembung dan berbantah satu sama lain. Akan tetapi, di momen tertentu, mereka punya musuh bersama, yakni para salafiyin yang mengajak kaum muslimin kepada cara beragama kaum salaf. Bahkan mereka berkumpul dalam muktamar hanya untuk menyimpulkan pandangan demikian. Sayangnya, muktamar itu pun tak berhasil membawa kedamaian di antara mereka sendiri.

Oleh karena itu, ingatlah bahwa persatuan yang hakiki ialah persatuan di atas jalan para salaf shalih. Model persatuan inilah yang disebutkan Allah ﷻ sebagai nikmat yang dahsyat. Bahkan kenikmatan ini tak bisa ditebus dengan pengorbanan harta sepenuh bumi. Karena persatuan itu adalah karunia Allah ﷻ mutlak, manusia tidak bisa mengusahakannya dengan segala cara.

Wallahu a’lam.

Baca juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan Persatuan

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah via tafsir.app dan wahy.

Adab Ikhtilaf Baina Ash-Shahabah, karya Saad bin As-Sayyid Asy-Syal, risalah magister.

Raudhatul Uqala, karya Ibnu Hibban Al-Busthi, cet. Arwiqah.


Artikel asli: https://muslim.or.id/117188-nikmat-persatuan-hakiki.html