Beranda | Artikel
Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 1): Pendiri, Perkembangan, dan Penyebaran
9 jam lalu

Dalam sejarah pemikiran Islam, tidak sedikit aliran teologi yang muncul sebagai respons terhadap pergolakan intelektual di masanya. Sebagian dari aliran itu berkembang menjadi arus besar yang mempengaruhi cara beragama banyak orang hingga hari ini. Maturidiyyah adalah salah satunya. Aliran ini sering disebut beriringan dengan Asy’ariyyah, bahkan keduanya kerap diklaim sebagai representasi Ahlussunnah oleh para pengikutnya. Namun, bagi penuntut ilmu yang ingin memahami duduk perkara secara jernih, penting untuk menelusuri terlebih dahulu: siapa pendiri aliran ini, bagaimana ia muncul, apa saja pokok-pokok keyakinannya, dan mengapa ia bisa tersebar begitu luas.

Pengertian Maturidiyyah dan penisbatan namanya

Maturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi. Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan mendefinisikan,

الماتريدية: فرقة كلامية بدعية، تنسب إلى أبي منصور الماتريدي، قامت على استخدام البراهين والدلائل العقلية والكلامية في محاججة خصومها، من المعتزلة والجهمية وغيرهم، لإثبات حقائق الدين والعقيدة الإسلامية

Maturidiyyah adalah aliran kalam (filsafat) yang bid’ah, dinisbatkan kepada Abu Manshur al-Maturidi, yang dibangun di atas penggunaan argumen rasional dan kalam dalam berdebat melawan lawan-lawannya dari kalangan Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan lainnya, dengan tujuan menetapkan kebenaran agama dan akidah Islam.[1]

Nama “Maturidiyyah” diambil langsung dari nama tokoh pendirinya. Meskipun al-Maturidi berasal dari daerah Maturid di wilayah Samarkand, para ulama sepakat bahwa aliran ini dinisbatkan kepadanya sebagai sosok yang merumuskan pokok-pokok teologisnya.

Abu Manshur al-Maturidi: Nasab dan kehidupannya

Nama lengkapnya adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud bin Muhammad al-Maturidi as-Samarqandi al-Hanafi. Sumber-sumber klasik tidak menyebutkan dengan pasti tahun kelahirannya. Sebagian peneliti kontemporer menyebut sekitar tahun 238 H, dan sebagian lainnya menyebut 258 H. Adapun wafatnya, para penulis biografi sepakat bahwa ia wafat pada tahun 333 H. [2]

Al-Maturidi menimba ilmu fikih Hanafi dan ilmu kalam dari para ulama di masanya. Di antaranya adalah Nashr bin Yahya al-Balkhi (w. 268 H), Abu Nashr al-‘Iyadhi, Abu Bakr Ahmad al-Juzjani, dan Abu Sulaiman al-Juzjani. Dari para guru inilah ia membentuk corak pemikirannya, hingga ia menjadi salah satu tokoh besar di kalangan Hanafiyyah. [3]

Satu hal yang perlu dicatat tentang al-Maturidi adalah latar belakang keilmuannya. Ia dikenal sebagai seorang yang banyak berdebat dan mendalami ilmu kalam, namun tidak memiliki kedalaman dalam bidang Sunah dan atsar. Sebagaimana disebutkan,

كان معدوداً في فقهاء الحنفية، وكان صاحب جدل وكلام ولم يكن له دراية بالسنن والآثار

“Ia tergolong dalam jajaran fuqaha Hanafiyyah, ia dikenal sebagai ahli perdebatan dan kalam, namun tidak memiliki pengetahuan mendalam dalam bidang Sunah dan atsar.[4]

Keterangan ini penting untuk dipahami. Latar belakang keilmuan seorang tokoh sangat mempengaruhi corak pemikiran yang ia hasilkan. Ketika seseorang lebih banyak berkutat dengan ilmu kalam dibanding hadis dan atsar, maka wajar jika produk pemikirannya lebih banyak dibangun di atas kerangka rasional ketimbang kerangka naqliy.

Hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyah

Satu hal yang jarang diperhatikan adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah sebenarnya bukan dua aliran yang muncul terpisah tanpa akar yang sama. Keduanya bertemu di satu titik, yaitu aliran Kullabiyyah. Ketika menjelaskan posisi al-Maturidi dalam peta aliran kalam, Ibnu Taimiyah menyebutkan,

وقد نهج منهجاً كلامياً في تقرير العقيدة يشابه إلى حد كبير منهج متأخري الأشاعرة، وعداده في أهل الكلام من الصفاتية من أمثال ابن كلاب وأبي الحسن الأشعري وأمثالهما. وقد تابع الماتريدي ابن كلاب في مسائل متعددة من مسائل الصفات وما يتعلق بها

“Ia menempuh metode kalam dalam menetapkan akidah yang sangat menyerupai metode mutaakhkhirin (generasi belakangan) Asy’ariyyah. Ia tergolong dalam ahli kalam dari kalangan Shifatiyyah seperti Ibn Kullab, Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan yang semisalnya. Al-Maturidi mengikuti Ibn Kullab dalam sejumlah masalah sifat dan hal-hal yang berkaitan dengannya.” [5]

Bahkan akar hubungan ini bisa ditelusuri lebih jauh. Al-Maturidi bukanlah orang pertama dari kalangan Hanafiyyah yang terpengaruh ilmu kalam. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri telah mengingatkan hal ini sejak masa yang lebih awal. Beliau berkata,

وتبعه على قوله رجال من أصحاب أبي حنيفة وأصحاب عمرو بن عبيد بالبصرة

“Telah mengikuti perkataannya (Jahm) sekelompok orang dari kalangan pengikut Abu Hanifah dan pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid di Bashrah.” [6]

Maka tidaklah mengherankan jika al-Maturidi, yang berasal dari lingkungan Hanafiyyah di wilayah Transoksiana, juga terpengaruh oleh metode kalam yang sudah lebih dahulu berkembang di kalangan sebagian Hanafiyyah. Disebutkan,

فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب

Al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun ia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibn Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.[7]

Kedekatan inilah yang membuat sebagian tokoh menyebut Maturidiyyah sebagai “saudara kembar” Asy’ariyyah. Disebutkan,

تعد الماتريدية شقيقة الأشعرية، وذلك لما بينهما من الائتلاف والاتفاق حتى لكأنهما فرقة واحدة، ويصعب التفريق بينهما. ولذلك يصرح كل من الأشاعرة والماتريدية بأن كلاً من أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي هما إماما أهل السنة على حد تعبيرهم

“Maturidiyyah dianggap sebagai saudara kembar Asy’ariyyah, karena begitu banyaknya keselarasan dan kesepakatan di antara keduanya, seolah-olah keduanya adalah satu aliran dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, baik Asy’ariyyah maupun Maturidiyyah sama-sama menyatakan bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi adalah dua imam Ahlussunnah (menurut istilah mereka).” [8]

Tentu, klaim ini perlu ditimbang. Kalau tolak ukurnya adalah manhaj salaf yang murni, berpegang pada Al-Qur’an, Sunah, dan pemahaman sahabat tanpa mencampurnya dengan ilmu kalam, maka kedua aliran ini punya jarak yang cukup jelas dari manhaj tersebut.

Kemunculan dan perkembangan Maturidiyyah

Maturidiyyah mulai muncul pada penghujung abad ketiga Hijriah. Al-Maturidi dan al-Asy’ari hidup pada masa yang berdekatan, dan keduanya sama-sama membantah Mu’tazilah, namun dengan metode yang berbeda, meskipun banyak bertemu pada kesimpulan yang sama. Sumber-sumber sejarah tidak mencatat adanya pertemuan langsung, surat-menyurat, atau saling membaca karya di antara keduanya. [9]

Sepeninggal al-Maturidi, murid-muridnya bekerja keras menyebarkan pemikiran gurunya. Mereka menyusun berbagai karya tulis yang mengikuti mazhab Abu Hanifah dalam fikih, dan di saat yang sama membawa akidah Maturidiyyah. Inilah yang menjadikan Maturidiyyah menyebar luas, terutama di wilayah Samarkand dan sekitarnya. [10]

Di antara tokoh-tokoh penting Maturidiyyah setelah pendirinya adalah Abu al-Mu’in an-Nasafi (438-508 H), yaitu Maimun bin Muhammad bin Mu’tamad an-Nasafi al-Makhuli. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar Maturidiyyah dan termasuk orang yang paling berjasa dalam membela dan menyebarkan mazhab al-Maturidi. Kedudukannya di kalangan Maturidiyyah serupa dengan kedudukan al-Baqillani dan al-Ghazali di kalangan Asy’ariyyah. Di antara karya pentingnya adalah Tabshirat al-Adillah, yang merupakan rujukan terluas dalam akidah Maturidiyyah setelah kitab at-Tauhid karya al-Maturidi sendiri. [11]

Tokoh penting lainnya adalah Najm ad-Din ‘Umar an-Nasafi (462-537 H). Di antara karya-karyanya yang paling masyhur adalah al-‘Aqaa’id an-Nasafiyyah, sebuah matan ringkas dalam akidah Maturidiyyah yang merupakan ringkasan dari Tabshirat al-Adillah karya Abu al-Mu’in an-Nasafi. Matan ini kemudian menjadi salah satu matan akidah yang paling banyak disyarah dan dikaji di kalangan Maturidiyyah. [12]

Setelah itu, tradisi penulisan di kalangan Maturidiyyah terus berkembang. Muncul berbagai matan, syarah, syarah atas syarah, dan hasyiyah atas syarah. Pola ini berlangsung selama berabad-abad hingga akidah Maturidiyyah memiliki khazanah literatur kalam yang sangat besar.

Wilayah penyebaran Maturidiyyah dan Asy’ariyyah

Satu hal yang menarik dari sejarah penyebaran kedua aliran ini adalah bahwa Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hampir tidak saling berebut wilayah. Masing-masing menguasai kawasan tertentu tanpa banyak persaingan satu sama lain. Disebutkan,

فالماتريدية انتشرت بين الأحناف الذين كانوا متواجدين في شرق العالم الإسلامي وشماله فقل أن تجد حنفياً على عقيدة الأشاعرة … بينما نجد الأشعرية قد انتشرت بين الشافعية والمالكية وهم اليوم يتواجدون في وسط وغرب وجنوب وجنوب شرق العالم الإسلامي، فجل الشافعية والمالكية على الأشعرية

“Maturidiyyah tersebar di kalangan Hanafiyyah yang berada di timur dan utara dunia Islam. Jarang ditemukan seorang Hanafi yang berakidah Asy’ariyyah. Sementara itu, Asy’ariyyah tersebar di kalangan Syafi’iyyah dan Malikiyyah yang berada di tengah, barat, selatan, dan tenggara dunia Islam. Kebanyakan Syafi’iyyah dan Malikiyyah berpegang pada akidah Asy’ariyyah.” [13]

Pola ini menunjukkan bahwa penyebaran kedua aliran ini sangat terkait dengan mazhab fikih. Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah, dan Asy’ariyyah berjalan bersama Syafi’iyyah dan Malikiyyah.

Sebab-sebab penyebaran Maturidiyyah

Maturidiyyah tersebar luas bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh.

Pertama: Dukungan kekuasaan politik

Ini adalah sebab yang paling utama. Ketika para sultan dan penguasa memeluk mazhab Hanafi, dengan sendirinya mazhab Hanafi tersebar di banyak wilayah. Dan karena Maturidiyyah berjalan bersama Hanafiyyah dalam fikih, maka dengan tersebarnya Hanafiyyah, tersebar pula Maturidiyyah.

Hal ini sangat tampak pada masa Daulah ‘Utsmaniyyah. Para qadhi, mufti, khatib masjid, dan pimpinan madrasah pada umumnya bermazhab Hanafi dalam fikih dan Maturidi dalam akidah. Semakin luas wilayah kekuasaan ‘Utsmaniyyah, semakin luas pula penyebaran akidah Maturidiyyah. [14]

Kedua: Jaringan madrasah dan pendidikan

Madrasah-madrasah Maturidiyyah memainkan peran besar dalam menyebarkan akidah mereka. Termasuk di dalamnya madrasah-madrasah di wilayah Asia Selatan seperti Madrasah Deobandiyyah dan Madrasah Bareilwiyyah yang turut menjadi saluran penyebaran akidah Maturidiyyah. [15]

Ketiga: Aktivitas penulisan

Maturidiyyah sangat aktif dalam menyusun karya-karya ilmu kalam. Buku-buku mereka tersebar luas, dikaji, diajarkan, dan dijadikan kurikulum di banyak lembaga pendidikan. [16]

Keempat: Faktor-faktor pendukung lainnya

Di samping tiga faktor utama di atas, ada beberapa hal lain yang secara kumulatif turut memperkuat penyebaran Maturidiyyah. Di antaranya: mereka menampilkan diri sebagai Ahlussunnah, menuduh ahlul hadis dengan tajsim dan tasybih, menyandarkan diri kepada para imam besar terutama Abu Hanifah, banyaknya kebenaran yang ada pada mereka dibanding kelompok bid’ah lainnya, aktifnya mereka membantah Jahmiyyah dan Mu’tazilah, serta lemahnya sebagian Ahlussunnah dalam menyebarkan akidah salaf dan membantah yang menyimpang. [17]

Penutup

Maturidiyyah adalah sebuah aliran kalam yang lahir di penghujung abad ketiga Hijriah di tangan Abu Manshur al-Maturidi. Ia muncul dalam konteks perdebatan dengan Mu’tazilah, namun metode yang dipakai bukanlah metode para imam salaf, melainkan metode ilmu kalam yang berakar dari tradisi Kullabiyyah. Oleh karena itu, meskipun Maturidiyyah membantah Mu’tazilah, ia tetap memiliki jarak dari manhaj salaf dalam banyak persoalan akidah.

Penyebarannya yang luas tidak bisa dilepaskan dari faktor politik, jaringan madrasah, dan tradisi penulisan yang sangat aktif. Ia berjalan beriringan dengan mazhab Hanafi dalam fikih, sehingga di mana Hanafiyyah tumbuh, di situ Maturidiyyah biasanya juga hadir.

Pada tulisan berikutnya, akan dibahas lebih rinci tentang perbedaan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah, serta bagaimana para ulama Ahlussunnah membantah kekeliruan-kekeliruan yang ada pada kedua aliran ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

[Bersambung]

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4.

[2] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4. Lihat juga: Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 209.

[3] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 4-5.

[4] Abdullah bin Yusuf al-Jadi’, al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah, hal. 279.

[5] Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fataawa, juz 7, hlm. 433. Juga: Minhaaj as-Sunnah, 2: 362.

[6] Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah, hal. 103-105.

[7] Dirangkum dari pembahasan hubungan Maturidiyyah dengan Kullabiyyah dan Asy’ariyyah. Lihat bahasan al-Wa’lan serta nukilan dari Ibn Taimiyyah dalam catatan kaki [5] dan [6].

[8] Thaasy Kubra Zaadeh, Miftaah as-Sa’aadah, 2: 151-152.

[9] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5.

[10] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 5-6.

[11] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.

[12] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6.

[13] Imam adz-Dzahabi, al-‘Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, 1: 168-170.

[14] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7. Dengan merujuk kepada: an-Naafi’ al-Kabiir Muqaddimah al-Jaami’ ash-Shaghiir karya Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, hal. 7; ar-Raudhah al-Bahiyyah, hal. 4.

[15] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 6-7.

[16] Dr. Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, al-Maaturidiyyah, hal. 7-8. Dengan merujuk kepada: ‘Aqidah al-Islam wa al-Imam al-Maaturidi, hal. 480.

[17] Dr. Syamsuddin al-Afghani, al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 294-301.

 

Daftar Pustaka

Al-Afghani, Syamsuddin bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. 3 jilid.

Al-Jadi’, Abdullah bin Yusuf. Al-‘Aqidah as-Salafiyyah fi Kalaam Rabb al-Bariyyah.

Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Majmu’ al-Fataawa. Ed. Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim. Madinah: Majma’ al-Malik Fahd li Thibaa’at al-Mushaf asy-Syarif, 1425 H.

Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim. Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah. Maktabah Syamilah.

Imam Ahmad bin Hanbal. Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah. Maktabah Syamilah.

Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.

Thaasy Kubra Zaadeh. Miftaah as-Sa’aadah wa Mishbaah as-Siyaadah. Maktabah Syamilah.


Artikel asli: https://muslim.or.id/115685-mengenal-akidah-maturidiyyah-1.html