Beranda | Artikel
Menjadi Seorang Muslim yang Visioner
10 jam lalu

“Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak—marah, kecewa, atau sekadar kesal—tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak karena pancingan, bukan karena tujuan. Dan di zaman yang serba cepat ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian sulit dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah Ta’ala bahkan menyifati penciptaan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.

Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, atau pilihan-pilihan kecil yang ternyata membawa dampak besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan,

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 20270, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1795)

Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berusaha menyerupai hikmah ilahi dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk berbuat secara ihsan (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala self-help, tetapi menjadi cerminan dari sikap ihsan seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.

Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat ia datang?

Ada fenomena yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan atau tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan akan melakukan banyak hal produktif saat libur tiba—membaca Al-Qur’an, berzikir, membaca buku yang lama tertunda, menulis, belajar keterampilan baru, atau sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu luang itu benar-benar hadir, kita justru kebingungan. “Mau ngapain, ya?” gumam kita di pagi hari sambil memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan.

Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: karena kita tidak punya rencana. Waktu luang yang tidak direncanakan akan dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, ia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah ﷺ bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)

Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu luang adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Waktu luang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak akan muncul begitu saja; harus ditulis, dipikirkan, dan disengaja.

Kiat sederhana melawan distraksi

Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi akan menulis rencana, membuat target, atau sekadar membereskan catatan-catatan yang berserakan di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup WhatsApp ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang “menarik”, atau marketplace mengirimkan diskon yang sulit diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lalu padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu berniat baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.

Di sinilah saya ingin menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah buku notes kecil dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk “produktif” adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan ia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang hilang sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada benda yang sunyi: kertas dan tinta. Tak memiliki notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.

Duduklah bersama buku kecil itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu bentuk khalwah yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk berbuat maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ulama kita terdahulu amat akrab dengan kebiasaan ini. Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, Al-‘Uzlah,

مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشَدَّ تَثْبِيتًا لِلْإِيمَانِ، وَأَنْفَى لِلْمَعْصِيَةِ، وَأَحْيَا لِلْقَلْبِ مِنَ الْعُزْلَةِ وَالتَّفَكُّرِ

“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melebihi ‘uzlah (menyendiri) dan tafakur.” (Al-Khaththabi, Al-‘Uzlah, hal. 44)

Dalam sunyi bersama buku catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan cepat berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kecerdasan buatan.

Dengan buku itu, tuliskan apa saja. Besok akan mengerjakan apa. Pekan ini target apa yang harus dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang harus segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, atau layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur—yang lahir murni dari hati—memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan batin saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti—sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

Orang yang terlalu sibuk menatap layar—hingga melupakan dirinya sendiri—sedang berada dalam bahaya. Buku kecil dan pulpen ini adalah alat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.

Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan

Kebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin akan terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda akan terasa jauh lebih teratur. Saya berbicara dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi—bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang memiliki visi. Ia tahu ke mana ia berjalan, karena ia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan akan dihisab. Maka, ia tidak akan membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.

Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membuat rencana, tetapi hanya sedikit yang mampu menyelesaikannya. Di sinilah buku kecil itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah berhasil dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang sulit digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah ﷺ bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664).

Perhatikan tiga kata kunci dalam hadis ini: ihrish (bersungguh-sungguh), ista’in billah (minta tolong kepada Allah), dan la ta’jiz (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari ihrish. Berdoa agar rencana dimudahkan adalah ista’in billah. Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah bentuk menjauhi ‘ajz (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita ﷺ.

Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, atau buku kecil yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, atau bahkan untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan ia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok—baik hari esok di dunia, maupun hari esok di akhirat yang abadi.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca juga: Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/115524-menjadi-muslim-visioner.html