Merenungi Usia yang Tak Pernah Kembali
Pernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?
Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.
Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)
Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”
Tidak diciptakan sia-sia
Saudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)
Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.
Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?
Allah Ta’ala berfirman,
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)
Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?
Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-Sia
Maut semakin mendekat
Pernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ
“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ
“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)
Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)
Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.
Bekal sebelum datangnya penyesalan
Salah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”
Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.
Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)
Coba kita telaah satu per satu:
1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.
2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.
3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.
Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,
أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟
“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”
Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”
Beliau pun bersabda,
فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ
“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)
Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?
Menjadi orang asing di dunia
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)
Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.
Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.
Nikmat yang sering membunuh sisa usia
Di sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)
Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.
Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.`” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).
Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.
Sebelum nafas sampai di tenggorokan
Saudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.
Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/115420-merenungi-usia-yang-tak-pernah-kembali.html