Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 2): Jauhi Favoritisme
Jauhi favoritisme
Thahir memberikan wasiat,
ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد
“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”
Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.
Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.
Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakan
Utamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.
Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.
Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.
مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلك
Di samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.
Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.
Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala hal
Hendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.
والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادة
Sikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.
Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.
Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.
Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhirat
Janganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.
Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyat
Kunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,
وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليك
Hendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.
Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,
ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ
“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)
Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.
Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/115416-bekal-menjadi-pemimpin-terbaik-bag-2.html