Beranda | Artikel
Awal Fase Dakwah Islam Secara Terang-Terangan (Bag. 1)
9 jam lalu

Fase dakwah secara sembunyi-sembunyi telah berlangsung kurang lebih tiga tahun. Dalam masa tersebut, jumlah orang yang menerima Islam terus bertambah. Lalu, bagaimana Rasulullah ﷺ mulai membawa dakwah ini ke ruang publik? Dalam artikel ini, kita akan membahas awal fase dakwah secara terang-terangan atau jahriyyah.

Perintah memperingatkan kerabat terdekat

Salah satu perintah awal yang berkaitan dengan dakwah secara terang-terangan adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 214)

Setelah ayat tersebut turun, Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Shafa kemudian menyeru,

يَا صَبَاحَاهْ!

“Wahai kaumku, waspadalah terhadap bahaya yang mengancam!”

Kabilah-kabilah Quraisy pun berkumpul. Rasulullah ﷺ mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengimani kerasulan beliau, dan mengimani hari akhir.

Imam al-Bukhari meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa tatkala ayat tersebut turun, Rasulullah naik ke Bukit Shafa, kemudian memanggil,

يَا بَنِي فِهْرٍ! يَا بَنِي عَدِيٍّ

“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi!” dan kabilah-kabilah Quraisy lainnya hingga mereka berkumpul. Bahkan, seseorang yang tidak dapat hadir sendiri mengutus orang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hadir pula Abu Lahab ketika itu. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟

“Bagaimana menurut kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab,

نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا

“Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran.”

Rasulullah pun bersabda,

فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang berat.”

Abu Lahab lalu merespon, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah firman Allah Ta’ala,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,” hingga akhir surah.

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa tatkala surah Asy-Syu’ara’ ayat 214 turun, Rasulullah ﷺ menyeru kaum Quraisy secara umum, kemudian menyebut beberapa keluarga dan kerabat secara khusus. Beliau bersabda,

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا مَعْشَرَ بَنِي كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا

“Wahai seluruh kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk melindungi kalian dari azab Allah. Hanya saja, kalian memiliki hubungan kekerabatan denganku yang akan tetap aku sambung sebagaimana mestinya.”

Baca juga: Dakwah Para Nabi dan Rasul

Pertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirah

Sebagian riwayat sirah juga menyebutkan bahwa setelah turunnya surah Asy-Syu’ara’ ayat 214, Rasulullah ﷺ mengundang Bani Hasyim. Sejumlah orang dari Bani al-Muththalib juga turut hadir. Dalam riwayat tersebut, dinukil bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan,

إِنَّ الرَّائِدَ لَا يَكْذِبُ أَهْلَهُ، وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً، وَإِلَى النَّاسِ عَامَّةً، وَاللَّهِ لَتَمُوتُنَّ كَمَا تَنَامُونَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُونَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُونَ، وَإِنَّهَا الْجَنَّةُ أَبَدًا أَوِ النَّارُ أَبَدًا.

“Sesungguhnya seorang pengintai tidak akan berdusta kepada keluarganya. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada seluruh manusia secara umum. Demi Allah, sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur, lalu kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun. Kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian. Setelah itu, yang ada hanyalah surga untuk selama-lamanya atau neraka untuk selama-lamanya.”

Abu Thalib kemudian berkata, “Betapa senangnya kami dapat membantumu. Kami menerima nasihatmu dan sangat membenarkan perkataanmu. Inilah keluarga ayahmu yang telah berkumpul. Aku hanyalah salah seorang di antara mereka, tetapi akulah yang paling cepat mendukung apa yang engkau sukai. Maka teruskanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu. Hanya saja, jiwaku tidak sanggup meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib.”

Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini benar-benar suatu keburukan. Cegahlah dia sebelum orang lain bertindak terhadap kalian.”

Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kami akan terus melindunginya selama kami masih hidup.”

Rincian pidato dan dialog dalam riwayat tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari Nabi ﷺ. Meskipun demikian, pokok peringatan beliau kepada kerabat terdekat telah ditetapkan dalam hadis sahih al-Bukhari dan Muslim.

Penegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbuka

Dalam fase dakwah secara terang-terangan tersebut, Allah juga menegaskan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kebenaran secara terbuka dan tidak menghiraukan penentangan kaum musyrikin. Allah Ta’ala berfirman,

فَاصْدَعْ بِما تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala sesuatu yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mulai membongkar berbagai kebatilan kesyirikan setelah turunnya ayat tersebut. Akibatnya, kemarahan dan penolakan merebak di tengah masyarakat Makkah. Kaum Quraisy bangkit untuk bersiap memadamkan dakwah Rasulullah ﷺ lantaran khawatir tradisi dan warisan nenek moyang mereka akan hancur.

Menurut al-Mubarakfuri, kaum Quraisy menyadari besarnya konsekuensi dakwah tauhid. Mengimani bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, membenarkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, dan beriman kepada hari akhir berarti tunduk sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak lagi bebas bertindak semaunya terhadap diri, harta, maupun orang lain. Dakwah tersebut juga mengancam kekuasaan dan kebanggaan sosial yang selama ini menopang kedudukan mereka di tengah bangsa Arab. Selain itu, mereka harus meninggalkan kezaliman terhadap masyarakat lemah dan tidak lagi dapat mendahulukan keinginan pribadi di atas kehendak Allah dan Rasul-Nya.

Jiwa mereka menolak menerima keadaan yang dianggap “menghinakan” itu. Penolakan tersebut bukanlah demi menjaga kemuliaan ataupun kebaikan, tetapi sebagaimana firman Allah Ta’ala,

بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسانُ لِيَفْجُرَ أَمامَهُ

“Bahkan manusia hendak terus berbuat maksiat pada masa yang akan datang.” (QS. Al-Qiyamah: 5)

Menurut al-Mubarakfuri, Quraisy kebingungan menghadapi seorang laki-laki yang jujur dan terpercaya, teladan tertinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan akhlak. Sepanjang sejarah kaum dan nenek moyang mereka, tidak pernah mereka mengenal seseorang yang sebanding dengan Rasulullah  ﷺ dalam kejujuran dan kemuliaan akhlak.

Setelah mempertimbangkan berbagai cara, akhirnya kaum musyrikin Quraisy memutuskan untuk mendatangi Abu Thalib. Mereka berharap paman Rasulullah ﷺ itu bersedia menghentikan dakwah keponakannya yang semakin meluas.

Bagaimana tanggapan Abu Thalib terhadap tuntutan kaum Quraisy? Insyaallah, kisahnya akan dibahas dalam artikel selanjutnya.

[Bersambung]

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.


Artikel asli: https://muslim.or.id/114973-awal-fase-dakwah-islam-secara-terang-terangan.html