Beranda | Artikel
Mengenal Nama Allah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi
9 jam lalu

Di antara nama-nama Allah yang menanamkan rasa tunduk, tawadhu’, takut, dan berharap kepada-Nya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Keduanya sering dibahas secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya lebih tampak ketika dipahami bersama. Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya, dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah serta rahmat-Nya.

Seorang hamba yang memahami dua nama ini akan mengetahui bahwa ukuran kemuliaan dan kehinaan yang hakiki bukanlah di tangan manusia. Bukan harta yang meninggikan, bukan jabatan yang memuliakan, dan bukan pula banyaknya pengikut yang menjadikan seseorang tinggi di sisi Allah. Yang benar-benar meninggikan dan merendahkan hanyalah Allah Ta’ala. Dalam tulisan ini, kita akan mengulas dalil-dalil dua nama ini, kandungan maknanya, serta konsekuensi iman kepadanya bagi seorang mukmin. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.

Dalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi`”

Para ulama yang memasukkan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ ke dalam Asmaaul Husna berdalil dengan riwayat yang memuat penyebutan nama-nama Allah. Para ulama banyak menukil di kitab-kitab mereka,

الخَافِضُ الرَّافِعُ

Yang Merendahkan dan Yang Meninggikan.[1]

Sebagian ulama yang memasukkan keduanya juga membahas secara berpasangan dalam kitab-kitab mereka. Syekh Shalih Alu asy-Syaikh menjelaskan,

الخافض ليس من الأسماء الحسنى في نفسه، لكن الرافع الخافض من الأسماء الحسنى وهكذ

Al-Khaafidh bukan termasuk Asmaul Husna jika berdiri sendiri. Akan tetapi, Ar-Raafi’ Al-Khaafidh termasuk Asmaul Husna. Demikian pula yang semisalnya.” [2]

Adapun makna dua nama ini sangat jelas ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ

(Kiamat itu) merendahkan dan meninggikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 3)

Ketika menjelaskan ayat ini, az-Zajjaj mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibn Manzhur,

المعنى أنها تخفض أهل المعاصي وترفع أهل الطاعة

“Maknanya adalah bahwa Dia merendahkan ahli maksiat dan meninggikan ahli ketaatan.” [3]

Ibn Manzhur juga menukil penjelasan lain tentang ayat tersebut,

تخفض قوما فتحطهم عن مراتب آخرين ترفعهم إليها، والذين خفضوا يسلفون إلى النار، والمرفوعون يرفعون إلى غرف الجنان

Ia merendahkan suatu kaum, lalu menjatuhkan mereka dari derajat yang diberikan kepada kaum lain yang diangkat ke sana. Orang-orang yang direndahkan digiring ke neraka, sedangkan orang-orang yang diangkat ditinggikan menuju kamar-kamar surga.[4]

Di antara ayat yang menunjukkan makna ar-raf’ adalah firman Allah Ta’ala,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)

Dan firman-Nya,

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 158)

Juga firman-Nya,

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan amal saleh diangkat-Nya.” (QS. Faathir: 10)

Syekh Abdurrazzaq al-Badr, ketika menyebut ayat-ayat semacam ini, menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang menyempitkan, melapangkan, merendahkan, dan meninggikan secara takdir. Beliau menyebutkan,

وإن كان الله تعالى هو القابض الباسط الخافض الرافع قدرا

Dan sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang Menyempitkan, Melapangkan, Merendahkan, dan Meninggikan secara takdir.[5]

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi`”

Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini dengan baik, kita perlu melihat makna katanya secara bahasa, lalu memahami maknanya ketika dua nama tersebut disandarkan kepada Allah Ta’ala. Sebab, nama-nama Allah tidak hanya indah dari sisi lafaz, tetapi juga sangat agung dari sisi makna.

Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi`”

Kata Al-Khaafidh berasal dari kata خفض. Ibn Manzhur menjelaskan,

الخَفْضُ: ضِدُّ الرَّفْعِ. خَفَضَهُ يَخْفِضُهُ خَفْضًا فَانْخَفَضَ وَاخْتَفَضَ

Al-khafdh adalah lawan dari ar-raf’. Dikatakan: khafadhahu yakhfidhuhu khafdhan, lalu sesuatu itu menjadi rendah.” [6]

Dari penjelasan ini, jelas bahwa Al-Khaafidh secara bahasa berarti “yang merendahkan” atau “yang menurunkan”. Adapun Ar-Raafi’ adalah lawannya, yaitu “yang meninggikan” atau “yang mengangkat”. Sehingga dari sisi bahasa saja, sudah tampak bahwa dua nama ini memang saling berkaitan dan saling menjelaskan.

Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi`” secara berpasangan

Sebagian nama Allah lebih sempurna jika disebutkan bersama dengan pasangannya. Di antara contohnya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa kesempurnaan makna dua nama ini terletak pada penyebutan keduanya secara bersamaan.

Ibnul Qayyim berkata,

الأسماء المزدوجة تجري الأسماء منها مجرى الاسم الواحد الذي يمتنع فصل بعض حروفه عن بعض، فهي وإن تعددت جارية مجرى الاسم الواحد ولذلك لم تجئ مفردة ولم تطلق عليه إلا مقترنة

“Nama-nama yang berpasangan itu berjalan seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan sebagian hurufnya dari sebagian yang lain. Walaupun jumlahnya lebih dari satu, ia diperlakukan seperti satu nama. Oleh karena itu, ia tidak datang dalam bentuk tunggal dan tidak disandarkan kepada Allah kecuali dalam keadaan berpasangan.” [7]

Dari sini bisa dipahami bahwa pembahasan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ memang lebih tepat jika digabungkan. Sebab, jika hanya disebut “yang merendahkan” saja, maknanya belum utuh. Demikian pula jika hanya disebut “yang meninggikan” saja. Kesempurnaan maknanya tampak ketika keduanya disebut bersama: Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki.

Makna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi`” dalam konteks Allah

Jika dua nama ini disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka maknanya jauh lebih agung dan lebih sempurna. Imam al-Baihaqi menjelaskan,

الخافض الرافع: فالخافض هو الذي يخفض من يشاء بانتقامه، والرافع هو الذي يرفع من يشاء بإنعامه

Al-Khaafidh Ar-Raafi’: Al-Khaafidh adalah Dzat yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan hukuman-Nya, dan Ar-Raafi’ adalah Dzat yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya.” [8]

Makna ini juga selaras dengan penjelasan Ibn Manzhur ketika membahas nama Allah Al-Khaafidh,

في أسماء الله تعالى الخافض: هو الذي يخفض الجبارين والفراعنة أي: يضعهم ويهينهم ويخفض كل شيء يريد خفضه

Di antara nama Allah Ta’ala adalah Al-Khaafidh, yaitu Dzat yang merendahkan para jabbar dan fir’aun-fir’aun, yakni Dia menempatkan mereka dalam kehinaan dan merendahkan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk direndahkan.” [9]

Jadi, Allah merendahkan orang-orang yang sombong, melampaui batas, dan memusuhi kebenaran. Sebaliknya, Allah meninggikan para wali-Nya, ahli iman, ahli ilmu, dan ahli ketaatan. Inilah makna yang sangat jelas dalam dua nama ini.

Ibnul Qayyim menjelaskan makna tersebut dengan sangat indah. Sebagaimana dinukil oleh Musyrif al-Ghamidi,

أن المؤمن عندما يدرك اتصافه تعالى بالخفض والرفع يوقن أن الله تعالى يرفع أولياءه بالطاعة فيعلي مراتبهم وينصرهم على أعدائه ويجعل العاقبة لهم كما أنه يخفض الجبارين ويذل الفراعنة المتكبرين

“Sesungguhnya ketika seorang mukmin memahami bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat merendahkan dan meninggikan, ia akan yakin bahwa Allah meninggikan para wali-Nya dengan ketaatan, mengangkat derajat mereka, menolong mereka atas musuh-musuh-Nya, dan menjadikan akibat yang baik bagi mereka. Sebagaimana Allah juga merendahkan para jabbar dan menghinakan para fir’aun yang sombong.” [10]

Maka, ketinggian dan kerendahan itu bukan hasil interpretasi bebas akal manusia yang liar, bukan pula sekadar permainan dunia. Semuanya kembali kepada hikmah Allah, pertolongan-Nya, dan keadilan-Nya.

Konsekuensi dari keimanan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi`” bagi seorang hamba

Iman kepada dua nama ini akan berpengaruh besar pada cara seorang hamba memandang dirinya, memandang manusia, dan memandang jalan hidup yang sedang ia tempuh.

Pertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-Nya

Konsekuensi pertama adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah meninggikan orang-orang yang taat kepada-Nya dan merendahkan orang-orang yang memusuhi-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak silau dengan ketinggian orang-orang yang sombong. Ia tahu bahwa ketinggian dunia yang terlepas dari hidayah Allah tidak selalu berarti kemuliaan yang hakiki.

Begitu juga, ia tidak meremehkan orang-orang yang hidup sederhana, tidak dikenal, atau tidak punya kedudukan di mata manusia. Sebab, sangat mungkin mereka justru mulia di sisi Allah.

Kedua, memahami bahwa ketinggian yang hakiki bukan ukuran dunia

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kemuliaan hakiki bukan terletak pada penampilan duniawi, tumpukan harta, atau kedudukan sosial. Beliau berkata,

وليس المرفوع قدراً، والمعلى شأناً وأمراً، والمستحق مجداً وفخراً من رفع الطين على الطين وتكبر على المساكين وتجبر على أشكاله بكثرة ماله، واستقامة أحواله، وإنما المشرف شأناً والمعلى رتبة ومكاناً من رفعه الله بتوفيقه، وأيده لتصديقه، وهداه إلى طريقته، صفى قلبه وخلى له وجهه

Bukanlah orang yang tinggi kedudukannya, mulia urusannya, dan berhak mendapatkan kemuliaan serta kebanggaan itu orang yang menumpuk tanah di atas tanah, lalu menyombongkan diri atas orang-orang miskin dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesamanya karena banyaknya harta dan baiknya keadaan dunianya. Akan tetapi, orang yang benar-benar mulia dan tinggi derajatnya adalah orang yang Allah angkat dengan taufik-Nya, Allah kuatkan dengan pembenaran-Nya, Allah tunjukkan ke jalan-Nya, Allah sucikan hatinya, dan Allah lapangkan urusannya.” [11]

Beliau kemudian menguatkan makna ini dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, tertolak dari pintu-pintu, kalau ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim) [12]

Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia dan penilaian Allah tidak selalu sama. Orang yang dipandang rendah oleh manusia belum tentu rendah di sisi Allah.

Ketiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh Allah

Kalau Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan, maka seorang mukmin harus tahu jalan apa yang harus ditempuh jika ia ingin diangkat oleh Allah. Jalannya bukan kesombongan, bukan kezaliman, bukan pula mencari pujian manusia. Jalannya adalah taat kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, membenahi hati, dan berjalan di atas syariat.

Penjelasan Ibnul Qayyim yang telah disebutkan tadi sangat jelas: Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan. Maka siapa yang ingin diangkat oleh Allah, hendaknya ia memperbaiki iman, ibadah, amal, dan akhlaknya.

Keempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan

Sebaliknya, seorang hamba juga harus takut dari sebab-sebab yang membuatnya direndahkan oleh Allah. Sombong, maksiat, melampaui batas, dan berpaling dari jalan kebenaran adalah sebab-sebab kerendahan. Oleh karena itu, iman kepada nama Al-Khaafidh membuat seorang mukmin lebih waspada terhadap dosa dan lebih takut terhadap akibat buruk kesombongan.

Al-Qurthubi menjelaskan,

الرفع والخفض أمارتان للجزاء، فمن فتحت لروحه أبواب السماء فرفع واستبشر ومن نكس إلى أسفل أبعد وآيس، وبحسب ذلك الأعمال بشارات ونذارات

“Ketinggian dan kerendahan adalah dua tanda balasan. Siapa yang dibukakan pintu-pintu langit bagi ruhnya, maka ia diangkat dan diberi kabar gembira. Dan siapa yang dijungkirkan ke bawah, maka ia dijauhkan dan dibuat putus asa. Dan sesuai dengan itu, amal-amal menjadi kabar gembira dan peringatan.” [13]

Penjelasan ini menegaskan bahwa amalan seorang hamba punya hubungan langsung dengan kemuliaan atau kehinaannya. Ada amal yang menjadi sebab diangkatnya seorang hamba, dan ada amal yang menjadi sebab jatuhnya ia ke dalam kerendahan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diangkat dengan iman, ilmu, ketaatan, dan ketakwaan, serta dilindungi dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan. Aamiin.

Baca juga: Memahami Nama dan Sifat Allah dengan Benar

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] ‘Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asma’il Husna, hal. 55

[2] Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah; Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il, hal. 234.

[3] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112; beliau menukil keterangan az-Zajjaj.

[4] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.

[5] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 297.

[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.

[7] Ibnul Qayyim, Badaa’i al-Fawaa’id, 1: 184.

[8] Al-Baihaqi, Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad, 1: 55.

[9] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.

[10] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.

[11] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.

[12] HR. Muslim no. 2622, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[13] Al-Qurthubi, Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 398.

 

Daftar Pustaka

Al-Badr, Abdur Razzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.

Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad.

Al-Ghamidi, Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani. Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. https://archive.org/

Ibn Manzhur. Lisan al-Arab. Maktabah Syamilah

Ibnul Qayyim. Badaa’i al-Fawaa’id. IslamWeb.org

Ibnul Qayyim. Madaarij as-Saalikiin. Maktabah Syamilah

Al-Qurthubi. Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna.

Alu asy-Syaikh, Shalih bin Abdul Aziz. Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah: Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il.


Artikel asli: https://muslim.or.id/114993-mengenal-nama-allah-al-khaafidh-dan-ar-raafi.html