Beranda | Artikel
Menggunakan Privilege untuk Ketaatan (Bag. 2)
9 jam lalu

Privilege popularitas dan pengaruh

Di era digital, popularitas dan pengaruh di media sosial termasuk privilege yang sangat besar. Satu unggahan, satu video, atau satu pernyataan bisa menjangkau ribuan, atau bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Ini adalah kekuatan yang dulu tidak dimiliki banyak orang, tetapi hari ini bisa dimiliki siapa saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pengaruh bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Mengajak kepada salat, menebarkan ilmu yang benar, menguatkan semangat berbuat baik, meluruskan pemahaman, atau sekadar menyebarkan pesan kebaikan, semuanya bisa menjadi amal jariyah selama pengaruh itu terus hidup.

Namun sebaliknya, pengaruh juga bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Jika digunakan untuk menyebarkan maksiat, membuka aib, menormalisasi kemungkaran, memprovokasi kebencian, atau menyesatkan pemikiran, maka setiap orang yang terpengaruh akan menjadi beban dosa bagi penyebarnya.

Oleh karena itu, privilege popularitas bukan sekadar tentang jumlah pengikut, tetapi tentang arah yang kita bawa. Apakah pengaruh itu menjadi cahaya yang menerangi, atau api yang membakar? Setiap kata yang disebarkan adalah amanah, dan setiap pengaruh akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Privilege waktu dan kesehatan

Tidak semua privilege berbentuk harta atau jabatan. Waktu luang dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering diremehkan. Banyak orang baru menyadari nilainya ketika sakit atau ketika waktu telah habis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Allah Azza wa Jalla juga bersumpah dengan waktu dalam surah Al-‘Ashr,

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Jika seseorang memiliki waktu dan kesehatan, ia memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, membantu orang lain, dan membangun amal jariyah. Namun jika keduanya dihabiskan dalam kelalaian, maka kerugianlah yang akan didapat. Oleh karena itu, privilege waktu dan kesehatan adalah amanah. Ia harus dimanfaatkan sebelum datang sakit dan sebelum waktu benar-benar habis.

Jangan tertipu oleh privilege

Privilege sering kali membuat manusia merasa aman, unggul, dan lebih tinggi dari yang lain. Padahal ia hanyalah titipan. Allah Azza wa Jalla memberi contoh tentang Qarun, seorang yang memiliki kekayaan luar biasa, tetapi tertipu oleh apa yang ia miliki.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ

“Lalu ia keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya.” (QS. Al-Qashash: 79)

Qarun menampilkan kemewahannya dengan penuh kebanggaan. Ia merasa istimewa, merasa lebih pantas dihormati, dan lupa bahwa semua itu hanyalah pemberian Allah. Bahkan ketika dinasihati, ia berkata,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)

Ia menganggap keberhasilannya murni karena kemampuannya sendiri. Inilah akar kesombongan: merasa bahwa privilege berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah. Akhirnya, Allah membinasakannya dan menenggelamkannya bersama hartanya ke dalam bumi.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa privilege tanpa syukur melahirkan kesombongan, dan kesombongan mengundang kehancuran.

Setiap keistimewaan yang tidak disyukuri akan berubah menjadi ujian yang berat. Harta yang tidak mendekatkan kepada Allah akan melalaikan. Jabatan yang tidak digunakan untuk keadilan akan menjerumuskan. Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi hujah yang memberatkan. Popularitas yang tidak diarahkan kepada kebaikan akan menjadi sumber dosa.

Teladan para Nabi dalam mengelola privilege

Al-Qur’an tidak hanya memperingatkan tentang bahaya privilege seperti pada kisah Qarun, tetapi juga menghadirkan teladan agung tentang bagaimana keistimewaan digunakan untuk ketaatan. Di antara contoh terbaik adalah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf عليهما السلام.

Nabi Sulaiman عليه السلام diberi kerajaan yang sangat besar, kekuasaan yang luas, kemampuan mengendalikan angin, serta jin yang tunduk kepadanya. Ini adalah privilege luar biasa yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia. Namun ketika beliau melihat kemegahan yang ada di hadapannya, beliau tidak terpesona dan tidak pula menyandarkan keberhasilan pada dirinya. Beliau berkata,

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)

Kalimat ini menunjukkan kesadaran yang dalam bahwa privilege adalah ujian, bukan sekadar penghormatan. Kekuasaan tidak menjadikan beliau sombong, tetapi justru semakin tunduk dan bersyukur. Semakin besar nikmatnya, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.

Demikian pula Nabi Yusuf عليه السلام. Setelah melalui ujian panjang dari dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara tanpa kesalahan, akhirnya beliau diberi kedudukan tinggi di Mesir dan memegang kendali ekonomi negara. Beliau berkata,

اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Jadikan aku pengelola perbendaharaan negeri ini, sesungguhnya aku orang yang menjaga dan berilmu.” (QS. Yusuf: 55)

Permintaan ini bukan karena ambisi dunia, tetapi karena kesiapan dan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan masyarakat. Dengan kedudukan tersebut, beliau menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari krisis kelaparan.

Dari kedua kisah ini tampak jelas bahwa privilege bukan untuk dinikmati semata, tetapi untuk diamanahkan. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan. Bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menegakkan keadilan dan membawa maslahat.

Keistimewaan yang dikelola dengan syukur dan amanah akan menjadi jalan kemuliaan. Namun keistimewaan yang dikelola dengan kesombongan akan menjadi sebab kehancuran. Para Nabi mengajarkan bahwa semakin besar privilege, semakin besar pula rasa tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah.

Bagaimana menggunakan privilege untuk ketaatan

Privilege baru bernilai jika diarahkan kepada ketaatan. Langkah pertama adalah menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan segala nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Kesadaran ini menumbuhkan syukur dan kerendahan hati. Harta digunakan untuk sedekah, ilmu untuk membimbing, kedudukan untuk keadilan, relasi untuk membuka pintu kebaikan, dan pengaruh untuk menyebarkan nilai Islam. Dengan niat yang benar, semua fasilitas hidup bisa menjadi ibadah. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Privilege mempercepat langkah menuju kebaikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga memperberat hisab jika disalahgunakan. Oleh karena itu, privilege bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.

Semua kenikmatan adalah privilege dan amanah

Pada hakikatnya, seluruh kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia adalah privilege atau keistimewaan yang tidak semua orang miliki dalam kadar dan bentuk yang sama. Privilege bukan hanya tentang harta, jabatan, ilmu, atau popularitas. Anak, pasangan, keluarga yang harmonis, kesehatan, keamanan, bahkan hidayah dan kemudahan beribadah, semuanya adalah nikmat istimewa yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Dia menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan yang batin.” (QS. Luqmaan: 20)

Dan Allah juga mengingatkan,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun nikmat yang bebas dari hisab.

Memiliki anak adalah privilege besar, namun juga ujian. Allah berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)

Anak bisa menjadi jalan pahala yang terus mengalir jika dididik dalam iman dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim). Maka anak bukan sekadar kebahagiaan dunia, tetapi amanah akhirat.

Pasangan hidup dan rumah tangga yang tenteram juga termasuk privilege. Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan agar kalian merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)

Tidak semua orang merasakan ketenangan dalam rumah tangga. Maka keharmonisan adalah nikmat yang harus dijaga dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan.

Keamanan dan kesehatan pun demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah diberikan kepadanya (HR. Tirmidzi). Banyak manusia hidup dalam ketakutan dan kekurangan. Maka hidup dalam ketenangan adalah privilege yang sering tidak disadari.

Yang lebih besar lagi adalah privilege hidayah. Tidak semua orang diberi hati yang terbuka untuk menerima kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Bisa mencintai salat, menikmati membaca Al-Qur’an, hadir di majelis ilmu, dan merasa takut kepada Allah, itu semua adalah nikmat yang sangat istimewa.

Pada akhirnya, semua kenikmatan adalah amanah. Setiap privilege akan membawa dua kemungkinan: menjadi jalan menuju surga jika disyukuri dan digunakan untuk ketaatan, atau menjadi sebab hisab dan penyesalan jika disalahgunakan dan dilalaikan.

Maka pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa kita menggunakannya. Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah, setiap nikmat akan berbicara, dan setiap amanah akan dimintai jawaban.

Ya Allah, jadikan setiap nikmat yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan menuju rida-Mu, bukan sebab kelalaian dan penyesalan. Bimbing kami untuk mensyukuri dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.

Wallahu Ta’ala a’lam.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/114829-menggunakan-privilege-untuk-ketaatan-bag-2.html