Beranda | Artikel
Masih Ada Waktu untuk Berbuat Dosa, Belum Tentu Ada Waktu untuk Bertobat (Bag. 1)
10 jam lalu

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama masih hidup di dunia. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Setiap anak Adam pasti pernah tergelincir dalam dosa dan maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar dan tobat.

Namun, di antara perangkap terbesar setan adalah menanamkan angan-angan panjang dalam hati manusia. Setan membuat seseorang merasa masih memiliki waktu yang panjang sehingga ia menunda tobat dari hari ke hari. Bisikan seperti, “Nanti saja tobatnya ketika sudah tua”, “Masih ada waktu untuk memperbaiki diri”, atau “Aku akan bertobat setelah urusanku selesai”, merupakan tipu daya yang telah menyesatkan banyak manusia.

Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Berapa banyak orang yang merencanakan masa depan, tetapi kematian datang lebih dahulu sebelum ia sempat memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena itulah, para ulama salaf sangat menekankan pentingnya segera bertobat dan tidak menunda-nundanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

فليس لأحدٍ أن يظنَّ استغناءَه عن التوبةِ إلى اللهِ والاستغفارِ من الذنوبِ، بل كلُّ أحدٍ محتاجٌ إلى ذلك دائمًا

“Tidak ada seorang pun yang dapat merasa cukup tanpa tobat kepada Allah dan istigfar dari dosa-dosanya. Sebab, setiap hamba senantiasa membutuhkan tobat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya setiap waktu.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 11: 255)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk bertobat kepada-Nya karena tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan dan kesalahan. Bahkan orang yang banyak beribadah sekalipun tetap memerlukan tobat untuk menutupi kekurangan dalam amalnya.

Setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah karena ia tidak pernah berbuat salah sama sekali, melainkan karena ia segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla setelah melakukan kesalahan tersebut. Sebaliknya, orang yang terus-menerus menunda tobat berada dalam bahaya besar. Dosa yang dibiarkan akan semakin mengakar dalam hati hingga menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Manusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-Nya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia dan telah mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang. Namun demikian, beliau tetap memperbanyak istigfar dan tobat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sungguh aku beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 6307)

Dalam riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai manusia. Beristigfarlah kepada Allah karena aku selalu beristigfar (bertobat) kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)

Para ulama menjelaskan bahwa istigfar yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena beliau melakukan dosa sebagaimana manusia biasa, melainkan sebagai bentuk kesempurnaan penghambaan, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim berkata,

وَاسْتِغْفَارُهُ صلى الله عليه وسلم لإِظْهَار الْعُبُودِيَّةِ وَالِافْتِقَارِ وَمُلَازَمَةِ الْخُشُوعِ وَشُكْرًا لِمَا أَوْلَاهُ

“Istigfarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan untuk menampakkan penghambaan diri, menunjukkan kebutuhannya kepada Allah, senantiasa menjaga kekhusyukan, dan sebagai bentuk syukur atas berbagai nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.”

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maksum saja selalu memperbanyak tobat dan istigfar setiap hari, maka manusia biasa yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkan tobat dan istigfar.

Bahaya menunda tobat

Pertama, kematian yang datang tanpa peringatan

Yang menjadi sebab utama seseorang tidak boleh menunda tobat adalah karena Allah rahasiakan waktu kematiannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

Banyak orang ingin bertobat pada masa tuanya. Namun, siapa yang menjamin bahwa seseorang akan mencapai usia tersebut? Kuburan dipenuhi oleh orang tua, orang dewasa, bahkan anak-anak yang masih kecil tidak pernah menyangka bahwa hidup mereka akan berakhir secepat itu.

Hal ini menjadi peringatan yang sangat nyata bagi para pendosa dan pelaku maksiat untuk segera bertobat sebelum ajal menjemput.

Kedua, hati yang menjadi keras karena dosa

Maksiat dan dosa yang dilakukan terus-menerus akan mengeraskan hati. Setiap dosa akan meninggalkan noda hitam pada hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

“Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertobat darinya, hatinya akan dibersihkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334; dihasankan Al-Albani)

Apabila dosa terus dilakukan tanpa bertobat, titik-titik tersebut akan menutupi hati sehingga seseorang menjadi keras hatinya, semakin sulit menerima nasihat dan pertunjuk.

Ketiga, hilangnya kepekaan terhadap dosa

Salah satu hukuman yang Allah Ta’ala timpakan bagi pelaku dosa dan maksiat adalah hilangnya rasa bersalah. Awalnya, seseorang merasa berdosa ketika bermaksiat; namun setelah berulang kali melakukannya, ia menjadi terbiasa dan menganggap dosa sebagai hal biasa. Ini sangat berbahaya karena menunjukkan semakin jauhnya ia dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Keempat, tidak selalu ada kesempatan bertobat

Memang pintu tobat terbuka lebar bagi para pelaku dosa dan maksiat, tetapi tidak akan terbuka selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537; hasan)

Luasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobat

Meskipun dosa seorang hamba sangatlah banyak, namun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih luas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)

Hadis ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya serta dorongan agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergembira dengan tobat seorang hamba melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah padang pasir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sungguh Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di padang pasir bersama untanya yang membawa makanan dan minumannya, lalu unta itu lepas darinya. Ia pun putus asa mendapatkannya. Kemudian ia berbaring di bawah naungan pohon dalam keadaan putus asa. Tiba-tiba, untanya berdiri di dekatnya. Maka ia memegang tali kekangnya dan berkata karena sangat gembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia keliru karena sangat gembira.” (HR. Muslim no. 2747)

[Bersambung]

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/114629-bahaya-menunda-tobat.html