Beranda | Artikel
Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan
9 jam lalu

Ketika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan inilah, Heraklius mengetahui tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa beliau adalah Ahmad, seorang utusan Allah yang sudah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.

Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.

Pemanggilan Abu Sufyan oleh Heraklius

Ketika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أن هرقل أرسل إليه في ركب من قريش وكانوا تجارا بالشأم في المدة التي كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ماد فيها أبا سفيان وكفار قريش فأتوه وهم بإيلياء فدعاهم في مجلسه وحوله عظماء الروم

“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.

Mereka kemudian mendatangi Heraklius di Iliya’ (Yerusalem). Heraklius mengundang mereka ke majelisnya, dikelilingi oleh para pembesar Romawi.”

ثم دعاهم ودعا بترجمانه فقال أيكم أقرب نسبا بهذا الرجل الذي يزعم أنه نبي فقال أبو سفيان فقلت أنا أقربهم نسبا فقال أدنوه مني وقربوا أصحابه فاجعلوهم عند ظهره ثم قال لترجمانه قل لهم إني سائل هذا عن هذا الرجل فإن كذبني فكذبوه فوالله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عنه

“Ia memanggil mereka beserta penerjemahnya, lalu bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu?’

Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat nasabnya.’

Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”

Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, aku akan bertanya kepada orang ini tentang laki-laki tersebut. Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.”

(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”

Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam

Pertanyaan tentang nasab dan pengikut Rasulullah

Setelah bertemu dengan rombongan dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah, Heraklius pun mulai menggali informasi tentang Rasulullah. Heraklius memulai dengan melontarkan pertanyaan mengenai nasab dan pengikut Rasulullah.

ثم كان أول ما سألني عنه أن قال كيف نسبه فيكم قلت هو فينا ذو نسب قال فهل قال هذا القول منكم أحد قط قبله قلت لا قال فهل كان من آبائه من ملك قلت لا قال فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم فقلت بل ضعفاؤهم قال أيزيدون أم ينقصون قلت بل يزيدون

Selanjutnya, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepadaku tentangnya (Rasulullah) adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?”

Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Ia bertanya, “Apakah di antara nenek moyangnya ada yang pernah menjadi raja?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Ia bertanya lagi, “Apakah orang-orang yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan ataukah orang-orang lemah?”

Aku menjawab, “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.”

Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?”

Aku menjawab, “Mereka semakin bertambah.”

Pertanyaan tentang akhlak dan peperangan

Setelah bertanya tentang nasab dan siapa pengikut Rasulullah, Heraklius melanjutkan menggali informasi lainnya dari Abu Sufyan tentang akhlak Rasulullah dan peperangan yang terjadi antara Rasulullah dengan kaum Quraisy.

قال فهل يرتد أحد منهم سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه قلت لا قال فهل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال قلت لا قال فهل يغدر قلت لا ونحن منه في مدة لا ندري ما هو فاعل فيها قال ولم تمكني كلمة أدخل فيها شيئا غير هذه الكلمة قال فهل قاتلتموه قلت نعم قال فكيف كان قتالكم إياه قلت الحرب بيننا وبينه سجال ينال منا وننال منه

Heraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Ia bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengucapkan apa yang ia ucapkan sekarang?”

Aku menjawab, “Tidak pernah.”

Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”

Aku menjawab, “Tidak, tetapi saat ini kami sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk selain pada kalimat ini”).

Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”

Aku menjawab, “Ya.”

Ia bertanya, “Bagaimana hasil peperangan kalian dengannya?”

Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”

Apa yang diajarkan sang Nabi?

Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قال ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلة

Heraklius bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?”

Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi.”

Penjelasan Heraklius atas pertanyaannya

Setelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.

فقال للترجمان قل له سألتك عن نسبه فذكرت أنه فيكم ذو نسب فكذلك الرسل تبعث في نسب قومها

Heraklius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, engkau menjawab bahwa dia berasal dari keturunan yang terhormat. Begitulah para Rasul, mereka diutus dari kalangan keturunan terbaik kaumnya.

وسألتك هل قال أحد منكم هذا القول فذكرت أن لا فقلت لو كان أحد قال هذا القول قبله لقلت رجل يأتسي بقول قيل قبله

Aku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.

وسألتك هل كان من آبائه من ملك فذكرت أن لا قلت فلو كان من آبائه من ملك قلت رجل يطلب ملك أبيه

Aku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.

وسألتك هل كنتم تتهمونه بالكذب قبل أن يقول ما قال فذكرت أن لا فقد أعرف أنه لم يكن ليذر الكذب على الناس ويكذب على الله وسألتك أشراف الناس اتبعوه أم ضعفاؤهم فذكرت أن ضعفاءهم اتبعوه وهم أتباع الرسل

Aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.

Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang lemah, engkau menjawab orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Memang merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul.

وسألتك أيزيدون أم ينقصون فذكرت أنهم يزيدون وكذلك أمر الإيمان حتى يتم

Aku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, engkau menjawab bahwa mereka bertambah. Demikianlah perkara keimanan hingga ia menjadi sempurna.

وسألتك أيرتد أحد سخطة لدينه بعد أن يدخل فيه فذكرت أن لا وكذلك الإيمان حين تخالط بشاشته القلوب

Aku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.

وسألتك هل يغدر فذكرت أن لا وكذلك الرسل لا تغدر

Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berkhianat, engkau menjawab tidak. Demikianlah para Rasul, mereka tidak pernah berkhianat.

Kesimpulan Heraklius tentang kenabian

Dari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.

وسألتك بما يأمركم فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وينهاكم عن عبادة الأوثان ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتين

Aku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.

وقد كنت أعلم أنه خارج لم أكن أظن أنه منكم فلو أني أعلم أني أخلص إليه لتجشمت لقاءه ولو كنت عنده لغسلت عن قدمه

Aku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”

Penutup

Itulah kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan ini, Heraklius mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang sebenar-benarnya. Walaupun demikian, hal tersebut tidak serta merta membuat Heraklius langsung memeluk Islam. Ketika ia menyeru bangsa Romawi untuk beriman kepada Rasulullah, mereka menolaknya. Heraklius pun lebih memilih bersama dengan bangsa Romawi dibandingkan harus beriman kepada Rasulullah.

Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/114395-pertemuan-heraklius-dengan-abu-sufyan.html