Beranda | Artikel
Sikap Anak Ketika Orang Tua Bercerai
10 jam lalu

Perceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, kini terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.

Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, bahkan merasa kehilangan arah.

Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah aku penyebabnya? Haruskah aku memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang harus aku perbuat setelah ini?

Islam sebagai agama yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan kewajiban berbakti. Dan ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami, yaitu perceraian tidak menghapus kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا

“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” atau “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, kewajiban birrul walidain tetap berlaku.

Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir Allah

Langkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)

Ini bukan berarti perceraian adalah sesuatu yang ringan atau tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam ilmu dan hikmah Allah.

Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, atau keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.

Yang sangat penting untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)

Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.

Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anak

Perceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15)

Berbakti tidak bergantung pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua memiliki kekurangan atau kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbicara dengan sopan.

Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”

Tidak memihak secara zalim

Salah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang keluarga besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.

Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya karena cerita sepihak atau emosi sesaat. Bersikap adil bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memutus hubungan dengan ayah atau ibu karena perceraian adalah kesalahan besar.

Begitu pula orang tua yang telah bercerai juga harus bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم

“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Menjaga lisan dan rahasia keluarga

Di era media sosial, sering kali masalah keluarga diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ

“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan keluarga tetap menjadi bagian dari akhlak mulia.

Mengelola emosi dengan iman

Perceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, bahkan trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah perasaan manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara akan melukai diri sendiri.

Ingatlah kabar gembira dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan amarah dan memiliki sifat pemaaf,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Menahan amarah bukan berarti menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.

Bersabar dalam ujian

Allah Ta’ala menjanjikan kabar gembira bagi orang yang sabar,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Dan Allah juga berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.

Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk rusak

Sebagian anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, atau membenci pernikahan karena pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan alasan untuk menghancurkan masa depan sendiri.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Menguatkan hubungan dengan Allah

Ketika rasa aman dari keluarga terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)

Doa menjadi kekuatan besar,

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)

Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.

Menjadi anak yang lebih baik

Perceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; atau 2) anak yang matang dan bijak.

Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Saatnya bangkit

Perceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, atau kehilangan adalah hal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, atau jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berbakti meski hatimu terluka, tetap menjaga adab meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa aman terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan ia sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.

Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/114110-sikap-anak-ketika-orang-tua-bercerai.html