Bagaimanakah Rasulullah Berkhotbah?
Khotbah merupakan seuatu kegiatan yang sering kita ikuti dan kita lakukan setidaknya sepekan sekali pada khotbah Jumat. Akan tetapi, pernahkah terpikirkan oleh kita bagaimana khotbah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam? Apa isi khotbah beliau, bagaimana penyampaiannya, dan lain sebagainya.
Sebagai jemaah khotbah, apakah kita tidak penasaran bagaimana khotbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dan sebagai khatib, apakah kita sudah meniru bagaimana Rasulullah berkhotbah? Pada artikel ini, akan kita bahas tentang bagaimana khotbahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Khotbah sambil berdiri
Kebiasaan Rasulullah ketika khotbah adalah khotbah sambil berdiri, hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,
كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يخطُبُ قائمًا ثمَّ يجلسُ ثمَّ يقومُ ويقرأُ آياتٍ ويذكرُ اللَّهَ عزَّ وجلَّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah sambil berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, kemudian membaca ayat (Al-Qur’an) dan mengingat Allah Azza wa Jalla.” (HR. Abu Daud)
Beliau berdiri bersandar kepada sebuah tongkat sebagaimana diriwayatkan dalam hadis,
شهِدنا الجمعةَ مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقام متوكِّئًا على عصًا أو قوسٍ
“Kami menghadiri salat Jumat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersandar pada sebuah tongkat atau busur panah.” (HR. Abu Daud)
Menghadap jemaah
Ketika Rasulullah khotbah, beliau menghadap ke jemaah, hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,
فرأيتُ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صلَّى عليْها وَكبَّرَ عليْها ثمَّ رَكعَ وَهوَ عليْها ثمَّ نزلَ القَهقرى فسجدَ في أصلِ المنبرِ ثمَّ عادَ فلمَّا فرغَ أقبلَ على النَّاسِ فقالَ: أيُّها النَّاسُ إنَّما صنعتُ هذا لتأتمُّوا بي ولتعلَّموا صلاتي
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di atasnya (mimbar), lalu rukuk di atasnya. Lalu beliau turun dengan berjalan mundur, kemudian sujud pada pangkal mimbar, lalu beliau kembali ke atas. Setelah selesai, beliau menghadap kepada orang-orang, lalu bersabda, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian dapat mengikutiku dan mempelajari cara salatku.’” (HR. Bukhari)
Bersemangat dalam menyampaikan khotbah
Ketika menyampaikan khotbah, beliau bersemangat, matanya hingga memerah, suaranya lantang seakan-akan memimpin pasukan perang. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah,
أنَّ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّه علَيهِ وسلَّمَ كانَ إذا خطبَ احمرَّتْ عَيناهُ ، وعلَا صَوتُهُ ، واشتدَّ غضبُهُ حتَّى كأنَّهُ مُنذرُ جَيشٍ
“Apabila Rasullullah berkhotbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangat beliau berkobar seakan-akan beliau sedang memberi peringatan kepada pasukan perang.” (HR. Muslim)
Isi khotbah Rasulullah
Khotbah Rasulullah selalu diisi oleh ayat-ayat Al-Qur’an, hal tersebut ditunjukkan oleh beberapa hadis, di antaranya adalah hadis,
سَمِعتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَقرَأُ على المِنبَرِ: {ونادَوا يا مالِكُ ليَقضِ علينا رَبُّكَ}
“Aku mendengar Nabi ﷺ membaca (ayat Al-Qur’an) di atas mimbar, {Dan mereka menyeru, ‘Wahai Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja’}.” (HR. Bukhari)
Isi khotbah Rasulullah selalu berisi ayat-ayat tentang takwa. Isi khotbah Rasulullah juga menyesuaikan dengan kebutuhan orang-orang ketika itu, bahkan beliau pernah menyampaikan khotbah sangat panjang karena pentingnya khotbah ketika itu.
Durasi khotbah Rasulullah
Khotbah Rasulullah mayoritasnya adalah singkat sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
إنَّ طولَ صلاةِ الرجلِ و قِصَرَ خُطبتِه مَئِنَّةٌ من فقهِه ، فأَطيلوا الصلاةَ ، و أَقصِروا الخُطبةَ ، و إنَّ من البيانِ لَسحرًا
“Sesungguhnya lamanya salat seseorang dan pendeknya khotbah seseorang merupakan tanda kepahaman seseorang terhadap agamanya.” (HR. Ahmad)
Walaupun ringkas, khotbah Rasulullah bisa dipahami oleh sahabat dengan pemahaman yang baik karena kefaqihan beliau dan beliau Allah berikan sebuah sifat yang mulia, yaitu jawami’ul kalim: perkatan yang pendek, akan tetapi terkandung makna yang kaya di dalamnya. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُعِثتُ بجَوامِعِ الكَلِمِ
“Aku diutus dengan jawami’ul kalim.” (HR. Bukhari)
Akan tetapi, tidak semua khotbah Rasulullah itu pendek. Rasulullah terkadang khotbah dengan waktu yang pertengahan sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh radhiyallahu ‘anhu,
كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم قصدا، وخطبته قصدا، يقرأ آيات من القرآن ويذكر الناس
“Salatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu pertengahan, khotbah beliau juga pertengahan. Beliau membaya ayat-ayat dari Al-Qur’an, lalu memberi peringatan kepada manusia.” (HR. Abu Daud)
Rasulullah juga pernah berkhotbah sangat panjang seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis,
صلَّى بنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الصُّبحَ ثمَّ صعِد المِنبَرَ فخطَب حتَّى حضَرتِ الظُّهرَ ثمَّ نزَل فصلَّى ثمَّ صعِد المِنبَرَ فخطَبَنا حتَّى حضَرتِ العصرُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengimami kami pada salat fajar (subuh), lalu beliau naik ke mimbar, lalu berkhotbah kepada kami hingga datang waktu zuhur, kemudian beliau turun, lalu salat. Beliau pun naik lagi ke mimbar, lalu berkhotbah kepada kami hingga datang waktu asar.” (HR. Muslim)
Kesimpulannya adalah bahwa durasi khotbah Rasulullah itu tergantung kebutuhan ketika itu. Mayoritas khotbah beliau adalah pendek, tetapi jika ada hal penting yang perlu disampaikan, beliau terkadang khotbah dengan durasi yang lama.
Kapan Rasulullah khotbah?
Sekarang ini kita mendengarkan khotbah biasanya hanya pada waktu tertentu saja, seperti khotbah Jumat, khotbah setelah salat di hari raya, dan lainnya. Akan tetapi, Rasulullah berkhotbah setiap ada keperluan untuk menyampaikan khotbah, bukan hanya pada waktu-waktu yang sudah disyariatkan untuk khotbah seperti pada khotbah Jumat, khotbah setelah salat Id, dan lainya. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sebelummnya bahwa suatu ketika, Rasulullah khotbah setelah salat subuh.
Rasulullah terkadang memotong khotbah
Salah satu hal yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhotbah adalah memotong khotbah beliau ketika ada keperluan. Ketika ada hal lain yang diperlukan untuk disampaikan ketika berkhotbah, beliau memotong khotbahnya terlebih dahulu. Salah satu contohnya adalah ketika Rasulullah memotong khotbah beliau untuk mengingatkan salat tahiyatul masjid sebelum duduk di masjid sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ، فَجَلَسَ، فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
“Sulaik al-Ghatafani datang pada hari Jumat ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang berkhotbah, lalu langsung duduk. Maka Rasulullah berkata padanya, ‘Wahai Sulaik, bangunlah dan rukuklah (salatlah) dua rakaat, dan persingkatlah salatmu.’“ (HR. Muslim)
Dari hadis di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa boleh bagi khatib untuk memotong khotbahnya untuk memperingatkan dan memberi edukasi lain ketika menyampaikan khotbah. Hadis ini juga menunjukkan kepedulian dan perhatian Rasulullah terhadap umatnya. Beliau mendahulukan menyampaikan hal yang penting bagi para sahabat ketika itu.
Khotbah Rasulullah diakhiri dengan doa
Di antara hal yang dilakukan Rasulullah ketika berkhotbah adalah mengakhiri khotbahnya dengan doa untuk kaum muslimin untuk mendapatkan ampunan dan rahmat. Dalam sebuah riwayat disebutkan,
سَمِعتُ عِمارةَ بنَ رُوَيبةَ وبِشْرُ بنُ مَرْوانَ يَخطُبُ، فرَفعَ يَديْه في الدُّعاءِ، فَقال عِمارةُ: قَبَّح اللهُ هاتَينِ اليَديْنِ القَصيرَتينِ! لَقد رَأيتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم، وَما يَزيدُ على أنْ يَقولَ هَكذا؛ وأَشارَ هُشَيمٌ بِالسَّبَّابةِ
”Aku mendengar ‘Umarah bin Ruwaybah saat Bishr bin Marwan sedang berkhotbah, lalu ia (Bishr) mengangkat kedua tangannya ketika berdoa. ‘Umarah berkata, ‘Semoga Allah memburukkan kedua tangan yang pendek ini! Sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak melakukan lebih dari ini (saat berdoa di atas mimbar).’ Lalu Hushaym (salah satu perawi) memberikan isyarat dengan jari telunjuknya.” (HR. Muslim)
Berdasarkan riwayat ini, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah berdoa setelah khotbah dan beliau memberikan isyarat menggunakan jari telunjuknya ketika berdoa, bukan dengan mengangkat kedua tangannya.
Penutup
Itulah di antara dalil tentang bagaimana khotbah Rasulullah. Semoga dengan mengenali bagaimana khotbah beliau shallallahu ’alaihi wa sallam, kita bisa mengetahui bagaimana beliau senantiasa membimbing para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari cara beliau berkhotbah juga, kita bisa meniru beliau agar ketika mengisi khotbah, kita bisa lebih memberikan dampak manfaat bagi para jemaah yang mendengarkan atau menyimak khotbah.
***
Penulis: Firdian Ikhwansyah
Artikel Muslim.or.id
Referensi: islamweb.net
Artikel asli: https://muslim.or.id/113028-bagaimanakah-rasulullah-berkhotbah.html