Beranda | Artikel
Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan
11 jam lalu

Bulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,

ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع

“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)

Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,

وهو شهر المواساة

“Ramadan adalah bulan empati.”

Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,

وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء

“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”

Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,

فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير

“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]

Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,

وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها

“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”

Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan Ramadan

Suri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ

“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,

وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ

“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]

Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.

Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagi

Ada banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”

Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]

Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancar

Sebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)

Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-Nya

Pemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

إنما يرحم الله من عباده الرحماء

“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”

Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.

Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surga

Sebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,

إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)

Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinya

Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,

أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم

“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)

Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.

Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersama

Ibnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.

Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.

Jiwa sosial para salaf di bulan Ramadan

Ada derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]

Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.

Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.

Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.

Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”

Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.

Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.

Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] https://binbaz.org.sa

[2] https://www.islamweb.net/ar

[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897

[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.


Artikel asli: https://muslim.or.id/112360-mendidik-jiwa-sosial-di-bulan-ramadan.html