Beranda | Artikel
Mengenal Ayah Rasulullah ﷺ: Abdullah bin Abdul Muththalib
12 jam lalu

Setelah sebelumnya kita membahas sedikit biografi Hasyim dan Abdul Muththalib, pada kesempatan ini kita akan mengenal sosok ayahanda Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Abdullah bin Abdul Muththalib.

Ibu Abdullah bernama Fāthimah binti ‘Amr bin Ā’idz bin ‘Imrān bin Makhzūm bin Yaqazhah bin Murrah (فاطمة بنت عمرو بن عائذ بن عمران بن مخزوم بن يقظة بن مرة). Ia adalah anak laki-laki bungsu dari Abdul Muththalib. Abdullah adalah anak yang paling tampan, paling menjaga kehormatan, dan paling dicintai oleh Abdul Muththalib dari anak-anak lelaki lainnya. Ia adalah adz-dzabīh (yang hampir disembelih). Diriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui yang meminta suatu permintaan kepada Rasulullah ﷺ dan di akhir perkataannya, Arab Badui tersebut berkata,

يَا ابن الذَّبيحينِ

“Wahai anak dari dua orang yang hampir disembelih.”

Rasulullah kemudian tersenyum mendengar perkataannya tersebut dan tidak mengingkarinya. Riwayat ini disebutkan oleh al-Hākim, namun adz-Dzahabi menyatakan bahwa sanad hadis tersebut sangat lemah.

Baca juga: Mengenal Keluarga Rasulullah: Hasyim dan Abdul Muththalib

Kisah penyembelihan Abdullah bin Abdul Muththalib

Abdul Muththalib sempat bernazar saat menggali sumur Zamzam, jika ia dikaruniai sepuluh orang anak laki-laki yang bisa melindunginya, maka ia akan menyembelih salah satunya. Setelah sekian lama, tibalah masa tersebut. Kemudian Abdul Muththalib menyampaikan nazar tersebut kepada anak-anaknya dan mereka menaatinya. Abdul Muththalib menuliskan nama-nama anak lelakinya pada anak panah undian dan menyerahkannya kepada penjaga berhala Hubal.

Setelah diundi, keluarlah nama Abdullah. Abdul Muththalib kemudian bersiap hendak menyembelihnya dan membawanya menuju Ka’bah. Akan tetapi, orang-orang Quraisy merasa keberatan dan meminta Abdullah untuk tidak melakukan hal tersebut, terutama paman dari pihak ibunya dan saudaranya, Abu Thālib.

Kemudian Abdul Muththalib berkata, “Lantas bagaimana aku harus menunaikan nazarku?” Kemudian kaum Quraisy menyarankan agar Abdul Muththalib mendatangi seorang peramal perempuan (‘arrāfah) yang berada di Khaibar untuk meminta pendapatnya. Abdul Muththalib bersama rombongan orang-orang Quraisy kemudian berkendara menuju Khaibar. Setelah sampai, Abdul Muththalib pun menceritakan kejadiannya dan meminta arahan kepadanya. Singkat cerita, peramal tersebut bertanya, “Berapa nilai diyat di masyarakat kalian?”

Diyat adalah harta yang harus diberikan kepada keluarga korban pembunuhan sebagai ganti dari orang yang terbunuh. Abdul Muththalib menjawab bahwa diyatnya adalah 10 ekor unta. Peramal tersebut lalu memerintahkan agar dilakukan undian antara Abdullah dengan 10 ekor unta. Jika nama Abdullah masih keluar, maka tambahkan 10 ekor unta lagi sampai Tuhannya rida, yakni sampai unta yang keluar. Jika undian jatuh pada unta, maka unta-unta itulah yang disembelih.

Abdul Muththalib lalu kembali ke Makkah dan menjalankan perintah peramal tersebut. Setelah dilakukan pengundian, nama Abdullah-lah yang keluar. Kemudian ditambahlah 10 ekor unta, lalu diundi. Pengundian dilakukan berkali-kali lantaran nama Abdullah masih terus keluar. Setelah jumlah unta mencapai 100 ekor, barulah undian jatuh kepada unta. Akhirnya, Abdul Muththalib menyembelih 100 ekor unta tersebut sebagai tebusan bagi Abdullah. Sejak peristiwa tersebut, diyat di kalangan Quraisy dan bangsa Arab adalah seratus ekor unta dari yang sebelumnya adalah 10 ekor unta. Ketentuan ini kemudian ditetapkan dalam Islam.

Kisah pernikahan Abdullah bin Abdul Muththalib

Dikisahkan bahwa Abdul Muththalib mengajak Abdullah untuk menemui Wahb bin ‘Abdu Manāf (وهب بن عبد مناف). Di tengah jalan, Abdullah bertemu dengan seorang wanita bernama Ummu Qitāl (أم قتال). Ia adalah saudari Waraqah bin Naufal (ورقة بن نوفل). Wanita tersebut melihat wajah Abdullah kemudian menanyainya, “Hendak pergi ke mana engkau, wahai Abdullah?” Kemudian wanita itu mengisyaratkan tawaran hubungan yang tidak dibenarkan dengan imbalan besar, tetapi Abdullah menolaknya dan tetap bersama ayahnya.

Tibalah ia di kediaman Wahb bin ‘Abdu Manāf. Ia adalah pemimpin Bani Zuhrah saat itu. Wahb memiliki anak perempuan bernama Āminah binti Wahb bin ‘Abdu Manāf bin Zuhrah bin Kilāb (آمنة بنت وهب بن عبد مناف بن زهرة بن كلاب).

Āminah pada masa itu dinilai sebagai wanita yang terbaik dari sisi nasab dan kedudukan di kalangan Quraisy. Wahb kemudian menikahkan Āminah dengan Abdullah. Usia Abdullah saat itu adalah 18 tahun. Setelah pernikahan tersebut, Abdullah tinggal selama 3 hari di rumah keluarga Āminah. Tak lama setelah itu, istrinya mengandung.

Kisah wafatnya Abdullah bin Abdul Muththalib

Abdullah dan Āminah kemudian menetap di Makkah. Saat Āminah telah hamil, Abdullah mendapat tugas dari Abdul Muththalib untuk membeli kurma ke Madinah. Di sanalah ia meninggal dunia. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdullah melakukan perdagangan ke negeri Syam. Setelah kembali dari Syam, ia singgah di Madinah dalam keadaan sakit. Tak lama setelah itu, ia meninggal dunia di sana. Ia dimakamkan di rumah an-Nābighah al-Ja’di (النابغة الجعدي). Dalam versi lainnya disebutkan bahwa Abdullah dimakamkan di tempat Bani ‘Adī bin Najjār (بني عدي بن النجار). Disebutkan bahwa Abdullah meninggal dunia dua bulan setelah kehamilan Āminah.

Abdullah meninggal dunia saat berusia 25 tahun. Wafatnya Abdullah terjadi sebelum kelahiran Rasulullah ﷺ enam bulan di dalam kandungan. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas sejarawan. Ketika kabar wafatnya Abdullah sampai ke Makkah, Āminah meratapinya dengan syair ratapan yang indah. Seluruh harta peninggalan Abdullah adalah lima ekor unta, beberapa ekor kambing, dan seorang budak perempuan asal Habasyah bernama Barakah yang kunyah-nya adalah Ummu Aiman. Ummu Aiman inilah yang kelak menjadi pengasuh Rasulullah ﷺ.

Abdullah bin Abdul Muththalib wafat sebelum sempat menyaksikan kelahiran putranya, Muhammad ﷺ. Namun, justru dari ketidakhadirannya itulah tampak hikmah Allah dalam menyiapkan Rasul terakhir-Nya. Ketiadaan figur ayah membuat beliau ﷺ tumbuh dengan bergantung sepenuhnya kepada Rabbnya. Sosok Abdullah tercatat dalam sejarah karena kemuliaan nasab, penjagaan kehormatan, dan perannya sebagai mata rantai suci yang mengantarkan lahirnya manusia paling mulia di muka bumi.

Baca juga: Mengenal Anak-Anak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

  • al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ismā’īl Ibnu Katsīr ad-Dimasyqi.
  • ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.
  • Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.
  • Silsilah al-Ahādits adh-Dha’īfah wa al-Maudhū’ah wa Atsaruhā as-Sayyi’ fī al-Ummah, karya Nāshiruddīn al-Albāni.

Artikel asli: https://muslim.or.id/112012-mengenal-ayah-rasulullah-%ef%b7%ba-abdullah-bin-abdul-muththalib.html