Beranda | Artikel
Tafsir Surah An-Naba (Bag. 1): Kabar Apa yang Diributkan oleh Suku Quraiys?
10 jam lalu

Surah An-Naba adalah surat nomor 78 dalam Al-Qur’an yang menjadi pembuka dari juz yang paling populer bagi kaum muslimin di Indonesia atau bahkan mungkin di dunia, yaitu juz 30. Juz 30 dalam Al-Qur’an juga mendapatkan nama Juz Amma dikarenakan dibuka dengan ayat pertama dari surat ini.

Surah An-Naba memiliki arti “berita”. Adapun nama lain yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya adalah surah ‘Amma, surah ‘Amma yatasa’alun, surah At-Tasaul, dan surah Al-Mu’shirot. (Tafsir Ruhul Ma’ani, 15: 201)

Surah ini juga dikategorikan sebagai surah Makkiyah, yaitu surah yang turun kepada Rasulullah sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. (Tafsir Ruhul Ma’ani, 15: 201)

Asbabun nuzul atau sebab dari turunnya surah ini adalah dikarenakan ketika Nabi Muhammad diutus sebagai seorang Nabi dan Rasul, orang-orang musyrik Quraisy saling bertanya-tanya satu dengan yang lainnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir serta Abu Hatim dari Hasan Al-Bashri bahwa,

 لما بعث النبي ﷺ جعلوا يتساءلون بينهم، فنزلت: عَمَّ يَتَساءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi seorang Nabi, mereka bertanya-tanya tentangnya. Maka turunlah ayat عَمَّ يَتَساءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ” (Tafsir Munir, 30: 9)

Dalam tafsir Bahrul Muhits, Imam Abu Hayyan Al-Andalusi menjelaskan sebab turunnya surat ini,

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ لَمَّا بُعِثَ، جَعَلَ الْمُشْرِكُونَ يَتَسَاءَلُونَ بَيْنَهُمْ فَيَقُولُونَ: مَا الَّذِي أَتَى بِهِ؟ وَيَتَجَادَلُونَ فِيمَا بُعِثَ بِهِ، فَنَزَلَتْ

“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi seorang Nabi, mereka bertanya-tanya, “ajaran apa yan dia bawa?” Mereka juga berdebat tentang ajaran yang dibawa tersebut. Maka Allah turunkan surah ini.” (Tafsir Bahrul Muhith, 10: 11)

Surah An-Naba memiliki beberapa tema yang terkandung di dalamnya, setidaknya ada empat tema besar yang tercakup.

Pertama, tema tentang orang-orang musyrik yang mempertanyakan dan berdebat tentang hari kiamat. Hal ini ada dalam ayat 1-4.

Kedua, tema tentang dalil dan petunjuk yang jelas tentang akan adanya hari kiamat, yaitu Allah bisa menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan, maka Allah juga mampu untuk membangkitkan setelah kematian. Hal ini ada dalam ayat 6-16.

Ketiga, menceritakan hari kiamat serta salah satu namanya, yaitu hari pemisah. Hal ini ada dalam ayat 17-20.

Keempat, menceritakan tentang azab yang diancamkan kepada orang kafir serta janji kenikmatan surga yang tak terbatas bagi kaum muslimin. Hal ini ada dalam ayat 21 sampai selesai. (Tafsir Munir, 30: 6)

Tafsir ayat pertama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ

“Tentang apakah mereka saling bertanya?”

Allah Ta’ala membuka surah ini dengan sebuah pertanyaan, “Hal apa yang mereka pertanyakan?” Akan tetapi, tentu saja bukan maksud Allah tidak mengetahui apa yang mereka pertanyakan, bahkan kita harus yakin 100% bahwa Allah tahu apa yang mereka pertanyakan.

Lantas, mengapa Allah menggunakan kata tanya?

Di sinilah perlunya merenungi keindahan bahasa dan balaghah dari Al-Qur’an ketika kita merenunginya. Imam Baghawi dan Imam Nasafi menjelasakan, bahwa Allah membuka ayat ini dengan bentuk pertanyaan, namun bukan dalam artian Allah tidak mengetahui, namun dalam bentuk tafkhim, yaitu menunjukkan bentuk pengagungan dan kehebatan atas perkara yang sedang dibahas dan diributkan oleh orang-orang musyrik. (Ma’alimut Tanzil, 5: 199 dan Madarikut Tanzil, 3: 589)

Pertanyaan orang-orang musyrikin muncul setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka tentang tauhid, kabar kebangkitan setelah kematian, serta membacakan kepada mereka ayat Al-Qur’an. Karena hal ini asing bagi mereka, sehingga mereka mempertanyakannya (Ma’alimut Tanzil, 5: 199). Karena dalam bentuk tafkhim, maka hal ini menunjukkan bahwa semua ajaran yang dibawa oleh Rasulullah adalah hal yang sangat agung, meskipun kelihatannya kecil, seperti perkara adab keseharian atau doa-doa ringan sehari-hari.

Pertanyaan dalam ayat ini juga bisa bermakna ta’jibus sami’in, yaitu perasaan heran dari orang yang mendengar suatu keributan. Hal ini, jika kita bahasakan, muncul dikarenakan keheranan, bagaimana bisa orang musyrik Quraisy mengingkari dan meledek atas ajaran Nabi berupa datangnya hari pembalasan? (Shafwatut Tafasir, 3: 482)

Baca juga: Mengenal Surah Al-Lahab dan Bukti Al-Quran bukan Tulisan Nabi Muhammad

Tafsir ayat kedua

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ

“Tentang berita yang besar (hari kebangkitan).”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan tentang hari kiamat,

أَيْ: عَنْ أَيِّ شَيْءٍ يَتَسَاءَلُونَ؟ مِنْ أَمْرِ الْقِيَامَةِ، وَهُوَ النَّبَأُ الْعَظِيمُ، يَعْنِي: الْخَبَرَ الْهَائِلَ الْمُفْظِعَ الْبَاهِرَ

قَالَ قَتَادَةُ، وَابْنُ زَيْدٍ: النَّبَأُ الْعَظِيمُ: الْبَعْثُ بَعْدَ الْمَوْتِ

“Tentang hal apa yang mereka pertanyakan? Yaitu tentang hari kiamat, itulah berita besar yang dimaksud dalam ayat. Yaitu berita tentang suatu hari yang sangat mengerikan dan menakutkan. Pendapat ini didukung oleh Qatadah dan Ibnu Zaid bahwa berita besar yang dimaksudkan adalah kebangkitan setelah kematian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 459)

Tafsir ayat ketiga

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَۗ

“Yang dalam hal itu mereka berselisih.”

Imam Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun menjelaskan bahwa orang musyrik tidak ragu dalam masalah kematian, mereka tahu dan yakin bahwa semua orang akan mati. Akan tetapi, yang mereka perselisihkan di sini adalah tentang kebangkitan setelah kematian. Kaum muslimin meyakini bahwa setelah kematian akan ada kehidupan setelahnya; adapun orang musyrik tidak percaya akan dibangkitkan kembali.” (An-Nukat wal ‘Uyun, 6: 182)

Pemikiran orang musyrik adalah setelah mati, maka kehidupan selesai. Di antara hal yang menyebabkan mereka memiliki pemikiran ini adalah mereka telah terlalu lama bergelimang dalam kezaliman, sehingga merasa sangat takut kalau-kalau benar nanti akan dibangkitkan lagi dan harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka.

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Taisir Kalimir Rahman menjelaskan,

وهو النبأ الذي لا يقبل الشك ولا يدخله الريب، ولكن المكذبون بلقاء ربهم لا يؤمنون، ولو جاءتهم كل آية حتى يروا العذاب الأليم

“Hal yang diperselisihkan oleh orang musyrik adalah suatu berita besar yang tidak ada keraguan bahwa itu akan datang. Akan tetapi, orang-orang yang mendustakan hari bertemu dengan Rabbnya, mereka tidaklah beriman, meskipun datang kepada mereka bermacam-macam ayat. Sampai akhirnya, datanglah azab yang sangat mengenaskan kepada meraka (barulah mereka percaya, namun sudah terlambat).” (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)

Tafsir ayat keempat dan kelima

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ , ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui. Sekali lagi, tidak! Kelak mereka akan mengetahui.”

Namun yakinlah, bahwa nanti di hari kiamat mereka akan mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah kebenaran. Ketika mereka melihat azab yang mengerikan, sudah tidak ada tempat kembali, tidak ada lagi waktu untuk bertobat dan mengakui kesalahan, tinggallah neraka yang menyala-nyala yang akan melahap dan membakar mereka sampai hangus, dihuni oleh malaikat-malaikat yang tidak segan-segan menyiksa mereka dengan sadis. Baru saat itu, mereka benar-benar percaya.

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

أي: سيعلمون إذا نزل بهم العذاب ما كانوا به يكذبون، حين يدعون إلى نار جهنم دعا

“Orang-orang musyrik akan mengetahui kebenaran hari kiamat ketika datang kepada mereka siksaan azab. Suatu azab pedih yang dahulu mereka dustakan. Ketika mereka diseret-seret menuju neraka Jahanam.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)

Demikian tafsir ringkas yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Fatihah

[Bersambung]

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Daftar Pustaka

Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.

Alusi, Syihabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.

Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar ihya At-Turats.

Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.

Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Tafsir Al-Muyassar.

Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). Al-Nukat wa Al-Uyun (Vols. 1-6). Beirut: Dar Al-Kutub AL-Ilmiyyah.

Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.

Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.

Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.

Catatan tambahan: semua referensi diambil dari web https://app.turath.io/


Artikel asli: https://muslim.or.id/111451-tafsir-surah-an-naba-bag-1.html