Beranda | Artikel
Mengapresiasi Ikhtiar Sesama: Akhlak yang Terlupa
5 hari lalu

Dalam perjalanan hidup ini, kita berjalan berdampingan dengan manusia yang Allah ciptakan dengan takaran yang berbeda-beda. Ada yang diberi tenaga kuat, ada yang fisiknya lemah. Ada yang luas ilmunya, ada yang masih merangkak dalam belajar. Ada yang lapang waktunya, ada pula yang terbatas oleh amanah keluarga dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi kemampuan hamba-hamba-Nya.

Namun, salah satu kesalahan yang sering muncul di lingkungan masyarakat, bahkan dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan atau meremehkan orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, hanya karena hasil yang dicapai tidak sesuai harapan dan ekspektasi.

Terkadang hanya karena hasilnya tak seindah harapan tesebut, kita lupa bahwa di balik upaya itu ada hati yang berjuang, ada niat yang tulus, dan ada batas kemampuan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.

Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,

مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah berniat baik dan berusaha semampunya, maka tidak pantas bagi siapa pun untuk mencela atau merendahkannya. Karena di sisi Allah, yang dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.

Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasil

Dalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih penting daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah amal tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.

Seseorang mungkin hanya mampu memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang yang memberi banyak.

Ada yang ingin membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, atau keluarganya membutuhkan perhatian.

Ada yang tampak tidak banyak berkontribusi, padahal ia tengah berjuang dengan kondisi yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang yang ingin berjihad, namun memiliki keterbatasan fisik, kesehatan, atau kondisi lain yang menghalangi. Meski mereka tidak bisa hadir di medan perang, Allah menyebut mereka berbuat baik karena niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan yang mereka mampu.

Ada orang yang tidak hadir dalam kegiatan bukan karena malas, tetapi karena sakit atau beban berat yang ia pikul diam-diam.

Ada yang tidak mampu memberi banyak, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ekonomi yang sempit.

Ada yang tampak kurang bergerak, padahal ia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, atau menyusun waktu yang sangat terbatas.

Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah bentuk ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)

Baca juga: Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang Muslim

Mengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hati

Menghargai usaha orang lain adalah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan kemampuan sahabat, bahkan ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.

Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabat sudah berjalan jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru bersabda dalam bentuk apresiasi,

رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ

“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia berjalan sendirian, ia mati sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)

Sikap ini sangat penting di dunia modern:

Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.

Dalam keluarga, penghargaan membuat anggota merasa dihargai dan dicintai.

Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap usaha kecil sekalipun mampu meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.

Sebaliknya, kritik yang tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membuat seseorang enggan berusaha kembali.

Membedakan antara evaluasi dan menghakimi

Perlu dipahami bahwa menghargai usaha bukan berarti menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan kegiatan apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:

Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan cara yang lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi atau merendahkan.

Allah tidak menyukai orang yang mencari-cari kesalahan dalam diri orang yang sudah berusaha dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk melihat kebaikan yang telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana kaidah dalam Al-Quran,

مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Memberi teladan untuk perbaikan

Dalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang bagaimana pekerjaan itu seharusnya dilakukan. Ketika seseorang melihat teladan langsung, cara bekerja yang rapi, sikap yang amanah, atau pelayanan yang penuh adab, maka ia lebih mudah memahami dan meniru.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan hal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk berbuat ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan), lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)

Oleh karena itu, jika kita ingin pekerjaan dalam keluarga, lembaga, atau komunitas menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan teliti, bagaimana menjaga amanah waktu, bagaimana bekerja tanpa mengeluh, atau bagaimana melayani dengan hati.

Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.

Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan yang diberkahi.

Baca juga: Hakikat Tawadu yaitu Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

 


Artikel asli: https://muslim.or.id/111445-mengapresiasi-ikhtiar-sesama-akhlak-yang-terlupa.html