Beranda | Artikel
Mengenal Nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram
11 jam lalu

Allah Tabāraka wa Ta‘ālā memiliki nama-nama yang paling indah. Barang siapa mengimaninya, memahaminya, dan mengamalkannya, niscaya ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Di antara nama Allah yang agung adalah Al-Kariim dan Al-Akram, dua nama yang menunjukkan keluasan karunia, kemuliaan zat, dan kesempurnaan sifat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta konsekuensi dari penetapan kedua nama tersebut bagi seorang hamba.

Dalil nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram

Nama Allah “Al-Kariim” disebutkan sebanyak tiga kali, yaitu dalam firman Allah Ta‘ālā,

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Rabb ‘arsy Yang Mahamulia.”  (QS. al-Mu’minūn: 116) bagi yang membaca al-kariimu (rafa’), sehingga dia merupakan sifat bagi Rabb. [1]

Dan firman-Nya,

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. an-Naml: 40)

Dan firman-Nya Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?” (QS. al-Infiṭār: 6)

Adapun nama Al-Akram, maka disebutkan dalam firman Allah Ta‘ālā,

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia.” (QS. al-‘Alaq: 3) [2]

Kandungan makna nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram

Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata Al-Kariim dan Al-Akram secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari Al-Kariim dan Al-Akram

Kata al-kariim merupakan ṣifah musyabbahah dengan wazan fa‘īl, berasal dari kata (karuma–yakrumu), sedangkan al-akram adalah bentuk tafdhīl (perbandingan paling), dan bukan mubālaghah (penegasan berlebih). [3]

Tentang makna kata, Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,

(كرم) الْكَافُ وَالرَّاءُ وَالْمِيمُ أَصْلٌ صَحِيحٌ لَهُ بَابَانِ: أَحَدُهُمَا شَرَفٌ فِي الشَّيْءِ فِي نَفْسِهِ أَوْ شَرَفٌ فِي خُلُقٍ مِنَ الْأَخْلَاقِ. … وَالْأَصْلُ الْآخَرُ الْكَرْمُ، وَهِيَ الْقِلَادَةُ

“Huruf kaf, ra, dan mim merupakan satu akar kata yang sahih, yang memiliki dua makna pokok:

(1) Kemuliaan pada sesuatu itu sendiri, atau kemuliaan dalam salah satu akhlak. …
(2) Adapun makna asal lainnya dari al-karm adalah kalung (perhiasan).” [4]

Al-Fayyumiy rahimahullah menyebutkan,

(ك ر م) : كَرُمَ الشَّيْءُ كَرَمًا نَفُسَ وَعَزَّ فَهُوَ كَرِيمٌ

“Sesuatu disebut karuma apabila ia bernilai tinggi dan mulia. Pelakunya disebut kariim.” [5]

Makna Al-Kariim dan Al-Akram dalam konteks Allah

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ ‌رَبِّي ‌غَنِيٌّ ‌كَرِيمٌ} أَيْ: هُوَ غَنِيٌّ عَنِ الْعِبَادِ وَعِبَادَتِهِمْ، {كَرِيمٌ} أَيْ: كَرِيمٌ فِي نَفْسِهِ، وَإِنْ لَمْ يَعْبُدْهُ أَحَدٌ، فَإِنَّ عَظَمَتَهُ لَيْسَتْ مُفْتَقِرَةً إِلَى أَحَدٍ

“Maksud firman-Nya (yang artinya), ‘Dan barang siapa kufur, maka sungguh Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia’, yaitu Allah Mahakaya dari seluruh hamba dan dari ibadah mereka. Dan makna ‘Karīm’ adalah: Dia Mahamulia pada Zat-Nya sendiri, sekalipun tidak ada seorang pun yang menyembah-Nya, karena keagungan-Nya sama sekali tidak bergantung kepada siapa pun.” [6]

Di tempat yang lain, dalam penafsiran firman Allah Ta‘ālā,

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

beliau berkata,

الْمَعْنَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ: مَا غَرَّكَ يَا ابْنَ آدَمَ ‌بِرَبِّكَ ‌الْكَرِيمِ-أَيِ: الْعَظِيمِ

“Makna ayat ini adalah, ‘Wahai anak Adam, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Mahamulia?’, yakni: Yang Mahaagung.” [7]

Syekh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī rahimahullāh ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ālā di surah al-’Alaq ayat ketiga, beliau berkata,

ثم قال: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ ‌الأكْرَمُ} أي: كثير الصفات واسعها، كثير الكرم والإحسان، واسع الجود، الذي من كرمه أن علم بالعلم

“Kemudian Allah berfirman (yang artinya), ‘Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Mahamulia’, yaitu Rabb yang memiliki banyak sifat dan luas sifat-sifat-Nya, banyak karunia dan kebaikan-Nya, luas kemurahan-Nya; dan termasuk bentuk kemurahan-Nya adalah Dia mengajarkan ilmu.” [8]

Masih dalam penjelasan Syekh as-Sa‘dī, beliau berkata tentang makna nama-nama Allah yang serupa,

الرحمن، الرحيم، البر، ‌الكريم، الجواد، الرؤوف، الوهاب. هذه الأسماء تتقارب معانيها، وتدل كلها على اتصاف الرب بالرحمة، والبر، والجود، والكرم، وعلى سعة رحمته ومواهبه، التي عم بها جميع الوجود، بحسب ما تقتضيه حكمته، وخص المؤمنين منها بالنصيب الأوفر، والحظ الأكمل 

“Nama-nama Allah: Ar-Raḥmaan, Ar-Raḥiim, Al-Barr, Al-Kariim, Al-Jawaad, Ar-Ra’uuf, Al-Wahhaab; semuanya saling berdekatan maknanya. Seluruhnya menunjukkan bahwa Rabb memiliki sifat rahmat, kebaikan, kemurahan, dan kedermawanan, serta keluasan rahmat dan pemberian-Nya yang meliputi seluruh makhluk sesuai dengan hikmah-Nya. Dan Allah mengkhususkan orang-orang beriman dengan bagian yang paling banyak dan bagian yang paling sempurna. … ” [9]

Syekh Abdurrazzaaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengatakan tentang makna lafaz “الكرم”: “Lafaz ini merupakan lafaz yang mencakup seluruh kebaikan dan pujian, bukan hanya pemberian biasa, namun pemberian dengan kesempurnaan maknanya.” [10]

Konsekuensi dari nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram bagi hamba

Penetapan nama Al-Kariim dan Al-Akram bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:

Beriman bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk nama-nama Allah

Seorang hamba hendaknya mengimani bahwa Al-Kariim dan Al-Akram termasuk dalam nama-nama Allah, dan menetapkan makna-makna yang terkandung dalam nama-nama tersebut; sebagaimana telah berlalu dalil penetapnnya dari Al-Quran.

Mendorong hamba untuk memperbanyak doa karena Rabb-nya Maha Pemurah

Di antara makna Al-Kariim adalah Zat yang malu menolak permintaan hamba-Nya ketika hamba tersebut berdoa dan memohon kepada-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ﷺ,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

Sesungguhnya Rabb kalian Mahapemalu lagi Mahamulia. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (untuk berdoa), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Abu Dāwud no. 1488 dan selainnya; disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)

Keyakinan terhadap keluasan pahala dan ampunan sebagai buah kemurahan Allah

Di antara bentuk kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan barang siapa berniat melakukan keburukan lalu tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan.” (HR. Bukhari no. 6491)

Dalam riwayat Muslim ditambahkan,

وَمَحَاهَا اللَّهُ، وَلَا يَهْلِكُ عَلَى اللَّهِ إِلَّا هَالِكٌ

Dan Allah menghapusnya. Tidaklah binasa di sisi Allah kecuali orang yang benar-benar binasa.” (HR. Muslim no. 131)

Kesadaran bahwa takwa merupakan sebab kemuliaan sejati di sisi Allah

Sebab utama untuk memperoleh kemuliaan Allah yang Mahamulia adalah ketakwaan kepada-Nya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah Ta‘ālā berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Ḥujurāt: 13) [11]

Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu disebutkan, ketika Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” (Muttafaqun ‘alaih)

Kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan karena iman dan takwa, yang kekal hingga akhirat dan mengantarkan pelakunya ke Dār al-Karāmah (negeri kemuliaan). Adapun kemuliaan dunia yang dimiliki oleh orang-orang fajir dan kafir hanyalah sementara dan akan berubah menjadi kehinaan di hari kiamat. [12]

Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah Al-Kariim dan Al-Akram semakin menguatkan keimanan kita kepada-Nya, menumbuhkan keyakinan akan keluasan karunia dan kemurahan-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan amal saleh, serta menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan sejati hanya diraih dengan iman dan takwa. Semoga pula pemahaman ini menjauhkan kita dari sikap sombong, putus asa, dan ketergantungan kepada selain Allah. Aamiin.

***

Rumdin PPIA Sragen, 11 Rajab 1447

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi utama:

  • Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.
  • Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.
  • Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.
  • An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.

Catatan kaki:

[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 215. Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, 12: 157.

[2] An-Nahj al-Asma, hal. 262.

[3] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 587 dan 597.

[4] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, hal. 806.

[5] Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, hal. 541.

[6] Tafsīr Ibnu Katsīr, 6: 193.

[7] Ibid, 8: 342.

[8] Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal. 930.

[9] Ibid, hal. 946.

[10] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 216. Kemudian, beliau menyebutkan beberapa makna tersebut dengan pembahasan yang sangat bagus. Lihat hal. 216-218 dari kitab beliau tersebut. Lihat juga An-Nahj al-Asma, hal. 263-264.

[11] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 218.

[12] An-Nahj al-Asma, hal. 271.


Artikel asli: https://muslim.or.id/111312-mengenal-nama-allah-al-kariim-dan-al-akram.html