Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 12): Tatsabbut dan Mengakui Kesalahan
Cepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.
Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?
Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ
“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”
Dampak dari tidak crosscheck
Allah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:
1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.
2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.
Berikut penjelasannya,
من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،
Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.
فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،
Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.
Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.
Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.
Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.
Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)
Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.
Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyun
Teladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.
Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)
Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,
وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ
“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)
Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.
Siap mengakui kesalahan
Salah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,
فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك
“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)
Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.
Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.
Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)
Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.
Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.
Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,
وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”
Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.
Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:
Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.
Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.
Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.
Hikmah tatsabbut
Asas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:
1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 6
2) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;
3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;
4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;
5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;
6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;
7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.
Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/110549-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-12.html