Beranda | Artikel
Biografi Imam Ali bin al-Madini (Bag. 2): Ujian, Warisan Karya, dan Akhir Hayat Imam Ali bin al-Madini
10 jam lalu

Keterlibatan Ali bin al-Madini dalam mihnah (ujian) tentang pernyataan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, dampaknya, dan akhir perkaranya

Ali bin al-Madini رحمه الله termasuk ulama yang terlibat dalam mihnah (ujian) terkait pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Keterlibatannya tersebut terjadi karena rasa takut terhadap keselamatan dirinya. Ia tidak mampu bertahan sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya yang tetap teguh menghadapi ujian tersebut. Ia merasa gentar terhadap berbagai bentuk intimidasi dan penindasan yang dialami oleh orang-orang yang menolak mengikuti seruan para pendukung paham khalq al-Qur’an (Al-Qur’an adalah makhluk). Karena hal tersebut, sebagian ahli hadis, termasuk Imam Muslim, tidak meriwayatkan hadis darinya.

Namun, Ali bin al-Madini kemudian bertobat dan kembali kepada kebenaran. Dari pernyataannya sendiri maupun keterangan para ulama dapat dipahami bahwa keterlibatannya dalam mihnah tersebut bukan didasari keyakinan terhadap akidah bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, melainkan karena rasa takut terhadap keselamatan dirinya. Ia sendiri secara terang-terangan mengakui hal tersebut, demikian pula sejumlah ulama yang memberikan kesaksian tentang keadaannya.

Adz-Dzahabi memasukkan Ali bin al-Madini dalam kitab Mizan al-I‘tidal karena al-‘Uqaili mencantumkannya dalam kitab adh-Dhu‘afa’. Adz-Dzahabi mengkritik tindakan al-‘Uqaili tersebut dan membela Ali bin al-Madini. Ia berkata,

أحد الأعلام الأثبات وحافظ العصر ذكره العقيلي في كتاب الضعفاء ، فبئس ما صنع ، فقال : جنح إلى ابن أبي دؤاد والجهمية وحديثه مستقيم إن شاء الله

“Ia adalah salah seorang tokoh besar yang tsiqah dan hafizh pada zamannya. Al-‘Uqaili menyebutnya dalam kitab adh-Dhu‘afa’. Sungguh buruk apa yang dilakukannya. Ia berkata, ‘Ia cenderung kepada Ibnu Abi Du’ad dan kaum Jahmiyyah, namun hadisnya — insya Allah — tetap lurus.’”

Kemudian adz-Dzahabi menyebutkan sejumlah pujian para imam terhadap Ali bin al-Madini, lalu berkata, “Ia memang pernah melakukan suatu kekeliruan, tetapi kemudian ia bertobat darinya. Inilah Abu ‘Abdullah al-Bukhari dan cukuplah beliau sebagai bukti yang memenuhi kitab Shahih-nya dengan hadis-hadis Ali bin al-Madini.”

Adz-Dzahabi kemudian menukil perkataan al-Bukhari, “Aku tidak pernah merasa rendah diri di hadapan siapa pun sebagaimana ketika berada di hadapan Ali bin al-Madini.”

Al-Bukhari juga berkata bahwa seandainya ia meninggalkan hadis Ali bin al-Madini, Muhammad bin Isma‘il, ‘Abd al-Razzaq, dan sejumlah ulama lainnya yang ia sebutkan, maka pintu ilmu akan tertutup, riwayat-riwayat akan terputus, dan jejak-jejak ilmu akan hilang.

Adz-Dzahabi lalu mengkritik al-‘Uqaili dengan mengatakan bahwa orang-orang yang ia kritik tersebut jauh lebih terpercaya daripada dirinya, bahkan lebih terpercaya daripada banyak perawi tsiqah yang tidak ia masukkan ke dalam kitabnya. Menurut adz-Dzahabi, hal ini merupakan sesuatu yang tidak diragukan oleh para ahli hadis.

Adz-Dzahabi juga berkata dalam Mizan al-I‘tidal,

كان ابن المديني خوافا متاقيا في مسألة القرآن مع أنه كان حريصا على إظهار الخير

“Ibnu al-Madini adalah seorang yang sangat takut dan berhati-hati dalam persoalan Al-Qur’an, meskipun ia sangat bersemangat untuk menampakkan kebaikan.”

Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dalam Tarikh-nya bahwa ia mendengar Yahya bin Ma‘in berkata,

كان ابن المديني إذا قدم علينا أظهر السنة وإذا ورد البصرة أظهر التشيع

“Apabila Ibnu al-Madini datang kepada kami, ia menampakkan sikap Ahlusunah. Namun, ketika ia datang ke Bashrah, ia menampakkan kecenderungan kepada tasyayyu‘.”

Adz-Dzahabi kemudian menjelaskan,

كان ذلك بالبصرة ليؤلفهم على حب علي رضي الله عنه، فإنهم عثمانية

“Menurutku, hal itu ia lakukan di Bashrah untuk menarik mereka agar mencintai Ali رضي الله عنه, karena penduduk Bashrah pada waktu itu berpihak kepada ‘Utsman.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Taqrib at-Tahdzib,

عابوا عليه إجابته في المحنة لكنه تنصل وتاب واعتذر بأنه كان خاف على نفسه

“Para ulama mencela sikapnya karena memenuhi tuntutan dalam mihnah. Namun, ia kemudian melepaskan diri dari sikap tersebut, bertobat, dan memberikan alasan bahwa ia melakukannya karena takut terhadap keselamatan dirinya.”

Sementara itu, adz-Dzahabi berkata dalam Tadzkirat al-Huffazh, setelah menyebutkan berbagai keutamaan dan pujian para imam terhadapnya,

قلت مناقب هذا الإمام جمة لو ما كدرها بتعلقه بشيء من مسألة خلق القرآن وتردده إلى أحمد بن أبي دؤاد إلا أنه تنصل وندم وكفر من يقول بخلق القرآن، فالله يرحمه ويغفر له

“Aku katakan: Keutamaan-keutamaan imam ini sangatlah banyak. Seandainya tidak tercoreng oleh keterlibatannya dalam persoalan khalq al-Qur’an dan kedatangannya kepada Ahmad bin Abi Du’ad. Namun, ia kemudian menyatakan berlepas diri dari hal tersebut, menyesalinya, dan mengingkari orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya.”

Ali bin al-Madini sendiri memuji keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal dalam menghadapi mihnah. Ia berkata,

إن الله أعز هذا الدين برجلين، أبو بكر الصديق يوم الردة وأحمد بن حنبل يوم المحنة

“Sesungguhnya Allah memuliakan agama ini dengan dua orang: Abu Bakr ash-Shiddiq pada hari terjadinya kemurtadan, dan Ahmad bin Hanbal pada hari terjadinya mihnah.”

Ibnu Abi Hatim ar-Razi berkata dalam al-Jarh wa at-Ta‘dil,

وترك أبو زرعة الرواية عنه من أجل ما كان منه في المحنة وكان أبي يروي عنه لنزوعه عما كان منه

“Abu Zur‘ah meninggalkan periwayatan darinya karena apa yang dilakukannya dalam mihnah. Sedangkan ayahku tetap meriwayatkan darinya karena ia telah meninggalkan sikap yang pernah dilakukannya tersebut.”

Dalam Tarikh Baghdad, disebutkan bahwa ‘Abbas al-‘Anbari meriwayatkan dari Ali bin al-Madini bahwa ia berkata,

قوي أحمد على السوط وأنا لا أقوى

“Ahmad mampu bertahan menghadapi cambukan, sedangkan aku tidak mampu.”

Ibnu ‘Ammar berkata,

ما أجاب إلى ما أجاب ديانة إلا خوفا

“Ia tidak memenuhi tuntutan tersebut karena keyakinan agama, melainkan semata-mata karena takut.”

Ibnu as-Subki berkata dalam Thabaqat asy-Syafi‘iyyah,

وكان علي بن المديني ممن أجاب إلى القول بخلق القرآن في المحنة فنقم ذلك عليه وزيد عليه في القول، والصحيح عندنا أنه إنما أجاب خشية السيف

“Ali bin al-Madini termasuk orang yang memenuhi tuntutan untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dalam mihnah. Oleh karena itu, ia dicela dan bahkan dinisbahkan kepadanya sesuatu yang lebih dari apa yang sebenarnya ia lakukan. Namun, pendapat yang benar menurut kami adalah bahwa ia melakukan hal tersebut karena takut terhadap ancaman pedang.”

Ibnu ‘Adi berkata,

معت مسددا ابن أبي يوسف الفلوسي يقول : قلت لابن المديني : مثلك في علمك يجيب إلى ما أجبت إليه . فقال يا أبا يوسف : ما أهون عليك السيف

“Aku mendengar Musaddad bin Abi Yusuf al-Falusi berkata: Aku berkata kepada Ibnu al-Madini, ‘Orang seperti engkau, dengan keluasan ilmumu, mengapa memenuhi tuntutan sebagaimana yang engkau lakukan?’ Ia menjawab, ‘Wahai Abu Yusuf, betapa ringan bagimu ancaman pedang itu.’”

Dalam riwayat lain, Ali bin al-Madini berkata,

خفت أن أقتل ولو ضربت سوطا واحدا لمت

“Aku takut akan dibunuh. Seandainya aku dicambuk sekali saja, niscaya aku akan mati.”

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Ali bin al-Madini رحمه الله terlibat dalam mihnah karena takut terhadap keselamatan dirinya, bukan karena meyakini kebenaran paham bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Hal tersebut dinyatakan oleh dirinya sendiri dan ditegaskan pula oleh sejumlah ulama sebagaimana berbagai riwayat di atas.

Keterlibatannya dalam mihnah memang memberikan dampak terhadap kedudukannya di kalangan sebagian ahli hadis. Sebagian dari mereka bahkan meninggalkan periwayatan hadis darinya. Namun, setelah ia bertobat, menyesali perbuatannya, dan berlepas diri dari keyakinan tersebut, banyak ulama yang tetap menerima dan meriwayatkan hadis darinya.

Di antara ulama yang tetap meriwayatkan hadis darinya adalah Imam al-Bukhari, bahkan beliau meriwayatkan hadis Ali bin al-Madini dalam Shahih-nya dalam jumlah yang sangat banyak. Jumlah riwayat Ali bin al-Madini yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari mencapai 303 hadis.

Dengan demikian, para ulama hadis tetap mengakui kedudukan tinggi Ali bin al-Madini sebagai seorang imam, hafizh, dan pakar ‘ilal al-hadis, meskipun mereka juga mencatat dan mengkritisi keterlibatannya dalam mihnah tersebut.

Sebagaimana Ibnu al-Madini mengambil manfaat dari ilmu para gurunya, demikian pula para gurunya juga mengambil manfaat dari ilmu yang dimilikinya. Bahkan, sebagian dari mereka secara terang-terangan mengakui hal tersebut.

Gurunya, Yahya bin Sa‘id al-Qaththan, berkata,

كنا نستفيد منه أكثر مما يستفيد منا

“Kami lebih banyak mengambil manfaat darinya daripada manfaat yang ia ambil dari kami.”

Sementara itu, Sufyan bin ‘Uyainah berkata,

يلومونني على حب علي، والله كنت أتعلم منه أكثر مما يتعلم مني

“Mereka mencelaku karena kecintaanku kepada Ali. Demi Allah, aku justru belajar darinya lebih banyak daripada apa yang ia pelajari dariku.”

Karya-karya ilmiahnya

Ibnu al-Madini telah menyusun banyak karya dalam bidang hadis, yang jumlahnya sangat banyak dan memiliki kedudukan yang sangat penting.

Imam an-Nawawi berkata dalam Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat,

وكان علي أحد أئمة الإسلام المبرزين في الحديث صنف فيه مائتي مصنف لم يسبق إلى معظمها ولم يلحق في كثير منها

“Ali merupakan salah seorang imam Islam yang memiliki keunggulan dalam bidang hadis. Ia menyusun sekitar dua ratus karya dalam bidang tersebut. Sebagian besar karya itu belum pernah didahului oleh karya semisalnya, dan dalam banyak di antaranya tidak ada yang mampu menyamainya.”

Al-Hakim Abu ‘Abdullah dalam kitabnya Ma‘rifat ‘Ulum al-Hadits (hal. 89), menyebutkan daftar karya-karya Ibnu al-Madini. Ia menukilkannya dari gurunya, Muhammad bin Shalih al-Hasyimi, yang berkata,

“Aku mendengar asy-Syarif al-Qadhi Abu al-Hasan Muhammad bin Shalih al-Hasyimi, seorang qadhi al-qudhat, berkata: Berikut adalah nama-nama karya Ali bin al-Madini:

  1. Kitab al-Asami wa al-Kuna — 8 jilid.
  2. Kitab adh-Dhu‘afa’ — 10 jilid.
  3. Kitab al-Mudallisin — 5 jilid.
  4. Kitab Awwalu Man Nazhara fi ar-Rijal wa Fahasha ‘Anhum — 1 jilid.
  5. Kitab ath-Thabaqat — 10 jilid.
  6. Kitab Man Rawa ‘an Rajulin Lam Yarah — 1 jilid.
  7. Kitab ‘Ilal al-Musnad — 30 jilid.
  8. Kitab al-‘Ilal li Isma‘il al-Qadhi — 14 jilid.
  9. Kitab ‘Ilal Hadits Ibn ‘Uyainah — 13 jilid.
  10. Kitab Man La Yujnah bi Haditsihi wa La Yusqath — 2 jilid.
  11. Kitab al-Kuna — 5 jilid.
  12. Kitab al-Wahm wa al-Khatha’ — 5 jilid.
  13. Kitab Qaba’il al-‘Arab — 10 jilid.
  14. Kitab Man Nazala min ash-Shahabah Sa’ir al-Buldan — 5 jilid.
  15. Kitab at-Tarikh — 10 jilid.
  16. Kitab al-‘Ardh ‘ala al-Muhaddits — 2 jilid.
  17. Kitab Man Haddatsa Tsumma Raja‘a ‘Anhu — 2 jilid.
  18. Kitab Yahya wa ‘Abd ar-Rahman fi ar-Rijal — 5 jilid.
  19. Kitab Su’alatuhu Yahya — 2 jilid.
  20. Kitab ats-Tsiqat wa al-Mutsbitin — 10 jilid.
  21. Kitab Ikhtilaf al-Hadits — 5 jilid.
  22. Kitab al-Asami asy-Syadzah — 3 jilid.
  23. Kitab al-Asyribah — 3 jilid.
  24. Kitab Tafsir Gharib al-Hadits — 5 jilid.
  25. Kitab al-Ikhwah wa al-Akhawat — 5 jilid.
  26. Kitab Man Yu‘raf bi Ismin Duna Ismi Abihi — 2 jilid.
  27. Kitab Man Yu‘raf bi al-Laqab — 1 jilid.
  28. Kitab al-‘Ilal al-Mufarriqah — 30 jilid.
  29. Kitab Madzahib al-Muhadditsin — 2 jilid.”

Demikianlah daftar yang disebutkan oleh al-Hakim. Penomoran di atas ditambahkan untuk memudahkan pembaca. Setelah selesai menyebutkan daftar tersebut, al-Hakim berkata,

إنما اقتصرنا على فهرست مصنفاته في هذا الموضع ليستدل به على تبحره وتقدمه وكماله

“Kami hanya mencukupkan diri dengan menyebutkan daftar karya-karyanya di sini agar dapat dijadikan bukti atas keluasan ilmunya, kedudukannya yang tinggi, dan kesempurnaannya dalam bidang ini.”

Kondisi karya-karyanya

Sangat disayangkan bahwa perpustakaan besar yang berisi karya-karya Ibnu al-Madini tersebut tidak lagi tersedia secara utuh pada masa sekarang. Bahkan, penyebutan judul-judul karya tersebut pun hanya sedikit ditemukan dalam berbagai kitab.

Penulis menyatakan bahwa dari berbagai sumber yang ia rujuk dalam penulisan biografi Ibnu al-Madini yang ia cantumkan di bagian akhir biografi, ia tidak menemukan penulis lain yang secara khusus menyebutkan daftar karya-karya tersebut. Pengecualiannya adalah al-‘Ulaimi, penulis al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajim Ashhab al-Imam Ahmad, yang wafat pada tahun 928 H. Ia mencantumkan daftar yang dinukil dari al-Hakim tersebut, meskipun tidak menyebutkan sumber yang menjadi rujukannya.

Adapun salah satu karya Ibnu al-Madini yang masih diketahui keberadaannya adalah kitab ‘Ilal al-Hadits wa Ma‘rifat ar-Rijal dalam bentuk manuskrip. Manuskrip tersebut tersimpan di Perpustakaan Ahmad III di Turki, sedangkan salinannya terdapat di Ma‘had al-Makhtuthat Universitas Liga Arab di Kairo, dengan nomor 743, dalam katalog Fihris at-Tarikh.

Wafatnya

Imam al-Bukhari berkata,

مات علي بن المديني ليومين بقيا من ذي القعدة سنة أربع وثلاثين ومائتين

“Ali bin al-Madini wafat pada dua hari terakhir dari bulan Zukaidah tahun 234 H.”

Sementara itu, al-Harits bin Abi Usamah dan beberapa ulama lainnya berkata,

مات بسر من رأى في ذي القعدة

“Ia wafat di Samarra (Surra Man Ra’a) pada bulan Zukaidah.”

Adapun hari wafatnya adalah hari Senin, sebagaimana disebutkan dalam at-Tarikh al-Kabir karya al-Bukhari.

Para ulama yang menulis biografinya

Biografi Ali bin al-Madini ditulis oleh banyak ulama dalam berbagai kitab. Di antaranya:

  1. Adz-Dzahabi, dalam al-‘Ibar (1: 418); Mizan al-I‘tidal (3: 138); dan Tadzkirat al-Huffazh (2: 15).
  2. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dalam Taqrib at-Tahdzib (2: 39); dan Tahdzib at-Tahdzib (7: 349).
  3. Al-Bukhari, dalam at-Tarikh al-Kabir (jilid 2, bagian 3, hal. 284).
  4. Al-Khatib al-Baghdadi, dalam Tarikh Baghdad (11: 458).
  5. Al-Khazraji, dalam Khulashah Tadzhīb al-Kamal (hal. 133).
  6. Ibnu al-Qaisarani, dalam al-Jam‘ baina Rijal ash-Shahihain (hal. 356).
  7. Ibnu al-‘Imad, dalam Syadzarat adz-Dzahab (2: 81).
  8. Al-Sam‘ani, dalam al-Ansab (hal. 516 — masih dalam bentuk manuskrip).
  9. Ibnu al-Atsir, dalam al-Lubab (3: 115).
  10. Ibnu Abi Ya‘la, dalam Thabaqat al-Hanabilah (1: 225).
  11. Al-‘Ulaimi, dalam al-Manhaj al-Ahmad (1: 97).
  12. Abu Ishaq al-Syirazi, dalam Thabaqat al-Fuqaha’ (hal. 103).
  13. Ibnu al-Subki, dalam Thabaqat asy-Syafi‘iyyah (1: 266).
  14. Al-Nawawi, dalam Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat (1: 350).
  15. Ibnu Abi Hatim, dalam al-Jarh wa at-Ta‘dil (jilid 1, bagian 3, hal. 193, serta dalam bagian pendahuluannya, hal. 319).

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari artikel karya Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dalam Majalatu Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah bi Al-Madinah Al-Munawwaroh, edisi ke-17, bulan Rajab 1392 H, hal. 12-20.


Artikel asli: https://muslim.or.id/116814-biografi-imam-ali-bin-al-madini-bag-2.html