Beranda | Artikel
Mengenal Nama Allah Asy-Syaakir dan Asy-Syakuur
9 jam lalu

Di antara perkara yang paling menenteramkan hati seorang mukmin saat mengarungi ujian kehidupan adalah keyakinan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang menguap sia-sia di sisi Allah. Sekalipun suatu amalan terlihat begitu sederhana dalam pandangan manusia, bahkan ketika tidak ada lisan yang menyanjungnya, Allah Ta’ala tidak pernah mengabaikannya. Dia membalas ketaatan yang sedikit dengan pahala yang berlipat ganda, serta mencurahkan karunia yang jauh melampaui usaha hamba-Nya. Segala kesempurnaan ini berakar dari sifat syukur Allah yang terkandung di dalam dua nama-Nya yang teramat agung, yaitu Asy-Syaakir dan Asy-Syakuur.

Hamba yang memahami rahasia dua nama ini akan terbebas dari jerat keputusasaan sekaligus terdorong untuk beribadah dengan penuh rasa cinta. Ia sadar betul bahwa Tuhannya Maha Mengampuni dosa-dosa yang banyak dan di saat yang sama Maha Menghargai ketaatan yang sedikit. Pada uraian berikut, kita akan menelusuri dalil-dalil penetapan nama Asy-Syaakir dan Asy-Syakuur, memahami maknanya dari sisi bahasa maupun penuturan para ulama, serta melihat apa saja konsekuensi keimanan yang semestinya tumbuh dalam diri seorang mukmin. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing dan melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Dalil nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”

Nama Allah Asy-Syakuur disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 30)

Dan firman-Nya,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb kami Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 34)

Allah juga berfirman,

وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan kebaikan baginya dalam amalan tersebut. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Asy-Syuuraa: 23)

Serta firman-Nya,

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia akan melipatgandakan balasan-Nya bagi kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun.” (QS. At-Taghaabun: 17) [1]

Adapun nama Allah Asy-Syaakir termaktub di dalam Al-Qur’an pada dua tempat. Firman-Nya,

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan dengan sukarela, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Dan firman-Nya,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِراً عَلِيماً

“Mengapa Allah akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisaa’: 147) [2]

Seluruh ayat tersebut hadir dalam konteks karunia dan sanjungan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat, berupa pelipatgandaan pahala, tambahan keutamaan, serta pemberian ampunan atas kelalaian mereka.

Kandungan makna nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”

Supaya kita dapat menyerap pesan mendalam dari kedua nama ini, ada baiknya kita meninjau akar bahasanya terlebih dahulu, kemudian mencermati penjelasan para ulama ketika merumuskan makna syukur yang layak bagi keagungan Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”

Kedua nama ini berakar dari kata شَكَرَ – يَشْكُرُ – شُكْرًا. Al-Jauhari memaparkan makna asal kata tersebut,

الشكر: الثناء على المحسن بما أولاكه من معروف، يقال: شكرته وشكرت له، وباللام أفصح

“Asy-syukru adalah sanjungan kepada orang yang berbuat baik atas kebaikan yang ia berikan kepadamu. Dikatakan: syakartuhu dan syakartu lahu, dan penggunaan huruf lam lebih fasih.” [3]

Ibn Faaris turut memberikan kaidah bahasa mengenai akar kata ini,

الشين والكاف والراء أصول أربعة متباينة بعيدة القياس، فالأول وهو المراد: الثناء على الإنسان بمعروف يوليكه

“Huruf syin, kaaf, dan raa’ memiliki empat asal makna yang berbeda dan berjauhan ukurannya. Makna pertama -dan inilah yang dimaksud- adalah sanjungan kepada seseorang atas kebaikan yang ia berikan kepadamu.” [4]

Tinjauan kebahasaan di atas memperlihatkan bahwa syukur pada hakikatnya adalah pujian, pengakuan, dan balasan atas suatu perbuatan baik.

Perbedaan bentuk lafaz “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur”

Para ulama ilmu akidah mencatat bahwa Asy-Syaakir datang dengan wazan faa’il yang menunjukkan penetapan asli sifat tersebut pada Pemiliknya. Adapun Asy-Syakuur datang dengan wazan fa’uul, yakni bentuk sighah mubalaghah yang menonjolkan keluasan dan kesempurnaan sifat syukur tersebut.

Walaupun memiliki nuansa lafaz yang berbeda, kedua nama ini bertemu pada satu kesimpulan yang sangat agung. Allah membalas amalan yang sedikit dengan pahala yang berlipat ganda, tidak mengabaikan jerih payah hamba-Nya, serta memaafkan kesalahan-kesalahan yang banyak. [5]

Makna “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur” dalam konteks sifat Allah

Ketika sifat syukur disandarkan kepada Allah Ta’ala, maknanya melesat jauh melampaui batas pengertian syukur antar-makhluk. Al-Khaththabi rahimahullah menjelaskan hakikat nama ini,

الشكور هو الذي يشكر اليسير من الطاعة، فيثيب عليه الكثير من الثواب، ويعطي الجزيل من النعمة، فيرضى باليسير من الشكر

“Asy-Syakuur adalah Dzat yang mensyukuri (menghargai) ketaatan yang sedikit, lalu membalasnya dengan pahala yang banyak, memberi karunia yang melimpah, dan meridai rasa syukur yang sedikit.” [6]

Tatkala menafsirkan firman Allah “fa-innallaaha syaakirun ‘aliim”, Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan maknanya dengan ringkas,

أي: يثيب على القليل بالكثير

“Maknanya adalah: Dia membalas amalan yang sedikit dengan balasan yang sangat banyak.” [7]

Syekh Abdurrahman as-Sa’di memperkaya pembahasan ini dengan uraian yang amat jernih,

هو الذي يشكر القليل من العمل الخالص النقي النافع، ويعفو عن الكثير من الزلل، ولا يضيع أجر من أحسن عملًا، بل يضاعفه أضعافًا مضاعفة بغير عد ولا حساب

“Dia adalah Dzat yang mensyukuri amalan sedikit yang ikhlas, bersih, lagi bermanfaat, memaafkan kesalahan yang banyak, dan tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik, bahkan melipatgandakannya berlipat-lipat tanpa hitungan dan tanpa batas.” [8]

Ibnul Qayyim rahimahullah menghadirkan perbandingan yang sangat memukau antara syukur Allah dan syukurnya makhluk. Dalam kitab ‘Uddat ash-Shabiiriin, beliau menulis,

وأما شكر الرب تعالى فله شأن آخر، فهو أولى بصفة الشكر من كلِّ شكور، بل هو الشكور على الحقيقة، فإنه يعطي العبد ويوفقه لما يشكره عليه، ويشكر القليل من العمل والعطاء فلا يستقله أن يشكره، ويشكر الحسنة بعشر أمثالها إلى أضعاف مضاعفة، ويشكر عبده بقوله بأن يثني عليه بين ملائكته وفي ملئه الأعلى، ويلقي له الشكر بين عباده، ويشكر بفعله، فإذا ترك له شيئاً أعطاه أفضل منه، وإذا بذل له شيئاً رده عليه أضعافاً مضاعفة، وهو الذي وفقه للترك والبذل، وشكره على هذا وذاك

“Adapun syukur Rabb Ta’ala memiliki kedudukan lain. Dia lebih utama dengan sifat syukur dibanding setiap yang bersyukur, bahkan Dialah Asy-Syakuur (Yang Maha Mensyukuri) pada hakikatnya. Dia memberi hamba dan memberi taufik kepadanya untuk melakukan amalan yang kemudian Dia syukuri (balas). Dia mensyukuri amalan dan pengorbanan yang sedikit sehingga tidak meremehkannya untuk dibalas. Dia membalas satu kebaikan dengan sepuluh kali lipat hingga lipatan yang banyak. Dia mensyukuri hamba-Nya dengan ucapan-Nya berupa sanjungan untuknya di hadapan para malaikat-Nya dan di kalangan tertinggi, serta menanamkan pujian baginya di tengah hamba-hamba-Nya. Dia juga mensyukuri hamba-Nya dengan perbuatan-Nya; apabila hamba meninggalkan sesuatu karena-Nya, niscaya Dia ganti dengan yang lebih baik. Dan apabila hamba menginfakkan sesuatu karena-Nya, niscaya Dia kembalikan berlipat ganda. Padahal Dialah yang memberi taufik kepada hamba untuk meninggalkan dan menginfakkan sesuatu itu, lalu Dia membalasnya atas ini dan itu.” [9]

Beliau kemudian membuktikan kebenaran makna ini melalui sejarah para hamba pilihan. Ketika Nabi Yusuf ‘alaihis salaam bersabar menanggung sempitnya penjara, Allah membalasnya dengan memberi kedudukan mulia di muka bumi. Ketika para sahabat Nabi meninggalkan kampung halaman mereka demi mencari rida Allah, Allah menggantinya dengan membukakan pintu-pintu dunia bagi mereka. Ketika seorang wanita pezina memberi minum seekor anjing yang kehausan, Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula seseorang yang menyingkirkan dahan berduri dari jalan kaum muslimin, Allah mensyukuri amalnya lalu mengampuninya. [10]

Makhluk hanya berterima kasih kepada pihak yang berbuat baik kepadanya. Adapun Allah, Dialah yang memberi nikmat; Dialah yang menuntun hamba untuk beramal saleh; dan setelah itu, Dia pula yang melimpahkan pahala berlipat ganda atas amalan tersebut. Maka siapakah yang lebih berhak menyandang nama Asy-Syakuur selain Allah Ta’ala?

Hikmah penggabungan nama “Asy-Syakuur” dengan “Al-Ghafuur” dan “Al-‘Aliim”

Di dalam Al-Qur’an, nama Asy-Syakuur tiga kali disandingkan dengan Al-Ghafuur (Maha Pengampun), dan satu kali dengan Al-Haliim (Maha Penyantun). Adapun Asy-Syaakir selalu disandingkan dengan Al-‘Aliim (Maha Mengetahui). Penggabungan ini menyimpan pesan teologis yang amat mendalam.

Perpaduan antara Al-Ghafuur dan Asy-Syakuur menegaskan bahwa Allah mengampuni dosa hamba, sebesar apa pun dosa tersebut; sekaligus menghargai amalan kebaikan sekecil apa pun bentuknya. Qatadah menjelaskan firman Allah “innahu ghafuurun syaakuur” dengan berkata,

إنه غفور لذنوبهم، شكور لحسناتهم

“Sesungguhnya Dia Maha Pengampun terhadap dosa-dosa mereka, lagi Maha Mensyukuri (membalas) kebaikan-kebaikan mereka.” [11]

Oleh sebab itu, apabila Mutarrif bin Abdullah rahimahullah membaca ayat ke-30 dari surah Faathir ini, beliau berkata,

هذه آية القراء

“Ini adalah ayatnya para qari (ahli Al-Qur’an).” [12]

Sungguh indah ucapan beliau, karena ayat tersebut mengabarkan bahwa orang-orang yang membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan berinfak di jalan Allah, tidak akan pernah rugi perniagaannya; Allah akan menyempurnakan pahala mereka, mengampuni kekurangan mereka, dan menambahi mereka dari karunia-Nya.

Adapun penyandingan nama Asy-Syaakir dengan Al-‘Aliim menunjukkan bahwa Allah membalas kebaikan hamba dengan ilmu-Nya yang maha sempurna. Dia mengetahui kadar keikhlasan di dalam hati, mengetahui payahnya usaha yang dikeluarkan, dan tidak akan pernah mengurangi hak hamba-Nya sedikit pun.

Konsekuensi keimanan terhadap nama Allah “Asy-Syaakir” dan “Asy-Syakuur” bagi seorang hamba

Mengenal dua nama Allah ini semestinya meninggalkan jejak keimanan yang hidup dalam keseharian seorang mukmin. Di antaranya:

Pertama, tidak meremehkan sekecil apa pun amalan kebaikan

Seorang hamba tidak boleh menganggap remeh suatu ketaatan, walaupun terlihat kecil di mata manusia. Sebab, ia beribadah kepada Asy-Syakuur, Tuhan yang tidak menyia-nyiakan sebesar biji sawi pun dari kebaikan. Senyuman kepada saudara muslim, menyingkirkan gangguan dari jalan, atau bertasbih dengan tulus di waktu sunyi, bisa jadi merupakan sebab datangnya keridaan Allah yang melimpah.

Kedua, tidak berputus asa dari ampunan Allah

Karena nama Asy-Syakuur disandingkan dengan Al-Ghafuur, maka tidak selayaknya seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosanya. Sebagaimana Allah tidak mengabaikan kebaikan yang kecil, Allah juga tidak enggan mengampuni kesalahan yang besar apabila hamba-Nya mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

Ketiga, berusaha menjadi hamba yang bersyukur dan berterima kasih kepada manusia

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah adalah Asy-Syakuur, dan karenanya Dia sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang memiliki sifat syukur. Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang bersyukur atas nikmat-Nya, sedangkan hamba yang paling dibenci-Nya adalah yang kufur serta mengingkari kebaikan-Nya. [13]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bahwa syukur kepada Allah sangat terkait dengan sikap berterima kasih kepada sesama manusia. Beliau bersabda,

مَنِ اصْطَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَجَازُوهُ، فَإِنْ عَجَزْتُمْ عنْ مُجَازَاتِهِ فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّكُمْ قَدْ شَكَرْتُمْ

“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka doakanlah ia hingga kalian tahu bahwa kalian telah berterima kasih kepadanya.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i, sanadnya sahih) [14]

Keempat, memurnikan keikhlasan hanya untuk Allah

Syekh Abdurrahman as-Sa’di telah mengingatkan bahwa Allah hanya mensyukuri amalan yang ikhlas, bersih, dan bermanfaat. Amalan yang besar namun dicampuri riya, maka tidak akan dinilai di sisi Allah; sedangkan amalan yang sederhana namun diiringi keikhlasan hati yang mendalam akan berkembang menjadi gunung pahala di hadapan Asy-Syakuur.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, menerima amalan kita yang sedikit, mengampuni dosa-dosa kita yang banyak, dan melimpahkan karunia-Nya kepada kita di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Khāliq”, “Al-Khallāq”, “Al-Bāri’”, dan “Al-Muṣawwir”

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 206; lihat pula Syekh Muhammad al-Hamud an-Najdi, An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 292.

[2] Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 206.

[3] Al-Jauhari, Ash-Shahah fil Lughah, 2: 265; dinukil oleh Dr. Nawal binti Abdul Aziz al-‘Ied, Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 538.

[4] Ibn Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, 3: 207.

[5] Lihat uraian Sa’d bin Abdurrahman Nada dalam Mafhuum al-Asmaa’ wa ash-Shifaat, Majalah Universitas Islam Madinah, 46: 70.

[6] Al-Khaththabi, Sya’n ad-Du’aa’, hal. 65-66.

[7] Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim, 1: 472.

[8] Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di, Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan, hal. 304; lihat pula Fiqhul Asmaa’il Husna karya al-Badr, hal. 206-207.

[9] Ibnul Qayyim, ‘Uddat ash-Shabiiriin wa Dzakhirat asy-Syaakiriin, hal. 335-337; dinukil secara lengkap oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 206-208.

[10] Ibnul Qayyim, ‘Uddat ash-Shabiiriin, hal. 336.

[11] Dinukil oleh Syekh Muhammad al-Hamud an-Najdi dalam An-Nahj al-Asma, 1: 292.

[12] Sa’d bin Abdurrahman Nada, Mafhuum al-Asmaa’ wa ash-Shifaat, Majalah Universitas Islam Madinah, 46: 70.

[13] Ibnul Qayyim, ‘Uddat ash-Shabiiriin, hal. 337.

[14] HR. Ahmad (no. 3579) dan An-Nasa’i (no. 2620), dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

 

Daftar Pustaka

Al-Badr, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.

Al-‘Ied, Nawal binti Abdul Aziz. Mausu’ah Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-1. Riyadh: 1441 H.

Al-Jauhari, Abu Nasr Ismail bin Hammad. Ash-Shahah taaj al-Lughah wa Shahaah al-’Arabiyyah. Beirut: Dar al-’Ilm lil-Malayin, 1407 H.

Al-Khaththabi, Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad. Sya’n ad-Du’aa’. Damaskus: Dar al-Ma’mun, 1404 H.

An-Najdi, Muhammad bin Hamud. An-Nahj al-Asma fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah al-Imam adz-Dzahabi, 2020.

Ibn Faaris, Ahmad bin Zakariya. Mu’jam Maqaayiis al-Lughah. Kairo: Dar al-Fikr, 1399 H.

Ibn Katsir, Abu al-Fida’ Ismail bin Umar. Tafsiir al-Qur’an al-‘Azhiim. Riyadh: Dar Thaibah, 1420 H.

Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. ‘Uddat ash-Shabiiriin wa Dzakhirat asy-Syaakiriin. Makkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id, 1429 H.

Nada, Sa’d bin Abdurrahman. Mafhuum al-Asmaa’ wa ash-Shifaat. Majalah Universitas Islam Madinah, jilid 46. Madinah: 1400 H


Artikel asli: https://muslim.or.id/116025-asy-syaakir-dan-asy-syakuur.html