Beranda | Artikel
Awal Fase Dakwah Islam Secara Terang-Terangan (Bag. 2)
9 jam lalu

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas bagaimana awal perintah dakwah secara terang-terangan turun kepada Rasulullah ﷺ. Pada artikel kali ini, kita akan lanjutkan bagaimana para pembesar kafir Quraisy melakukan perundingan dengan Abu Thalib agar mau menghentikan dakwah sang keponakan.

Mengapa Quraisy mendatangi Abu Thalib?

Mungkin akan ada yang bertanya, “Mengapa para pembesar Quraisy tidak langsung mencegah Rasulullah ﷺ? Mengapa harus melalui Abu Thalib terlebih dahulu?”

Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang laki-laki yang mulia, berwibawa, dan memiliki kepribadian yang luar biasa. Keagungan pribadi beliau tertanam dalam jiwa kawan maupun lawan, sehingga orang seperti beliau tidak layak diperlakukan kecuali dengan penghormatan dan pemuliaan. Tidak ada yang berani melakukan tindakan-tindakan rendah dan tercela terhadap beliau kecuali orang-orang hina dan bodoh.

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga berada di bawah perlindungan Abu Thalib. Abu Thalib termasuk tokoh terkemuka Makkah. Oleh karena itu, sangat sulit bagi siapa pun untuk berani melanggar jaminan perlindungannya dan menyerang orang yang berada di bawah naungannya. Karena itulah mereka memilih jalan perundingan dengan Abu Thalib sebagai tokoh yang memberikan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka melakukannya dengan penuh perhitungan dan kesungguhan dengan harapan agar Abu Thalib mau tunduk kepada tuntutan mereka.

Perundingan pertama dengan Abu Thalib

Sejumlah tokoh terkemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib lalu berkata, “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya keponakanmu telah mencela tuhan-tuhan kami, mencela agama kami, menganggap bodoh pikiran kami, dan menyatakan sesat nenek moyang kami. Engkau harus menghentikannya dari mengganggu kami, atau biarkanlah kami berhadapan langsung dengannya. Sebab engkau sendiri berbeda dengannya sebagaimana kami berbeda dengannya. Dengan demikian, kami akan menyelesaikan urusanmu dengannya.”

Mendengar perkataan tokoh Quraisy tersebut, Abu Thalib membalasnya dengan kata-kata yang lembut dan menolak permintaan mereka dengan cara yang baik. Maka para tokoh Quraisy pun pergi meninggalkan Abu Thalib.

Ancaman kedua para pembesar Quraisy

Setelah pertemuan itu, Rasulullah ﷺ masih terus mendakwahkan Islam kepada manusia. Namun, kaum Quraisy semakin tidak senang melihat dakwah Rasulullah ﷺ terus berjalan. Orang-orang kafir Quraisy tidak bisa bersabar lagi melihat kondisi tersebut. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali menemui Abu Thalib dengan cara yang lebih keras dari sebelumnya.

Pada kali yang kedua ini, para pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib dan berkata, “Wahai Abu Thalib, sungguh engkau mempunyai usia, kemuliaan, dan kedudukan di tengah kami. Kami telah meminta kepadamu agar menghentikan keponakanmu, tetapi engkau tidak menghentikannya dari mengganggu kami. Demi Allah, kami tidak akan bersabar terus menghadapi pencelaan terhadap nenek moyang kami, penghinaan terhadap akal kami, dan pencelaan terhadap tuhan-tuhan kami. Engkau harus menghentikannya dari kami atau kami akan menghadapi dia dan engkau sekaligus dalam persoalan ini, hingga salah satu dari kedua pihak binasa.” Ancaman keras itu terasa sangat berat bagi Abu Thalib.

Keteguhan Rasulullah ﷺ dan pembelaan Abu Thalib

Setelah ancaman pembesar Quraisy itu, Abu Thalib mengutus seseorang untuk memanggil Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ pun tiba di hadapan Abu Thalib. Abu Thalib berkata, “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan mengatakan…” Ia pun menceritakan ucapan para pembesar Quraisy itu. Abu Thalib lalu berkata, “Maka kasihanilah aku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebankan kepadaku sesuatu yang tak sanggup aku pikul.”

Mendengar perkataan pamannya itu, Rasulullah ﷺ mengira Abu Thalib akan meninggalkannya dan mulai lemah dalam membela Rasulullah ﷺ. Setelah itu Rasulullah ﷺ berkata,

يَا عَمِّ، وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي، عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ، حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ، مَا تَرَكْتُهُ

“Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Kemudian Rasulullah ﷺ tidak dapat menahan air matanya, lalu menangis dan berdiri untuk pergi.

Ketika Rasulullah ﷺ berpaling, Abu Thalib memanggilnya kembali. Setelah Rasulullah ﷺ menghadap kepadanya, Abu Thalib berkata, “Pergilah, wahai keponakanku. Katakanlah apa yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun selama-lamanya.” Kemudian Abu Thalib melantunkan syair. Di antara penggalan syair tersebut:

وَاللهِ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ بِجَمْعِهِمْ ** حَتَّى أُوَسَّدَ فِي التُّرَابِ دَفِينًا

Demi Allah, mereka takkan dapat menjangkaumu dengan seluruh kekuatan mereka, hingga aku dibaringkan sebagai mayat yang terkubur di dalam tanah.

فَاصْدَعْ بِأَمْرِكَ مَا عَلَيْكَ غَضَاضَةٌ ** وَابْشِرْ وَقَرَّ بِذَاكَ مِنْكَ عُيُونًا

Maka sampaikanlah urusanmu dengan terang-terangan, tidak ada kehinaan atasmu. Bergembiralah dan tenanglah karena hal itu.

Dengan demikian, Rasulullah ﷺ terus melanjutkan kegiatannya menyerukan agama Allah kepada manusia.

Perlu dicatat, redaksi dialog “matahari dan bulan” ini termasuk riwayat sirah yang masyhur, tetapi dinilai dha’if oleh Syekh al-Albani. Meski demikian, makna keteguhan Rasulullah ﷺ dalam mempertahankan dakwah tetap sejalan dengan keseluruhan perjalanan sirah beliau.

Tawaran menukar Rasulullah  dengan ‘Umarah bin al-Walid

Setelah pembesar Quraisy mengetahui bahwa Abu Thalib tidak akan meninggalkan Rasulullah ﷺ, mereka kembali mendatangi Abu Thalib dengan membawa seorang pemuda bernama ‘Umarah bin al-Walid bin al-Mughirah (عمارة بن الوليد بن المغيرة). Mereka berkata, “Wahai Abu Thalib, pemuda ini adalah pemuda Quraisy yang paling kuat, paling tampan, dan paling baik. Ambillah dia. Engkau dapat memperoleh manfaat dari kecerdasan dan pertolongannya. Jadikanlah dia sebagai anakmu, maka dia menjadi milikmu. Sebagai gantinya, serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu, memecah persatuan kaummu, serta menganggap bodoh pikiran mereka. Kami akan membunuhnya. Seorang laki-laki ditukar dengan seorang laki-laki.”

Abu Thalib merespons, “Demi Allah, sungguh buruk sekali tawaran kalian kepadaku! Apakah kalian memberikan anak kalian kepadaku supaya aku memberi makan dan membesarkannya untuk kalian, sementara aku memberikan anakku kepada kalian agar kalian membunuhnya? Demi Allah, hal ini tidak akan pernah terjadi.”

al-Muth’im bin ‘Adi bin Naufal bin ‘Abdu Manaf (المطعم بن عدي بن نوفل بن عبد مناف) kemudian berkata kepada Abu Thalib, “Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu telah berlaku adil kepadamu. Mereka telah bersungguh-sungguh mencari jalan keluar dari sesuatu yang engkau tidak sukai. Namun aku melihat engkau sama sekali tidak ingin menerima apa pun dari mereka.”

Abu Thalib lalu menjawab, “Demi Allah, kalian tidak berlaku adil kepadaku. Akan tetapi, tampaknya engkau telah bertekad untuk meninggalkanku dan membantu mereka melawanku. Maka lakukanlah apa yang menurutmu pantas.”

Kegagalan perundingan dan awal gangguan langsung

Ketika pembesar kafir Quraisy gagal dalam berbagai perundingan tersebut dan tidak berhasil meyakinkan Abu Thalib agar mencegah Rasulullah ﷺ serta menghentikannya dari berdakwah kepada Allah, mereka akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan yang sebelumnya berusaha mereka hindari karena takut terhadap akibat dan konsekuensinya. Jalan itu adalah melakukan serangan secara langsung terhadap pribadi Rasulullah ﷺ. Dari sinilah permusuhan Quraisy memasuki tahap baru menuju gangguan langsung terhadap Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.

Is’āf al-Akhyār bimā Isytahara wa lam Yashih min al-Ahādits wa al-Ātsār wa al-Qashash wa al-Asy’ār, karya Muhammad bin Abdullah Bāmūsā.


Artikel asli: https://muslim.or.id/116020-awal-fase-dakwah-islam-secara-terang-terangan-2.html