Beranda | Artikel
Iman kepada Allah: Kepada Siapa Hati Bergantung?
9 jam lalu

Tetap menempuh sebab (usaha) dengan sungguh-sungguh, tanpa menyerahkan hati kepada sebab (usaha kita sendiri).

Manusia menyukai kepastian. Kita menyusun rencana, menyiapkan tabungan, menambah keterampilan, menjaga relasi, dan berusaha memperoleh kepercayaan orang lain. Semua itu dapat menjadi ikhtiar yang baik. Masalahnya muncul ketika sebab-sebab yang semula berada di tangan, perlahan-lahan mengambil tempat di hati.

Selama pekerjaan aman, atasan puas, jaringan kuat, dan rencana berjalan, hati terasa tenang. Namun, ketika salah satunya goyah, seakan-akan seluruh masa depan ikut runtuh. Di sinilah iman kepada Allah perlu diperiksa: apakah kita benar-benar bersandar kepada Allah, atau hanya merasa tenang selama sebab-sebab dunia masih dapat kita kendalikan?

Iman kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-Nya

Iman kepada Allah tentu mencakup keyakinan bahwa Allah benar-benar ada. Akan tetapi, maknanya tidak berhenti pada pengakuan tersebut. Secara ringkas, iman kepada Allah mencakup empat perkara:

1) Meyakini keberadaan Allah;

2) Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam;

3) Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang berhak menerima seluruh bentuk ibadah; dan

4) Mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, tanpa mengubah makna, menolak, membayangkan hakikat, atau menyerupakan Allah dengan makhluk.

Keyakinan tentang keberadaan Allah selaras dengan fitrah manusia dan diteguhkan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri serta alam semesta. Bahkan ketika berbagai sandaran dunia tidak lagi menolong, manusia sering menyadari betapa lemah dirinya dan membutuhkan Rabb yang Mahakuasa. Namun, iman tidak boleh hanya muncul pada saat terdesak. Pengakuan terhadap Allah harus membentuk seluruh arah hidup.

Keempat perkara ini saling berkaitan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta belum cukup apabila doa, rasa takut, harapan, dan ketundukan justru diberikan kepada selain-Nya. Iman yang benar tidak hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan tentang Allah, tetapi juga mengarahkan ibadah dan sandaran hati hanya kepada-Nya.

Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala

Allah adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur

Ketika seorang mukmin meyakini rububiyah Allah, ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri di luar kekuasaan-Nya. Pekerjaan, obat, keahlian, tabungan, pertolongan manusia, dan berbagai peluang hanyalah sebab. Semuanya diciptakan oleh Allah, berada dalam kepemilikan-Nya, dan bekerja di bawah pengaturan-Nya.

Kesadaran ini mengubah cara seorang mukmin memandang rasa aman. Ia tidak mengukurnya semata-mata dari banyaknya simpanan, kuatnya kedudukan, atau dekatnya orang-orang yang dapat menolong. Semua itu patut dijaga dan dimanfaatkan, tetapi keamanan yang sejati lahir dari keyakinan bahwa urusannya berada di tangan Allah.

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A‘raf: 54)

Sebab dapat kuat, lemah, tersedia, atau terputus sesuai dengan ketetapan Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak meremehkan sebab, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai penentu mutlak. Ia bekerja dengan serius, sekaligus menyadari bahwa hasil tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.

Kita beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah

Rububiyah menuntun kepada uluhiyah. Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur, hanya Dia yang berhak menjadi tujuan seluruh ibadah. Allah mengajarkan kalimat yang setiap hari kita baca dalam salat,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Ibadah bukan hanya gerakan badan. Doa, takut, harap, cinta, dan tawakal adalah ibadah hati. Meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka lakukan bukanlah masalah. Namun, hati harus tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah sebab. Mereka dapat membantu jika Allah mengizinkan dan dapat tidak berdaya meskipun telah berjanji.

Demikian pula penilaian manusia. Menjaga kepercayaan, menerima nasihat, dan memperbaiki kekurangan adalah sikap terpuji. Akan tetapi, penerimaan manusia tidak boleh menjadi kiblat hati hingga seseorang berani meninggalkan ketaatan, menyembunyikan kebenaran, atau menempuh cara yang Allah haramkan.

Menempuh sebab tanpa diperbudak sebab

Tawakal tidak berarti duduk tanpa usaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

“Bersemangatlah terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Hadis ini menggabungkan dua perkara: kesungguhan menempuh sesuatu yang bermanfaat dan permohonan pertolongan kepada Allah. Ikhtiar menggerakkan anggota badan, sedangkan tawakal mengarahkan hati. Keduanya tidak saling meniadakan.

Seorang karyawan bekerja dengan amanah, tetapi tidak meyakini atasannya sebagai pemilik rezeki. Orang yang sakit mencari dokter dan meminum obat, tetapi tidak menganggap keduanya sebagai penyembuh yang bekerja sendiri. Seorang kepala keluarga menyusun keuangan dan memperluas jaringan, tetapi tidak menjadikan tabungan dan relasi sebagai jaminan mutlak masa depan. Ketika suatu sebab gagal, ia mencari sebab lain yang halal tanpa membiarkan harapannya kepada Allah ikut terputus.

Ketika hasil sesuai rencana, ia bersyukur dan tidak merasa bahwa keberhasilan murni lahir dari kecerdasannya. Ketika hasil berbeda, ia tidak menuduh seluruh usahanya sia-sia. Ia menilai kembali langkahnya, memperbaiki kesalahan yang dapat diperbaiki, kemudian melanjutkan ikhtiar dengan hati yang lebih rendah di hadapan Allah.

Sebaliknya, ketergantungan kepada sebab mudah dikenali dari keadaan hati. Seseorang merasa masa depannya tamat ketika kehilangan pekerjaan, rela melanggar syariat demi menjaga penerimaan orang, atau lebih takut kepada komentar manusia daripada kemurkaan Allah. Sebab yang semestinya digunakan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan dirinya.

Mengenal Allah akan menghidupkan ibadah hati

Nama dan sifat Allah bukan sekadar bahan untuk diketahui. Ketika seorang hamba mengenal kesempurnaan ilmu, pendengaran, penglihatan, rahmat, kekuasaan, dan hikmah Allah, tumbuh dalam hatinya cinta dan pengagungan kepada-Nya. Cinta mendorongnya menjalankan perintah, sedangkan pengagungan menahannya dari larangan. Dari sinilah lahir kehidupan yang baik: bukan hidup tanpa kesulitan, melainkan hati yang tetap mengenal Rabb-nya ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.

Apabila ia yakin Allah Maha Mendengar, ia tidak merasa doanya hilang hanya karena belum melihat jawaban. Apabila ia yakin Allah Mahabijaksana, ia tidak menganggap setiap hal yang berbeda dari rencananya sebagai keburukan. Pengetahuan tentang Allah seperti inilah yang menghidupkan sabar, harap, takut, dan keridaan.

Periksa tempat berlarinya hati

Iman kepada Allah seharusnya tampak pada arah hati. Oleh karena itu, tanyakan kepada diri sendiri:

Ketika takut, kepada siapa hati pertama kali berlari?

Ketika berhasil, siapa yang pertama kali diingat dan disyukuri?

Ketika satu sebab terputus, apakah harapan kepada Allah ikut terputus?

Apakah penilaian manusia lebih menentukan pilihan kita daripada keridaan Allah?

Tempuhlah sebab terbaik yang dibenarkan, mintalah pertolongan Allah, lalu jangan serahkan ketenangan hati kepada hasil yang belum berada dalam kekuasaan kita. Allah-lah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh urusan. Hanya kepada-Nya hati selayaknya bergantung.

Baca juga: Memperkokoh Keimanan pada Allah

 

***

Penulis: Mochammad Wibisono

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi

Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 47–51 dan 485–488.


Artikel asli: https://muslim.or.id/115687-iman-kepada-allah-kepada-siapa-hati-bergantung.html