Beranda | Artikel
Biografi Al-Hasan Al-Bashri (Bag. 2)
9 jam lalu

Ibadah Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal sebagai seorang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah.

As-Sarri bin Yahya berkata,

كان الحسن يصومُ مِن السنة أيام البيض، وأشهر الحرم، والاثنين والخميس

“Al-Hasan biasa berpuasa dalam setahun pada Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah), pada bulan-bulan haram, serta pada hari Senin dan Kamis.”

Al-Fasawi meriwayatkan dari Ibnu Syauzab, dari Mathar, bahwa ia berkata,

كان الحسن البصري صاحبَ ليلٍ

“Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang yang memiliki malam.”

Maksudnya, beliau adalah orang yang banyak menghidupkan malam dengan ibadah, terutama salat malam. Ini menunjukkan kesungguhan dan ketekunan beliau dalam beribadah serta kedekatannya dengan Allah pada waktu-waktu sunyi.

Humaid Ath-Thawil berkata,

لم يحجَّ الحسنُ إلا حجتينِ: حجة في أول عمره، وأخرى في آخر عمره

“Al-Hasan tidak menunaikan haji kecuali dua kali: satu kali di awal kehidupannya dan satu kali lagi di akhir kehidupannya.”

Alqamah bin Martsad berkata,

انتهى الزهد إلى ثمانيةٍ مِن التابعين؛ فمنهم الحسن بن أبي الحسن، فما رأينا أحدًا من الناس كان أطول حزنًا منه، ما كنا نراه إلا أنه حديث عهد بمصيبة

“Kezuhudan mencapai puncaknya pada delapan orang dari kalangan tabi‘in, dan di antaranya adalah Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih panjang rasa sedihnya daripada dia. Kami melihatnya seakan-akan ia baru saja tertimpa musibah.”

Jihad Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله bukan hanya dikenal sebagai ulama dan ahli ibadah, tetapi juga pernah ikut berjihad di medan perang.

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan bahwa ia mendengar seseorang bertanya kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah ikut berperang?” Beliau menjawab,

نعم، غزوة كَابُلَ مع عبدالرحمن بن سَمُرَة رضي الله عنه

“Ya, aku pernah mengikuti perang Kabul bersama Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه.”

Hisyam bin Hassan berkata,

كان الحسن أشجع أهل زمانه

“Al-Hasan adalah orang yang paling berani di zamannya.”

Ja‘far bin Sulaiman juga berkata bahwa Al-Hasan termasuk orang yang paling tegar ketika berada di tengah manusia. Ia adalah orang yang paling tampan, paling luas ilmunya, paling dermawan, dan paling fasih berbicara. Ketika Al-Muhallab bin Abi Shufrah memerangi kaum musyrikin, Al-Hasan termasuk di antara para kesatria yang berada di barisan depan.

Sikap Al-Hasan Al-Bashri dalam perang fitnah

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله dikenal memiliki sikap yang tegas dan penuh pertimbangan dalam menghadapi konflik dan pemberontakan di masa fitnah, khususnya pada peristiwa pemberontakan Ibnu Al-Asy‘ats melawan Al-Hajjaj bin Yusuf.

Ketika terjadi fitnah tersebut, sekelompok orang datang kepada Al-Hasan dan bertanya tentang hukum memerangi Al-Hajjaj, yang mereka sebut sebagai penguasa zalim karena menumpahkan darah dan melakukan berbagai pelanggaran. Al-Hasan menjawab agar mereka tidak memeranginya. Beliau berkata bahwa jika apa yang terjadi adalah hukuman dari Allah, maka mereka tidak akan mampu menolaknya dengan pedang. Dan jika itu adalah ujian, maka hendaknya mereka bersabar sampai Allah memberi keputusan, karena Allah adalah sebaik-baik Hakim. Namun orang-orang itu tidak menerima nasihatnya, bahkan meremehkannya, lalu mereka tetap ikut berperang bersama Ibnu Al-Asy‘ats dan akhirnya terbunuh semuanya.

Dalam kesempatan lain, ketika ada yang berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak keluar untuk mengubah keadaan (dengan perang)?”; beliau pun menjawab,

إن الله إنما يُغيِّر بالتوبة، ولا يُغيِّر بالسيف

“Sesungguhnya Allah mengubah keadaan dengan tobat, bukan dengan pedang.”

Ini menunjukkan bahwa menurut beliau, perbaikan umat harus dimulai dari perbaikan diri dan kembali kepada Allah, bukan dengan kekerasan.

Pernah pula seseorang bertanya tentang sikap dalam fitnah seperti yang melibatkan Yazid bin Al-Muhallab dan Ibnu Al-Asy‘ats. Al-Hasan menjawab agar tidak berpihak kepada salah satu dari mereka. Ketika ditanya lagi, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin?” beliau menegaskan, “Tidak juga bersama Amirul Mukminin.” Maksudnya, beliau memilih menjauh dari keterlibatan dalam konflik bersenjata yang membawa pertumpahan darah di antara kaum muslimin.

Beliau juga berkata bahwa jika manusia bersabar ketika diuji oleh penguasa mereka, niscaya Allah akan segera memberi jalan keluar. Tetapi jika mereka tergesa-gesa mengambil pedang, maka mereka akan diserahkan kepada pedang itu sendiri. Dan beliau menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak pernah mendatangkan kebaikan.

Allah menjaga Al-Hasan dari kezaliman Al-Hajjaj

Diriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi beberapa kali berniat membunuh Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله. Namun, Allah melindunginya dari kejahatan tersebut. Pernah suatu waktu Al-Hasan bersembunyi selama dua tahun di rumah Ali bin Zaid bin Jud‘an, dan di waktu lain ia bersembunyi di sebuah penggilingan milik Abu Muhammad Al-Bazzaz. Setiap kali itu pula Allah menyelamatkannya.

Suatu hari yang sangat panas di musim panas, Al-Hajjaj tiba-tiba mengirim pasukan untuk menangkap Al-Hasan pada waktu yang tidak terduga. Enam orang pengawal masuk dan membawanya dengan perlakuan kasar. Ketika kabar itu sampai kepada para muridnya, seperti Ayyub, Tsabit Al-Bunani, dan lainnya, mereka segera menuju istana dengan membawa kain kafan dan kapur barus, karena mereka yakin Al-Hasan akan dibunuh.

Namun setelah beberapa waktu, Al-Hasan keluar dari istana dalam keadaan tersenyum. Mereka pun memuji Allah atas keselamatannya.

Al-Hasan kemudian menceritakan bahwa ketika ia masuk menemui Al-Hajjaj, ia berada di sebuah ruangan yang sejuk dengan es di atapnya untuk mengurangi panas. Al-Hajjaj bertanya, “Engkaukah yang mengatakan ucapan-ucapan tentang kami seperti yang sampai kepadaku?” Ucapan itu berisi kritik keras terhadap para penguasa yang menjadikan hamba Allah sebagai pelayan mereka, mempermainkan Kitab Allah, dan mempergunakan harta Allah untuk kepentingan yang tidak benar, serta mengingatkan bahwa kelak ada hari perhitungan di hadapan Allah.

Al-Hasan menjawab dengan tegas bahwa ia memang mengatakan hal itu, karena Allah telah mengambil janji dari para ulama untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya. Mendengar jawaban itu, Al-Hajjaj terdiam sejenak, lalu memerintahkan agar kepala dan janggut Al-Hasan diberi minyak wangi sebagai bentuk penghormatan. Ia kemudian menasihati Al-Hasan agar tidak menyebut para penguasa kecuali dengan kebaikan.

Al-Hasan menjawab dengan menyampaikan hadis tentang menghormati pemimpin, namun ia juga menegaskan syarat keadilan. Pada akhirnya, Al-Hajjaj tidak jadi mencelakainya dan bahkan mempersilahkannya pulang dengan baik.

Al-Hasan menjadi qadhi (hakim)

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Bashrah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله.

Abu Harrah Ar-Raqasyi berkata,

كان الحسنُ لا يأخذ على قضائه أجرًا

“Al-Hasan tidak mengambil upah atas tugasnya sebagai hakim.”

Nasihat Al-Hasan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz رحمه الله diangkat menjadi khalifah, Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله menulis surat nasihat kepadanya. Dalam surat itu ia berkata,

أما بعد، فإن الدنيا دارٌ مُخيفة، إنما أُهبِط آدم من الجنة إليها عقوبةً، واعلَمْ أن صرعتها ليست كالصرعة، مَن أكرمها يُهَنْ، ولها في كل حينٍ قتيل، فكن فيها يا أمير المؤمنين كالمداوي جرحَه؛ يصبِرُ على شدة الدواء؛ خيفةَ طول البلاء، والسلام

“Amma ba‘du. Sesungguhnya dunia adalah negeri yang penuh bahaya dan ketakutan. Adam diturunkan dari surga ke dunia sebagai bentuk hukuman. Ketahuilah, jatuhnya seseorang di dunia bukanlah seperti jatuh biasa; siapa yang memuliakannya (terlalu mencintainya), ia akan dihinakan olehnya. Dunia ini setiap saat memiliki korban.

Maka jadilah engkau di dunia ini, wahai Amirul Mukminin, seperti orang yang mengobati lukanya; ia bersabar menghadapi pahitnya obat karena takut penyakitnya akan semakin parah. Wassalam.”

Perkataan ulama salaf tentang Al-Hasan Al-Bashri

Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy‘ari berkata,

ما رأيتُ رجلًا قط لم يصحَبِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم أشبهَ بأصحاب رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، مِن هذا الشيخ؛ يعني الحسن

“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang tidak bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi lebih mirip dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada syekh ini, yakni Al-Hasan.”

Asy-Sya‘bi menyebut Al-Hasan Al-Bashri lalu berkata,

ما رأيتُ مِن أهل تلك البلاد رجلًا قطُّ أفضلَ منه

“Aku tidak pernah melihat seorang pun dari penduduk negeri itu yang lebih utama daripadanya.”

Al-‘Ala’ bin Ziyad berkata,

ما أُحِبُّ أن أؤمِّن على دعاء أحدٍ حتى أسمع دعاءه إلا الحسن

“Aku tidak suka mengaminkan doa seseorang sampai aku mendengar doanya terlebih dahulu kecuali doa Al-Hasan.”

Ayyub As-Sikhtiyani berkata,

كان الرجلُ يجلس إلى الحسن ثلاثَ حِجَجٍ، ما يسأله عن المسألة هيبةً له

“Seorang lelaki bisa duduk belajar kepada Al-Hasan selama tiga tahun, tetapi tidak berani bertanya tentang suatu masalah karena rasa segan dan hormat kepadanya.”

Qatadah berkata,

ما جلستُ إلى أحدٍ، ثم جلست إلى الحسن، إلا عرَفتُ فضلَ الحسن عليه

“Aku tidak pernah duduk bersama seorang pun (dari kalangan ulama), kemudian aku duduk bersama Al-Hasan, melainkan aku melihat keunggulan Al-Hasan atas orang tersebut.”

Yunus bin ‘Ubaid berkata,

كان الرجلُ إذا نظر إلى الحسنِ البصري انتفع به، وإن لم يسمَعْ كلامه، ولم يرَ عملَه

“Seseorang yang hanya melihat Al-Hasan Al-Bashri saja sudah bisa mengambil manfaat darinya, meskipun ia tidak mendengar ucapannya dan tidak melihat amalnya.”

Wasiat Hasan Al-Bashri sebelum wafat

Abu Thariq As-Sa‘di berkata,

شهِدتُ الحسن عند موتِه يُوصِي، فقال لكاتبٍ: اكتُبْ، هذا ما يشهَدُ به الحسن بن أبي الحسن، يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله، مَن شهِد بها صادقًا عند موته دخل الجنة

“Aku menyaksikan Al-Hasan ketika menjelang wafatnya sedang berwasiat. Ia berkata kepada seorang penulis, ‘Tulislah: Inilah yang disaksikan oleh Al-Hasan bin Abi Al-Hasan. Ia bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Barang siapa bersaksi dengan kalimat ini secara jujur ketika menjelang kematiannya, maka ia akan masuk surga.’”

Wafatnya Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله wafat pada malam Jumat di bulan Rajab tahun 110 Hijriah, dalam usia 89 tahun.

Jenazahnya dihadiri oleh banyak sekali orang. Ia disalatkan setelah salat Jumat di Bashrah. Begitu besar jumlah manusia yang mengiringi pemakamannya hingga terjadi kepadatan yang luar biasa, bahkan disebutkan bahwa salat Asar di masjid jami‘ tidak dapat ditegakkan karena seluruh orang sibuk menghadiri dan mengiringi jenazahnya.

Baca juga: Kisah Menawan Al Hasan Al Bashri

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzetta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari: https://www.alukah.net/culture/1186


Artikel asli: https://muslim.or.id/115241-biografi-al-hasan-al-bashri-bag-2.html