Beranda | Artikel
Berbakti Kepada Orang Tua yang Zalim: Masih Wajibkah Kita Berbakti?
9 jam lalu

Ketika kita mendengar atau membaca pertanyaan seseorang, “Apa alasan kita perlu berbakti kepada orangtua?” Tentunya hal yang aneh bagi kita mendengar pertanyaan tersebut. Orang tua jelas sekali memiliki jasa yang besar dalam kehidupan kita sehingga kita perlu berbakti kepada mereka. Akan tetapi di luar sana, ada orang-orang yang orang tuanya malah menjadi sumber luka mereka, luka batin maupun luka fisik.

Bagi mereka, berbakti kepada orang tua merupakan suatu hal yang tidak adil, masa kecil mereka yang harusnya penuh ceria dan kasih sayang, mereka habiskan untuk menelan trauma. Dari siapa trauma tersebut? Ternyata dari orang tua mereka sendiri. Lalu ketika mereka beranjak dewasa, mereka merasa bahwa berbakti kepada orang tua adalah suatu ketidakadilan.

Lalu bagaimana hal tersebut dalam pandangan Islam? Apakah berbakti kepada orang tua yang zalim masih diwajibkan sebagaimana berbakti kepada orang tua pada umumnya? Ternyata dalam Islam, kewajiban berbakti kepada orang tua tidaklah hilang meskipun mereka zalim terhadap anak-anaknya.

Sekilas memang terlihat tidak adil bagi saudara kita yang dizalimi oleh orang tua mereka. Masa kecil mereka direnggut dan yang tersisa hanyalah trauma dan rasa sakit. Akan tetapi, di balik itu ada hikmah mengapa kita tetap wajib berbakti kepada orang tua yang zalim.

Kedudukan berbakti kepada orang tua

Berbakti kepada orang tua merupakan sebuah amalan mulia dalam Islam. Hal tersebut ditunjukkan dari beberapa ayat Al-Quran yang menyandingkan berbakti kepada orang tua dengan tujuan ibadah paling utama, yaitu bertauhid. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)

Dari kedua ayat di atas, kita bisa melihat bahwa Allah menyebutkan berbakti kepada orang tua setelah bertauhid. Para ulama banyak yang menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan istimewanya berbakti kepada orang tua. Mengapa demikian? Karena berbakti kepada orang tua beberapa kali disandingkan dengan perintah untuk bertauhid dan menjauhi syirik yang merupakan landasan utama agama Islam.

Dalil wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim

Berbakti kepada orang tua merupakan suatu amalan yang mulia, dan kedudukannya tidaklah berubah walaupun orang tua tersebut zalim. Ada beberapa dalil yang menunjukkan wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Pada ayat di atas, bisa kita lihat bahwa Allah tetap memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua kita dengan baik walaupun mereka memaksa kita untuk berbuat syirik. Bayangkan, hal apa yang lebih kejam dibandingkan memaksa seorang anak agar kekal di neraka (dengan berbuat syirik)? Akan tetapi, Allah tetap memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka.

Hikmah diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalim

Mungkin terlihat tidak adil bagi orang-orang yang merasa hidupnya dizalimi dan disakiti oleh orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan rasa sakit lahir maupun batin yang diberikan oleh orang tuanya. Setelah mereka dewasa, mereka malah harus berbakti kepada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.

Akan tetapi jika direnungkan kembali, ada hikmah yang besar di balik berbakti kepada orang tua, walaupun mereka orang tua yang zalim.

Pertama, kunci masuk surga

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu kunci yang bisa mengantarkan kita untuk masuk surga. Suatu hal yang merugi ketika kita memiliki orang tua, tapi tidak bisa memanfaatkannya untuk bisa masuk surga. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, 

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celakalah dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)

Berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu tiket masuk surga yang paling utama, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,

الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut, atau engkau boleh menjaganya.” (HR. Tirmidzi)

Syekh Al-Mubarakfuri menjelaskan tentang maksud dari pintu yang paling tengah,

أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ

“Maksudnya adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana yang paling tinggi derajatnya, yaitu menaati orang tua dan menjaga hak dan kehormatannya.”

Jangan sampai kebencian kita kepada orang tua kita malah menghilangkan kesempatan kita untuk meraih pintu surga yang paling utama. Bayangkan jika orang yang memiliki orang tua saleh yang menyayanginya dari lahir hingga akhirnya dipisahkan dengan kematian, ketika mereka berbakti kepada orang tua, surga adalah balasannya. Apalagi seorang anak yang memiliki orang tua yang zalim, ujiannya lebih besar, tentu balasannya lebih besar juga.

Kedua, memulai siklus kebaikan

Keburukan tidak selamanya harus dibalas dengan keburukan, terkadang membalas keburukan dengan kebaikan adalah solusi. Mari renungkan firman Allah berikut,

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم

“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)

Bermusuhan dengan orang tua bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Hal tersebut bisa melebar ke keburukan lainnya. Bisa berupa terputusnya silaturahmi, ketidakharmonisan antar keluarga, ataupun konflik-konflik lainnya. Terkadang mengalah dan berbuat baik kepada orang tua yang zalim tersebut merupakan pilihan yang terbaik.

Jangan sampai konflik dan perpecahan yang ada terus-menerus terjadi. Mulailah memulai siklus kebaikan di keluarga dengan berbakti kepada orang tua walaupun mereka telah berlaku zalim. Kelembutan dan bakti Anda bisa saja menyadarkan orang tua dan mulai mau berubah. Biarlah yang lalu telah berlalu.

Selain itu, ada satu sosok yang butuh teladan untuk mendapatkan tiket surga di masa mendatang. Mereka adalah anak-anak, mereka butuh teladan dalam berbakti kepada orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa tertanam kesadaran yang tinggi untuk berbakti kepada orang tua nantinya jika Anda tidak mencontohkannya?

Penutup

Berbakti kepada orang tua merupakan perkara mulia yang mungkin mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dipraktekkan. Terlebih lagi jika seorang anak tidak diperlakukan baik oleh orang tuanya, apalagi jika orang tuanya malah jadi sumber rasa sakit lahir dan batin mereka. Akan tetapi, semua itu tidaklah menggugurkan kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya.

Memang hal tersebut merupakan perkara yang sulit, semoga kita semua dimudahkan untuk berbakti kepada orang tua dan mendapatkan balasan yang setimpal di surga nanti.

Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslim.or.id

 

Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/428662


Artikel asli: https://muslim.or.id/115237-berbakti-kepada-orang-tua-yang-zalim-masih-wajibkah-kita-berbakti.html