Beranda | Artikel
Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 2)
9 jam lalu

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran, bukan karena banyaknya jumlah atau fanatisme kepada golongan tertentu.

Mengapa mereka disebut Al-Jama’ah?

Mereka disebut Al-Jama’ah karena bersatu di atas kebenaran. Salah satu karakteristik mereka adalah tetap bersatu di atas kebenaran. Mereka menjadikan kebenaran sebagai pegangan dan tidak berpaling kepada selainnya. Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, mereka kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui pendapat yang benar, lalu mengikutinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, mereka tidak bersikeras mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak pula fanatik terhadap pandangannya. Sebaliknya, mereka mengembalikan perkara yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apa yang terbukti sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mereka ikuti, meskipun bertentangan dengan pendapat mereka. Sebaliknya, apa yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka tinggalkan dan tolak, meskipun sesuai dengan keinginan atau hawa nafsu mereka. Inilah jalan dan manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Adapun orang-orang yang enggan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena masih fanatik pada pendapatnya, atau lebih memilih mengikuti pendapat kelompoknya meskipun menyelisihi kebenaran, atau menuruti hawa nafsunya, lalu mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka hakikatnya ia tidak berada di atas manhaj tersebut, meskipun ia mengaku demikian.

Karena Ahlus Sunnah adalah mereka yang bersatu dalam Al-Jama’ah, bukan persatuan di atas berbagai macam kelompok atau golongan dengan segala pemikirannya untuk menyelisihi kebenaran. Maka, yang dimaksud dengan Al-Jama’ah bukanlah dari banyaknya jumlah mereka, tetapi yang dimaksud adalah orang yang berada di atas kebenaran, meskipun hanya seorang diri.

Jadi, orang yang berada di atas kebenaran itulah yang pantas disebut sebagai Al-Jama’ah dan termasuk juga Ahlus Sunnah. Siapa pun yang berada di atas kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, maka merekalah yang termasuk Al-Jama’ah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah membuat dugaan-dugaan.” (QS. Al-An’am: 116)

Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu diukur dengan banyaknya pengikut. Yang menjadi ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Di antara ciri-ciri yang paling menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai golongan ataupun kelompak yang ada yaitu:

Bersikap pertengahan (wasathiyyah)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang selamat yang Allah ‘Azza wa Jalla istimewakan di antara berbagai golongan yang ada. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa umat Islam merupakan umat yang pertengahan di antara berbagai umat yang ada, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Dan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan di antara tujuh puluh tiga golongan yang ada. Mereka berada di posisi pertengahan di antara berbagai golongan di dalam umat ini, karena mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Sikap pertengahan ini tampak dalam segala aspek ajaran Islam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan tidak pula meremehkannya. Mereka senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus. Mereka menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam beragama, bukan berdasarkan hawa nafsu, akal semata, maupun fanatik terhadap golongan tertentu.

Sabar dan teguh di atas kebenaran

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa di atas kebenaran. Mereka tidak tergoyahkan meskipun banyak fitnah, ujian, dan cobaan yang datang silih berganti. Mereka tetap kokoh di atas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ، قيل: يا رسول الله أجر خمسين رجلًا منا أو منهم؟ قال: بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنْكُمْ

“‘Sesungguhnya setelah kalian akan datang masa-masa yang penuh dengan kesabaran. Pada masa itu, orang yang berpegang teguh kepada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang tetap beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan seperti kalian.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.’” (HR. At-Tirmidzi no. 3058)

Berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa fitnah dan banyaknya penyimpangan memiliki keutamaan yang besar, karena beratnya ujian yang ia hadapi berupa kesulitan, celaan, ancaman, hujatan, ejekan, dan perendahan diri. Ditambah lagi sedikitnya orang yang mau mendukung kebenaran, serta banyaknya musuh dan orang-orang yang menentang kebenaran.

Oleh sebab itu, seseorang harus bersabar dalam menempuh manhaj as-Salafus-Shalih, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk gangguan, baik berupa celaan maupun tekanan yang lebih berat dari itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah Al-Ghuraba.” (HR. Muslim no. 145)

Pertanyaannya adalah siapakah Al-Ghuraba? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan ketika manusia rusak.” (HR. Ahmad no. 16690)

Dalam riwayat lain disebutkan,

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ

“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2630)

Oleh karena itu, mereka disebut Al-Ghuraba atau asing karena mereka teguh di atas manhaj yang benar meskipun jumlah mereka sedikit dibandingkan kebanyakan manusia sehingga mereka membutuhkan kesabaran, ketenangan dalam bersikap, dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Oleh karena itulah, tidak banyak orang yang mampu bertahan di atasnya, kecuali mereka yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 13-16.


Artikel asli: https://muslim.or.id/114981-prinsip-prinsip-manhaj-ahlus-sunnah-wal-jamaah-bag-2.html