Beranda | Artikel
Menggunakan Privilege untuk Ketaatan (Bag. 1)
19 jam lalu

Dalam kehidupan ini, tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang lahir dalam keluarga terpandang, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan. Ada yang memiliki akses pendidikan tinggi, ada yang harus berjuang sejak kecil. Ada yang memiliki relasi luas, jabatan strategis, pengaruh sosial, dan kemudahan ekonomi.

Di zaman sekarang, istilah yang sering digunakan adalah privilege, yaitu keistimewaan atau kemudahan yang dimiliki seseorang karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan, relasi, atau kedudukan sosial.

Namun dalam pandangan Islam, privilege bukan sekadar keberuntungan. Ia adalah ujian. Ia adalah amanah. Ia adalah sesuatu yang kelak akan dipertanyakan secara rinci di hadapan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ

“Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi dan meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian terhadap apa yang Dia berikan kepada kalian.” (QS. Al-An‘am: 165)

Perbedaan derajat bukan semata-mata kelebihan. Hakikatnya itu semua adalah ujian. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian pada hari itu kalian pasti akan ditanya tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)

Privilege bukan jaminan kemuliaan

Sering kali seseorang merasa bangga dengan keistimewaannya. Jabatan, harta, pendidikan tinggi, jaringan luas, atau akses terhadap kekuasaan membuatnya merasa lebih unggul. Kemuliaan sejati tetap ditentukan oleh ketakwaan,

`إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Bukan yang paling berpengaruh. Kemuliaan di sisi Allah bukan ditentukan oleh privilege, tetapi oleh bagaimana privilege itu digunakan.

Harta sebagai privilege

Harta adalah salah satu privilege terbesar dalam kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, privilege terbesar adalah apabila memiliki harta yang melimpah. Padahal harta adalah salah satu fitnah bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال

“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Harta bukan hanya nikmat. Ia adalah pertanyaan yang kelak harus dijawab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Ingatlah bahwa segala kenikmatan, terutama harta, itu murni dari Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dia telah memberikan kepada kalian dari segala yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Jika seseorang memiliki kelapangan harta, maka ia memiliki peluang besar untuk bersedekah, membangun masjid, membantu pendidikan, menolong fakir miskin, dan membiayai dakwah. Dan justru Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan di jalan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Privilege harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk sedekah, membantu dakwah, dan menolong yang lemah. Tetapi ia bisa menjadi sebab kebinasaan jika melahirkan kesombongan dan cinta dunia berlebihan. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,

وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)

Ilmu dan pendidikan sebagai privilege

Di era modern, pendidikan adalah privilege besar. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Dan orang yang mendapatkan privilege ini seharusnya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Namun, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,

من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ عَرْفَ الجنةِ يومَ القيامةِ . يعني ريحَها

“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dituntut untuk mencari wajah Allah (karena Allah), tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” Yang dimaksud dengan ‘araf al-jannah adalah bau harum surga. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Privilege ilmu seharusnya melahirkan kepedulian, bukan kesombongan. Ia harus menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih sabar dalam mengajar, lebih lembut dalam menasihati, dan lebih tulus dalam melayani umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المؤمن يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف وخير الناس أنفعهم للناس

“Seorang mukmin itu mudah bergaul dan disenangi (mampu menjalin kedekatan dengan orang lain). Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bisa bergaul dan tidak disukai. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)

Dan ini berlaku dalam segala bidang ilmu, bukan hanya ilmu agama. Ilmu kedokteran seharusnya melahirkan empati kepada pasien, bukan sekadar prestise profesi. Ilmu hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan menjadi alat permainan kepentingan. Ilmu ekonomi seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan. Ilmu pendidikan seharusnya mencerdaskan dan membentuk akhlak, bukan hanya menghasilkan angka-angka nilai. Ilmu teknologi seharusnya memudahkan kehidupan manusia, bukan memperbanyak kerusakan atau penyebaran keburukan.

Dalam setiap disiplin, ilmu adalah cahaya. Namun cahaya itu bisa menjadi penerang atau justru menjadi api kesombongan, tergantung niat dan cara menggunakannya. Orang yang berilmu tetapi tidak peduli pada manusia, sesungguhnya belum memahami hakikat ilmunya.

Karena itu, siapa pun yang diberi kelebihan dalam ilmu hendaknya terus bertanya pada dirinya:

Sudahkah ilmuku memudahkan orang lain?

Sudahkah ia menyelesaikan masalah, meringankan beban, atau membuka jalan kebaikan?

Ataukah ia hanya menjadi kebanggaan pribadi, pajangan gelar, dan sumber pujian?

Privilege kedudukan dan jabatan adalah amanah yang berat

Salah satu privilege terbesar adalah kedudukan dan jabatan. Baik sebagai pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat, pengusaha berpengaruh, ataupun figur publik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيهِ فِيهَا

“Sesungguhnya itu adalah amanah; dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sayangnya, banyak orang mengejar posisi dan jabatan karena melihat kehormatan dan fasilitasnya. Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang sangat berat. Kekuasaan bisa menjadi jalan menuju surga bagi orang yang adil, amanah, dan takut kepada Allah. Namun ia juga bisa menjadi sebab kehancuran bagi orang yang zalim, sombong, dan menyalahgunakannya.

Jabatan bukan tentang dilayani, tetapi tentang melayani. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang memikul beban. Bukan tentang memperkaya diri, tetapi tentang memperluas manfaat.

Oleh karena itu, siapa pun yang diberi privilege kekuasaan, hendaknya selalu bertanya: apakah kedudukan ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah ia menjadi jalan keadilan, atau sarana kepentingan pribadi?

Jika seseorang memiliki privilege berupa jabatan, ia memiliki kesempatan besar untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Ingatlah balasan bagi pemimpin yang adil dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (yang pertama) pemimpin yang adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)

[Bersambung]

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/114825-menggunakan-privilege-untuk-ketaatan-bag-1.html