Mengapa Allah Tidak Terlihat?
Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian yang menanyakan ini memanglah orang awam, sebagian lagi adalah kaum ateis atau juga agnostik yang mencoba mengkritisi konsep ketuhanan, khususnya dalam Islam. Namun, siapapun yang mengajukan pertanyaan ini, perlu sekali untuk dijawab dengan ilmu yang mumpuni. Penulis akan mencoba menyusun jawaban yang semoga Allah ﷻ berikan tuntunan di dalamnya.
Pertama: Tidak semua yang tak terlihat berarti tidak ada
Satu contoh argumen ringan yang menggelitik, tetapi cukup menjadi bekal adalah: kita sendiri tidak pernah melihat wujud otak kita sendiri. Namun, kita percaya bahwa kita memiliki otak, bukan?
Bagaimana kita bisa mempercayai bahwa kita memiliki otak? Jelas ada proses permisalan yang kita lakukan. Kita menerima suatu kebenaran absolut bahwasanya umumnya manusia punya otak, kita pun bisa membuktikannya dengan gambar dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Dan kita sendiri adalah bagian dari manusia itu sendiri. Kita pun membuktikan bahwa diri kita adalah sejenis manusia dengan melihat kesamaan fitur yang banyak sekali. Maka, kita bisa meyakini dengan kuat meskipun tidak pernah melihat, bahwa kita memiliki otak dalam tempurung kepala kita.
Di masa kini, jika kita memiliki wawasan sains yang cukup, dengan mudah kita bisa menerima argumen ini. Ada banyak hal di dunia ini yang tak pernah kita lihat secara langsung, tetapi kita yakini keberadaannya. Kita ambil contoh terdekat, yakni seluruh atom yang menyusun diri kita. Kita meyakini bahwa diri kita terdiri dari partikel atomik, tetapi kita sendiri tidak pernah melihat satuannya. Mungkin, sudah ada beberapa ilmuwan yang dapat melihat wujud susunan atom, tetapi kebanyakan dari kita tidak pernah melihatnya langsung, tetapi kita tetap percaya. Yang lebih signifikan lagi adalah wujud sub-atom, yang menyusun atom keseluruhan, hanya bisa ditentukan berdasarkan pantulan gelombang dan fenomena fisika.
Jika kita hendak mengambil contoh yang amat jauh, maka contoh itu adalah bintang-bintang dan juga lubang hitam di langit kita. Ada banyak sekali kabar bintang yang sampai kepada kita itu dalam wujud paparan gelombang yang tak tertangkap mata. Lubang hitam misalnya, kita hanya bisa melihat belokan cahaya yang disebabkan gravitasinya. Adapun lubang hitamnya sendiri, kita tidak bisa memastikan wujudnya secara zat. Padahal kita mengakuinya sebagai pengetahuan populer saat ini.
Semua itu menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk membuat kita menjadi yakin tanpa melihat. Di antara cara itu adalah mengumpulkan banyak indikasi, persaksian, permisalan sejenis, serta masih banyak lagi. Sedangkan Allah ﷻ adalah Zat yang paling banyak tanda keberadaannya.
Kedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻ
Seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan Allah ﷻ. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
كَيْفَ يُطْلَبُ الدَّلِيلُ عَلَى مَنْ هُوَ دَلِيلٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ؟
“Bagaimana dituntut agar dapat mencari bukti untuk menunjukkan sesuatu yang ia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu?” (Madarijus Salikin, 1: 82) [1]
Beliau lanjutkan dengan permisalan bahwa siang hari tidak perlu dibuktikan lagi karena saking jelasnya perwujudannya bagi siapapun yang berakal. Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian berkata,
وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ تَعَالَى أَظْهَرُ لِلْعُقُولِ وَالْفِطَرِ مِنْ وُجُودِ النَّهَارِ
“Sudah diketahui bahwasaanya keberadaan Tuhan ﷻ lebih jelas bagi akal dan fitrah dibandingkan wujudnya realitas siang hari.” (Madarijus Salikin, 1: 83)
Tidakkah kita melihat langit dengan segala isinya beredar dengan ketentuan dan garis-garis edarnya? Tidakkah kita melihat ragam bentuk makhluk hidup dapat bersama dengan segala keindahannya? Tidakkah kita sadar ada doa yang kita panjatkan dan dikabulkan dalam keadaan terbaiknya?
أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raf: 185)
Semua ini adalah bukti bahwasanya ada wujud Allah ﷻ meskipun ia tidak terlihat dengan mata kepala langsung. Dan Allah ﷻ pun telah mengajak kita semua untuk merenungi hal ini dalam banyak ayat-Nya.
Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?
Ketiga: Justru karena Allah ﷻ tidak terlihat adalah bentuk keadilan-Nya
Di dunia ini, tidak semua orang memiliki penglihatan mata yang sempurna. Ada yang matanya rabun, katarak, bahkan (maaf) buta. Jika Allah ﷻ terlihat dalam wujud fisikal yang tertangkap, maka sungguh ini menjadi tidak adil bagi manusia yang tak mampu melihat. Sedang Allah ﷻ adalah Zat Maha Adil, Dia tidak memberikan ruang kezaliman bagi diri-Nya.
Dalam sebuah hadis qudsi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ,
يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 6737)
Keempat: Allah ﷻ pasti akan terlihat
Meski di dunia tidak mungkin terlihat, tetapi Allah ﷻ berjanji akan memberikan penglihatan atas diri-Nya bagi manusia di hari akhirat nanti. Allah ﷻ berfirman,
وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat…” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)
Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan maksud ayat tersebut,
تَرَاهُ عَيَانًا، كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي صَحِيحِهِ: “إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانا
“Mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jarir, dalam kitab Shahih-nya, “Sungguh mereka akan segera melihat Tuhan mereka benar-benar dengan mata kepala langsung.” (HR. Bukhari no. 554)
Allah ﷻ pasti terlihat di hari akhirat -bagi orang beriman- adalah akidah yang ditetapkan oleh Ahlus Sunah, sebagaimana dinukilkan oleh para imam salaf, termasuk dalam pembahasan panjang Ibn Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah dalam Syarah Thahawiyah-nya.
Kelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang beriman
Allah ﷻ berfirman,
لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya.” (QS. Qaf: 35)
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini, seperti firman Allah,
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)
Kenikmatan tambahan itu adalah melihat wajah Allah ﷻ. Sungguh hanya orang beriman yang dapat melihat tambahan kenikmatan tiada tara ini. Adapun orang kafir dan munafik, tidak mendapatkan nikmat ini. Allah ﷻ berfirman,
كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)
Keenam: Kesempurnaan konsep ujian di dunia
Dunia itu adalah darul bala, arena ujian bagi manusia. Ujian yang Allah ﷻ berikan adalah jalan bagi kita untuk menuju surga Allah ﷻ, jika sukses; atau justru gagal dan terjerembab ke dalam neraka-Nya.
Kegaiban Allah ﷻ dari sudut pandang manusia adalah ujian yang menguji keimanan manusia. Lihatlah kepada kabar tentang sifat orang yang beriman dan menerima kebenaran Islam dalam awal mushaf Al-Quran. Dalam surah Al-Baqarah, muslim sejati dituntut untuk mengimani perkara gaib sebagaimana firman Allah ﷻ,
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“Alif la mim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3)
Oleh karena itu, wajar sekali ketika tidak tampaknya wujud Allah ﷻ itu berselarasan dengan konsep dunia sebagai arena ujian kehidupan. Tidak tampaknya wujud zat Allah ﷻ adalah anugerah bagi mereka yang benar-benar beriman kepada-Nya. Karena dengan itulah, Allah ﷻ berikan pahala istimewa dibandingkan orang yang tidak percaya.
Ketujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada jaminan bagi penentangnya untuk beriman?
Realitanya, para penentang eksistensi Tuhan dari kalangan ateis dan agnostik, tetap tidak akan beriman kepada Allah ﷻ meskipun wujud Allah ﷻ tampak pada bola matanya, jika mereka berkeras hatinya. Disebutkan salah satu tokoh ateis, Bertrand Russell, dia berkata, “Seandainya Tuhan menampakkan wujudnya sebelum aku mati, aku akan berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak tunjukkan bukti yang lebih baik lagi?’”
Demikian juga pernyataan ateis skeptisis, Richard Dawkins, bahwa meskipun ada hal ajaib yang dapat berkorelasi dengan bukti keberadaan Tuhan, ia akan selalu mencari jawaban kritikal berbasis alasan logis untuk membantahnya. [2]
Penutup
Jika kita dapat menyelami samudera ayat Allah ﷻ dengan akal dan fitrah yang Allah ﷻ tanamkan pada diri kita, maka kita dapat merasakan banyak keajaiban dari satu takdir Allah ﷻ. Sebuah takdir untuk kita tidak bisa melihat Allah ﷻ secara langsung di dunia, justru mengandung hikmah yang luar biasa besar bagi sistem kehidupan manusia. Di dalam kegaiban Allah ﷻ secara pandangan mata, justru terkandung nilai keadilan dan janji kenikmatan yang memotivasi kita untuk beramal lebih.
Selain itu, justru ayat Allah ﷻ yang banyak ini menjadi bukti yang cukup untuk membungkam orang yang sinis dengan Islam, dari kalangan ateis maupun penganut agnostisme. Kembalilah kepada Allah ﷻ, wahai orang-orang yang telah melampaui batas!
Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Dinukilkan pula dalam Syarah Rinci Rukun Iman dan Mausuah Al-Aqdiyah.
[2] Nukilan ini diambil dari situs yang mengkaji argumen ateis berikut: https://www.str.org/w/why-evidence-will-not-convince-some-atheists
Artikel asli: https://muslim.or.id/114301-mengapa-allah-tidak-terlihat.html