Tazir dalam Islam: Salah Satu Bentuk Hukum Syariat
Hukuman ada sebagai bentuk akibat dari perbuatan kesalahan. Umumnya, diharapkan muncul dari hukuman yang ditegakkan adanya perbaikan. Islam hadir bukan hanya memperbaiki cara beribadah dan berakhlak, Islam juga mengatur dengan sangat rinci bagaimana masyarakat ditegakkan, bagaimana pelanggar dihukum, dan siapa yang berhak menjalankan hukuman itu. Ini bukan soal kekejaman. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca agar manusia dapat berlaku adil.” (QS. Al-Hadid: 25)
Dalam sistem hukum pidana Islam ada empat jenis hukuman: had, qisas, diyat, dan ta’zir. Keempatnya berbeda dalam sumber, kadar, dan mekanismenya. Ta’zir adalah yang paling paling jarang dibahas..
Pengertian dan dasar hukum ta’zir
Ta’zir secara bahasa berarti mencegah dan mendidik. Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyah,
التَّعْزِيرُ تَأْدِيبٌ عَلَى ذُنُوبٍ لَمْ تُشْرَعْ فِيهَا الحُدُودُ
“Ta’zir adalah hukuman ta’dib atas pelanggaran-pelanggaran yang tidak ditetapkan had padanya.” [1]
Al-Mawardi juga rahimahullah menjelaskan hukumnya dalam Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf,
التَّعْزيرِ واجِبٌ فى كلِّ مَعْصيةٍ لا حَدَّ فيها ولا كَفَّارَةَ
“Ta’zir wajib untuk setiap kemaksiatan (pelanggaran) yang tidak ada had dan kaffarahnya.” [2]
Dasar kewenangannya adalah perintah Allah kepada pemimpin untuk menegakkan keadilan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُم
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)
Had, qisas, diyat, dan ta’zir: Ketentuan masing-masing hukuman dalam Islam
Had adalah hukuman yang kadarnya ditetapkan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an dan sunah. Tidak boleh dikurangi, tidak boleh ditambah, tidak boleh digugurkan oleh siapa pun. Allah Ta’ala berfirman,
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar batas-batas Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)
Al-Mawardi rahimahullah mendefinisikannya dalam Al-Ahkam As-Sultaniyyahnya,
الحدود زواجر وضعها الله تعالى للردع عن ارتكاب ما حظر، وترك ما أمر به
“Had adalah pencegah yang Allah syariatkan agar orang yang berniat melakukan kejahatan mengurungkan niatnya karena takut akan hukuman.” [3]
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa had tidak pandang bulu,
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah apabila orang mulia di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan had padanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]
Qisas adalah balasan setimpal atas kejahatan terhadap jiwa dan anggota badan. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ
“Dan Kami telah menetapkan atas mereka di dalamnya bahwa jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata.” (QS. Al-Maidah: 45)
Syekh Shalih Al-Fauzan rahimahullah berkata dalam Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi,
وَالْقِصَاصُ وَاجِبٌ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالإِجْمَاعِ
“Qisas adalah wajib berdasarkan Kitab, sunah, dan ijmak.” [5]
Diyat adalah ganti rugi harta yang ditetapkan syariat, dibayarkan ketika qisas digantikan dengan pemaafan. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ
“Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diyat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 178)
Ta’zir berbeda dari ketiganya karena kadarnya tidak ditetapkan secara pasti oleh syariat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menukil perkataan Ibnu Aqil Al-Hanbali dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,
مِن السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلًا يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إِلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنِ الْفَسَادِ وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ وَلَمْ يَنْزِلْ بِهِ وَحْيٌ
“(Ta`zir) termasuk bagian siyasah yang tindakannya didasari yang dengannya manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, meskipun tidak ditetapkan langsung oleh Rasul dan tidak turun wahyu tentangnya.” [6]
Baca juga: Membunuh karena Dipaksa, Bagaimana dalam Pandangan Islam?
Kapan dan bagaimana ta’zir diberlakukan
Ta’zir diberlakukan pada tiga keadaan: 1) pelanggaran yang tidak ada had-nya sama sekali dalam syariat namun jelas kemaksiatan, seperti suap dan penipuan; 2) pelanggaran yang asalnya memiliki had, namun had tidak bisa ditegakkan karena syubhat atau syarat tidak terpenuhi; atau 3) pelanggaran terhadap ketertiban umum yang berlaku.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَجْلِدُوا فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ
“Seseorang tidak boleh dicambuk lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali dalam had dari had-had Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) [7]
Hadis ini sekaligus menjadi bukti bahwa ta’zir ada dalam syariat dan sekaligus menegaskan batas atasnya. Adapun bentuknya tidak terbatas pada cambukan. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam As-Siyasah Asy-Syar’iyyah,
يَجِبُ تَعْزِيرُ كُلِّ مَنْ أَتَى مُحَرَّمًا أَوْ تَرَكَ وَاجِبًا إِذَا رَأَى وَلِيُّ الأَمْرِ أَنَّ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةً
“Wajib dita’zir setiap orang yang melakukan hal yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, apabila penguasa memandang bahwa dalam hal itu terdapat kemaslahatan.” [8]
Ibnu Farhun rahimahullah menyebutkan dalam Tabsirat al-Hukkam bahwa bentuk ta’zir bisa berupa penjara, pengasingan, denda harta, pencabutan jabatan, atau celaan secara lisan, semua tergantung berat ringannya pelanggaran dan pertimbangan hakim. [9]
Semua jenis hukuman ini hak penguasa, bukan individu
Had, qisas, diyat, dan ta’zir, semuanya hanya boleh dijalankan oleh penguasa yang sah melalui peradilan yang benar. Tidak ada satu pun yang menjadi hak individu untuk dieksekusi sendiri, meski ia yakin pelaku bersalah. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya; dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [10]
Badruddin Ibnu Jama‘ah rahimahullah menyebutkan dalam Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam bahwa di antara kewajiban pemimpin adalah,
إِقَامَة الْحُدُود الشَّرْعِيَّة، صِيَانة لمحارم الله عَن التجريء عَلَيْهَا، ولحقوق الْعباد عَن التخطي إِلَيْهَا.
“Menegakkan had untuk menjaga larangan-larangan Allah dari pelanggaran, dan memelihara hak-hak hamba dari kebinasaan.” [11]
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam Thuruq Al-Hukmiyyah,
وإقامة الحدود عليهم، والتعزيرات، ليست لهم ولا لآحاد الناس، وإنَّما هي من صلاحيات الإمام، أو رئيس الدولة.
“Menegakkan hudud dan menjatuhkan hukuman ta’zir bukanlah wewenang mereka ataupun setiap individu dari masyarakat. Kewenangan tersebut hanya dimiliki oleh imam (penguasa) atau kepala negara.” [12]
Ini tegas. Siapa yang menghukum orang lain tanpa kewenangan resmi, ia bukan sedang menegakkan syariat. Ia sedang melanggarnya.
Hukuman bukan kekejaman, melainkan kemaslahatan
Hukuman dalam Islam bukan soal balas dendam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا
“Satu had yang ditegakkan di muka bumi lebih baik bagi penghuninya daripada mereka diguyur hujan selama empat puluh pagi.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [13]
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Mustadrak,
فَإِنَّ الْعُقُوبَاتِ الشَّرْعِيَّةَ شُرِعَتْ رَحْمَةً مِنَ اللَّهِ بِعِبَادِهِ فَهِيَ مِنْ جِنْسِ إِكْرَامِهِمْ وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ
“Sesungguhnya hukuman-hukuman syariat disyariatkan sebagai rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ia termasuk bagian dari kemuliaan dan kebaikan Allah kepada mereka.” [14]
Abdullah Al-Bassam rahimahullah berkata dalam Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram,
قال أبو ثور: التعزير على قدر الجناية، وتسرع الفاعل في الشر، وعلى قدر ما يكون أنكى، وأبلغ في الأدب،
“Abu Tsaur berkata, “Hukuman ta’zir diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan, tingkat kenekatan pelaku dalam melakukan keburukan, serta dengan mempertimbangkan hukuman yang paling memberikan efek jera dan paling efektif dalam mendidik pelaku.” [15]
Hukuman yang adil bukan yang paling berat. Hukuman yang adil adalah yang setimpal dengan pelanggaran; dijalankan oleh yang berwenang; dengan tujuan memperbaiki, bukan menghancurkan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)
Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang adil dan masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Aamiin.
Baca juga: Bolehkah Hukuman Kebiri Bagi Pemerkosa
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 297.
[2] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min al-Khilaf, 26: 447.
[3] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 325.
[4] HR. Bukhari no. 3475 dan Muslim no. 1688.
[5] Shalih Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2: 420.
[6] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah, hal. 29.
[7] HR. Bukhari no. 6850 dan Muslim no. 1708.
[8] Ibnu Taimiyah, As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah, hal. 62.
[9] Ibnu Farhun, Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam, 2: 297–300.
[10] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.
[11] Badruddin Ibnu Jama‘ah, Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam, hal. 67.
[12] Abdul Mannan At-Talibi, Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah, hal. 28.
[13] HR. Ibnu Majah no. 2538; An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra. Dihasankan oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah.
[14] Ibnu Taimiyyah, Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam, 5: 93.
[15] Abdullah Al-Bassam, Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, 6: 230.
Daftar Pustaka
Al-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih. Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. Makkah Al-Mukarramah: Maktabah Al-Asadi, cet. 5, 1423 H/2003 M.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.
Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bin Abdullah. Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi. Riyadh: Dar Al-‘Ashimah, cet. 1, 1423 H.
Al-Mardawi, Alauddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman. Al-Inshaf fi Ma‘rifat Ar-Rajih min Al-Khilaf. Tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki dan Abdul Fattah Muhammad Al-Hulw. Kairo: Hajr li At-Thiba‘ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi‘ wa Al-I‘lan, cet. 1, 1415 H/1995 M.
Al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri Al-Baghdadi. Al-Ahkam As-Sulthaniyyah. Kairo: Dar Al-Hadits.
An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.
At-Talibi, Abdul Mannan. Qadhiyyat Al-Ightiyalat fi Al-Bilad Al-Islamiyyah: Dirasah Fiqhiyyah Ushuliyyah. Karya ilmiah tidak diterbitkan.
Ibnu Farhun, Ibrahim bin Ali. Tabsirat Al-Hukkam fi Ushul Al-Aqdiyyah wa Manahij Al-Ahkam. Kairo: Maktabah Al-Kulliyyat Al-Azhariyyah, cet. 1, 1406 H/1986 M.
Ibnu Jama‘ah, Muhammad bin Ibrahim bin Sa‘dillah Al-Kinani Al-Hamawi Asy-Syafi‘i. Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl Al-Islam. Tahqiq dan dirasah Fuad Abdul Mun‘im Ahmad. Doha: Dar Ats-Tsaqafah, cet. 3, 1408 H/1988 M.
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Thuruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah. Kairo: Al-Muassasah Al-‘Arabiyyah li At-Tiba‘ah wa An-Nasyr, 1961.
Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-Mustadrak ‘ala Majmu’ Fatawa Syaikh Al-Islam. Jam‘ wa tartib Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim. Cet. 1, 1418 H.
Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah fi Ishlah Ar-Ra‘i wa Ar-Ra‘iyyah. Tahqiq Ali bin Muhammad Al-‘Imran. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, cet. 4, 1440 H/2019 M.
Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.
Artikel asli: https://muslim.or.id/114252-tazir-dalam-islam-salah-satu-bentuk-hukum-syariat.html