Kesibukan yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban
Dalam hidup ini, semua orang pasti memiliki kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu bernilai di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim memiliki ciri khas yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang bernilai untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di dunia bukan sekadar aktivitas tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang harus ditata prioritasnya.
Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ
“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan amalan yang terbaik dan kesibukan yang terarah.
Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,
أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة
“Ahsanu ’amalan adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Suatu amalan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar jika amal itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)
Kesibukan seorang muslim harus senantiasa berpijak pada dua pilar ini: ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut Ilmu
Menata prioritas dalam kehidupan
Untuk meraih amalan terbaik, seorang muslim harus mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, yaitu dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.
Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,
مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada amalan sunah yang bisa menyaingi kemuliaan amalan wajib. Salat sunah tidak akan mengalahkan salat wajib, sedekah sunah tidak mendahului zakat, dan aktivitas kebaikan apa pun tidak boleh membuat kita mengabaikan kewajiban utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,
أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور
“Sesungguhnya amalan sunah tidak boleh didahulukan di atas amalan yang wajib, karena amalan sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk amalan yang wajib. Sebagian ulama besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan amalan yang wajib, lalu tidak sempat mengerjakan amalan yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan amalan yang sunah, lalu melalaikan amalan yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)
Betapa banyak orang yang sibuk dalam amalan sunah, bahkan perkara yang mubah, namun lupa kewajiban utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal ia sedang tertipu.
Agar tidak tertipu kesibukan
Kesibukan yang benar adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu benar-benar mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Seorang muslim yang cerdas akan selalu bertanya pada dirinya:
Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?
Apakah yang aku dahulukan adalah yang Allah dahulukan?
Apakah kesibukan ini benar-benar kebutuhan, atau hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan alasan kebaikan?
Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.
Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang benar dan bernilai di sisi-Nya. Aamiin.
Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/113776-kesibukan-yang-menipu-prioritas-terjerat-aktivitas-terlupa-kewajiban.html