Beranda | Artikel
Kembalinya Wahyu dan Awal Dakwah Sembunyi-Sembunyi
9 jam lalu

Pengangkatan Rasulullah ﷺ sebagai seorang Nabi dan Rasul merupakan peristiwa agung dalam sejarah manusia. Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira’ (حراء), yaitu permulaan surah al-’Alaq, wahyu sempat terhenti untuk beberapa waktu sehingga membuat beliau ﷺ risau. Pada artikel ini, kita akan membahas kembalinya wahyu, turunnya surah al-Muddatstsir, dan awal dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi.

Masa terhentinya wahyu

Setelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang pertama ketika menyendiri di Gua Hira’, yaitu surah al-’Alaq ayat 1-5, turunnya wahyu sempat terhenti setelahnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi wahyu tidak turun. Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, penulis ar-Rahiq al-Makhtum, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama beberapa hari. Adapun Syekh Muhammad al-Khudhari, penulis Nurul Yaqin, menguatkan pendapat bahwa wahyu terhenti selama 40 hari.

Hikmah dari terhentinya wahyu selama beberapa waktu disebutkan oleh para ulama adalah agar rasa takut yang dialami Rasulullah ﷺ hilang dan muncul kerinduan dalam diri beliau untuk kembali menerima wahyu.

Kembalinya wahyu dan turunnya surah al-Muddatstsir

Ketika bayang-bayang kebingungan mulai menghilang, tanda-tanda kebenaran semakin kokoh, dan Rasulullah ﷺ mengetahui dengan keyakinan penuh bahwa beliau telah menjadi Nabi bagi Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi, serta bahwa yang datang kepada beliau adalah utusan wahyu yang membawa berita dari langit, maka kerinduan dan penantian beliau terhadap datangnya wahyu menjadi sebab keteguhan dan kesiapan beliau saat wahyu itu kembali datang.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Beliau ﷺ bersabda,

فبينا أنا أمشي سمعت صوتا من السماء، فرفعت بصري قبل السماء، فإذا الملك الذي جاءني بحراء قاعد على كرسي بين السماء والأرض، فجثثت منه حتى هويت إلى الأرض، فجئت أهلي فقلت: زملوني زملوني، فزملوني، فأنزل الله تعالى: يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إلى قوله: فَاهْجُرْ، ثم حمي الوحي وتتابع

“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku ke arah langit. Ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku pun merasa sangat takut kepadanya hingga jatuh ke tanah. Lalu aku mendatangi keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Mereka pun menyelimutiku. Allah pun menurunkan,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝٥

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa (berhala).” (QS. al-Muddatstsir: 1-5)

Setelah itu, wahyu menjadi kuat dan turun secara berturut-turut.”

Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasan turunnya kembali wahyu dalam al-Bidayah wan Nihayah dengan berkata,

وَقَامَ حِينَئِذٍ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الرِّسَالَةِ أَتَمَّ الْقِيَامَ، وَشَمَّرَ عَنْ سَاقِ الْعَزْمِ، وَدَعَا إِلَى اللَّهِ الْقَرِيبَ وَالْبَعِيدَ، وَالْأَحْرَارَ وَالْعَبِيدَ، فَآمَنَ بِهِ حِينَئِذٍ كُلُّ لَبِيبٍ نَجِيبٍ سَعِيدٍ، وَاسْتَمَرَّ عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَعِصْيَانِهِ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

“Pada saat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tugas risalah dengan pelaksanaan yang paling sempurna. Beliau menyingsingkan lengan tekadnya, lalu menyeru kepada Allah, baik kepada orang yang dekat maupun yang jauh, orang merdeka maupun budak. Pada saat itu, setiap orang yang berakal, mulia, dan bahagia segera beriman kepada beliau. Sebaliknya, orang yang sombong lagi keras kepala terus berada dalam penentangan dan kedurhakaan kepada beliau.”

Kondisi Makkah dan strategi dakwah sembunyi-sembunyi

Telah diketahui bahwa Makkah pada saat itu adalah pusat agama bangsa Arab. Di dalamnya terdapat para penjaga Ka’bah dan para pengurus berhala-berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab.

Melihat realita yang demikian, tentu lebih sulit dan berat untuk bisa mencapai tujuan perbaikan di Makkah dibandingkan jika dakwah dimulai di tempat yang jauh. Perkara ini membutuhkan tekad kuat yang tidak mudah tergoyahkan dengan banyaknya musibah dan bencana. Oleh karena itu, merupakan bagian dari hikmah bahwa dakwah pada permulaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya agar penduduk Makkah tidak dikejutkan dengan sesuatu yang langsung membangkitkan kemarahan mereka.

Generasi pertama pemeluk Islam

Merupakan hal yang wajar bahwa Rasulullah ﷺ menawarkan Islam pertama kali kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan sahabat-sahabat dekat beliau. Rasulullah ﷺ juga mengajak orang-orang yang beliau lihat memiliki kebaikan dari kalangan orang-orang yang beliau kenal dan mengenal beliau. Rasulullah ﷺ mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang dikenal mencintai Allah, kebenaran, dan kebaikan. Orang-orang tersebut juga mengenal beliau ﷺ sebagai sosok yang jujur dan saleh. Dengan demikian, ada orang-orang yang memenuhi seruan beliau. Mereka dikenal dengan sebutan as-sabiqunal awwalun (السابقون الأولون), yaitu orang-orang terdepan yang pertama masuk Islam.

Di antara yang terdahulu masuk Islam adalah istri Rasulullah ﷺ Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid (خديجة بنت خويلد), mantan budak beliau, Zaid bin Haritsah (زيد بن حارثة), sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib (علي بن أبي طالب), dan sahabat dekat beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق). Ali saat itu masih kecil dan berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang yang masuk Islam pada hari-hari pertama dakwah.

Mengapa Ali bin Abi Thalib bisa berada dalam tanggungan Rasulullah ﷺ? Hal ini dikarenakan Quraisy pernah ditimpa paceklik, sedangkan Abu Thalib adalah orang yang kekurangan harta dan memiliki banyak anak. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ mengajak al-’Abbas bin Abdul Muththalib (العباس بن عبد المطلب) untuk meringankan beban Abu Thalib dengan membantu mengasuh satu anaknya. Rasulullah ﷺ mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan al-’Abbas mengasuh Ja’far bin Abi Thalib (جعفر بن أبي طالب). Dengan demikian, Ali menjadi tanggungan Rasulullah ﷺ seperti anak sendiri sampai datangnya masa kenabian. Ali mengikuti Rasulullah ﷺ dalam semua urusan beliau dan tidak ternodai oleh kotoran jahiliah berupa penyembahan berhala dan mengikuti hawa nafsu.

Kemudian Abu Bakar aktif mendakwahkan Islam. Melalui dakwahnya, masuk Islamlah Utsman bin Affan (عثمان بن عفان), az-Zubair bin al-’Awwam (الزبير بن العوام), Abdurrahman bin ‘Auf (عبد الرحمن بن عوف), Sa’ad bin Abi Waqqash (سعد بن أبي وقاص), dan Thalhah bin ‘Ubaidillah (طلحة بن عبيد الله).

Di antara orang-orang yang pertama masuk Islam juga adalah Bilal bin Rabah (بلال بن رباح), Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah (أبو عبيدة عامر بن الجراح), Abu Salamah bin Abdul Asad (أبو سلمة بن عبد الأسد), al-Arqam bin Abil Arqam (الأرقم بن أبي الأرقم), Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون), Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) beserta istrinya, Fathimah binti al-Khaththab (فاطمة بنت الخطاب), Khabbab bin al-Aratt (خباب بن الأرت), dan Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود).

Setelah itu orang-orang mulai masuk Islam secara bertahap, baik laki-laki maupun perempuan, sampai berita tentang Islam tersebar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan.

Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ berkumpul bersama mereka dan membimbing mereka secara tersembunyi karena dakwah masih bersifat perorangan dan rahasia.

Karakteristik wahyu pada masa awal Islam

Wahyu terus turun berturut-turut setelah surah al-Muddatstsir dan semakin kuat. Ayat-ayat dan potongan surah yang turun pada masa itu berupa ayat-ayat pendek dengan penutup-penutup ayat yang indah dan kuat, serta irama tenang dan memikat, sesuai dengan suasana dakwah yang masih lembut dan tersembunyi.

Ayat-ayat tersebut memuat dorongan untuk menyucikan jiwa, sekaligus celaan terhadap pengotoran jiwa dengan kotoran-kotoran dunia. Ayat-ayat tersebut juga menggambarkan surga dan neraka seakan-akan keduanya tampak di depan mata, serta membawa kaum mukminin berjalan dalam suasana lain, berbeda dengan suasana masyarakat manusia saat itu.

Demikianlah awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah. Dakwah dimulai secara tenang dan tersembunyi, dari orang-orang terdekat yang mengenal kejujuran dan kemuliaan akhlak beliau. Dari lingkaran kecil inilah Allah menumbuhkan generasi pertama Islam, generasi yang kelak memikul beban dakwah bersama Rasulullah ﷺ. Kisah dakwah secara rahasia ini belum berakhir.

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.

Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.

al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr.

 

Artikel terkait:

Turunnya Wahyu Pertama Kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?


Artikel asli: https://muslim.or.id/113956-kembalinya-wahyu-dan-awal-dakwah-sembunyi-sembunyi.html