Beranda | Artikel
Masa Kecil dan Remaja Rasulullah: Dari Asuhan Halimah Hingga Perang Fijar
8 jam lalu

Setelah sebelumnya membahas kisah kelahiran dan masa penyusuan Rasulullah ﷺ, kini kita beralih pada fase masa kecil dan remaja beliau ﷺ. Pada fase ini, terdapat berbagai kisah yang mengharukan sekaligus menakjubkan.

Halimah meminta izin kepada Aminah

Setelah sekian lama Nabi Muhammad tinggal di perkampungan Bani Sa’d, tibalah masanya Halimah mengantarkan beliau kepada ibunya untuk memulangkannya. Namun, Halimah belum ingin berpisah dengan Muhammad kecil lantaran keberkahan yang ia dapati selama bersamanya. Halimah membujuk Aminah agar Muhammad kecil masih bisa diasuh oleh Halimah hingga agak besar. Halimah beralasan dengan kekhawatirannya akan adanya wabah di kota Makkah yang bisa membahayakan sang anak. Akhirnya, Aminah pun mengizinkan Halimah untuk pergi membawanya lagi. Maka, Rasulullah ﷺ tinggal di perkampungan Bani Sa’d bersama keluarga Halimah untuk kedua kalinya.

Peristiwa pembelahan dada

Saat Rasulullah ﷺ berusia empat atau lima tahun, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau. Muslim meriwayatkan bahwa Anas menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ didatangi oleh malaikat Jibril pada saat beliau sedang bermain bersama anak-anak lainnya. Jibril mengambil beliau, membaringkannya, kemudian membelah dadanya. Jibril lalu mengeluarkan jantungnya dan mengeluarkan segumpal daging sambil berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada padamu.” Kemudian Jibril membasuh jantungnya dalam bejana emas berisi air zamzam, menyatukannya, dan mengembalikannya ke posisi semula. Anak-anak yang bermain bersamanya berlari kepada Halimah dan suaminya untuk mengabarkan bahwa Muhammad telah dibunuh. Mereka pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan mendapatinya dalam keadaan pucat. Akibat kejadian tersebut, Halimah khawatir akan keselamatan Muhammad kecil. Akhirnya, perempuan itu mengembalikan Muhammad ke pangkuan ibunya.

Baca juga: Mengenal Pribadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Bersama ibunda

Suatu saat, Aminah ingin mengunjungi makam suaminya di Yatsrib sebagai bentuk kesetiaan kepada kenangan suaminya yang telah wafat. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan Aminah pergi ke Yatsrib adalah untuk mengunjungi kerabat dari pihak ayahnya, yaitu Bani ‘Adi bin an-Najjar. Ia pun berangkat dari Makkah dalam perjalanan yang menempuh jarak sekitar lima ratus kilometer ditemani oleh anaknya yang yatim, Muhammad ﷺ, pelayannya, Ummu Aiman (أُمُّ أَيْمَن), dan penanggung jawab, Abdul Muththalib. Setelah tiba di sana, mereka menetap selama sebulan lalu kembali ke Makkah. Malangnya, di tengah perjalanan kembali ke Makkah, tiba-tiba Aminah mengalami sakit. Sakit tersebut semakin berat di awal perjalanannya. Akhirnya, ia meninggal dunia di Abwa’ (الأبواء) yang posisinya terletak di antara Makkah dan Yatsrib. Aminah meninggal dunia saat Rasulullah ﷺ berusia enam tahun.

Dalam asuhan Abdul Muththalib

Sejak itu, beliau diasuh oleh Ummu Aiman, kemudian berada dalam pemeliharaan kakeknya, Abdul Muththalib. Rasa kasih sayang yang besar memenuhi hatinya terhadap cucunya yang yatim. Ia kasihan dengan cucunya yang kembali tertimpa musibah setelah sebelumnya kehilangan ayahnya. Abdul Muththalib mencurahkan kasih sayang kepada Rasulullah ﷺ yang tidak ia berikan kepada anak-anaknya sendiri. Ia tidak membiarkan Rasulullah ﷺ sendirian, bahkan lebih mengutamakannya dibandingkan anak-anaknya.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Abdul Muththalib disiapkan alas duduk di bawah naungan Ka’bah oleh keluarganya. Setelah menyiapkan alas, anak-anak Abdul Muththalib duduk di sekitar alas tersebut menunggu Abdul Muththalib keluar dari kediamannya. Tidak seorang pun dari anak-anak Abdul Muththalib yang berani duduk di atas alas tersebut. Ini mereka lakukan dalam rangka memuliakan sang ayah. Namun, Rasulullah ﷺ yang saat itu masih kecil justru malah mendatangi Abdul Muththalib yang tengah duduk di atas alas tersebut. Muhammad kecil juga ikut duduk di atas alas tersebut. Melihat Muhammad kecil duduk di atas alas tersebut, para pamannya berusaha menarik beliau agar menjauh. Ketika melihat kejadian itu, Abdul Muththalib berkata, “Biarkanlah anakku ini. Demi Allah, sungguh ia memiliki kedudukan yang agung.” Maka Rasulullah ﷺ pun duduk bersama Abdul Muththalib di atas alas tersebut. Abdul Muththalib lalu mengusap punggungnya dengan tangannya dan merasa senang dengan apa yang ia lakukan.

Pada saat Rasulullah ﷺ menginjak usia delapan tahun dua bulan sepuluh hari, kakeknya, Abdul Muththalib meninggal dunia di Makkah. Sebelum kematiannya, ia sempat berwasiat agar pengasuhan cucunya diserahkan kepada anaknya, Abu Thalib (أَبُو طَالِب) yang merupakan saudara kandung Abdullah.

Dalam perlindungan Abu Thalib

Abu Thalib menunaikan tanggung jawabnya terhadap keponakannya dengan sebaik-baiknya. Meskipun ia hidup dalam keterbatasan harta, Allah memberkahi rezekinya yang sedikit. Ia mengasuh beliau bersama anak-anaknya, bahkan lebih mengutamakannya dibanding mereka. Abu Thalib memberikan penghormatan dan perhatian khusus kepada beliau, serta terus melindunginya dan membela kepentingannya selama lebih dari empat puluh tahun. Selama berada dalam pengasuhan pamannya, Rasulullah ﷺ tumbuh sebagai sosok yang sederhana dan jauh dari hal-hal remeh yang biasa dilakukan anak-anak. Ummu Aiman pernah menceritakan bahwa ketika waktu makan tiba, anak-anak lain berebut makanan, sedangkan Rasulullah ﷺ tetap tenang dan menerima apa yang Allah mudahkan baginya. Di antara peristiwa penting pada masa pengasuhan Abu Thalib adalah perjalanan dagang ke Syam.

Sekilas tentang perang Fijar

Sebelum masa kenabian, Rasulullah ﷺ sempat hadir dalam sebuah peperangan, yaitu perang Fijar (الفِجَار). Usia beliau saat menyaksikan perang tersebut diperselisihkan oleh para ahli sejarah: ada yang menyebut empat belas tahun, lima belas tahun, dan ada pula yang menyebut dua puluh tahun.

Latar belakang terjadinya perang ini adalah bahwa seorang raja Arab di al-Hirah, an-Nu’man bin al-Mundzir (النُعْمَان بْن المُنْذِر) memiliki barang dagangan yang ia kirim setiap tahun ke pasar ‘Ukazh (عُكَاظ) untuk dijual. Pengiriman barang dagangan tersebut membutuhkan pengawalan agar dagangannya terjamin aman sampai ‘Ukazh. Suatu ketika, ia duduk bersama al-Barradh bin Qais (البَرَّاض بْن قَيْس الكِنَانِي) yang berasal dari kabilah Kinanah (كِنَانَة) dan ‘Urwah bin ‘Utbah ar-Rahhal (عُرْوَة بْن عُتْبَة الرَحَّال), lalu bertanya siapa yang bisa menjamin keselamatan dagangannya. Maka, al-Barradh menjamin dagangannya atas Bani Kinanah. Sang raja kurang puas karena ia menginginkan jaminan atas semua orang. ‘Urwah, sambil menghina al-Barradh, menyanggupi jaminan barang dagangannya sesuai keinginan sang raja. Pengambilalihan pengawalan dagangan itu membuat al-Barradh dendam dan akhirnya membunuhnya saat ia lengah.

Pembunuhan tersebut terjadi di bulan haram. Kabilah ‘Urwah, yaitu Hawazin (هَوَازِنُ) tidak menerima pembunuhan tersebut. Mereka pun bersiap menyerang Kinanah yang dipimpin oleh Qais ‘Ailan (قَيْس عَيْلَان). Mendengar berita pembunuhan tersebut, kabilah Quraisy segera meninggalkan ‘Ukazh menuju tanah haram. Kabilah Hawazin kemudian mengejarnya dan berhasil menyusul Quraisy sebelum memasuki tanah haram sehingga terjadilah peperangan. Perang Fijar terjadi dalam beberapa babak. Rasulullah ﷺ hadir pada babak paling besarnya.

Pada babak tersebut, pemimpin dari pasukan Quraisy dan Kinanah adalah Harb bin Umayyah (حَرْب بْن أُمَيَّة). Kemenangan berada di pihak Qais di awal hari; tetapi ketika telah sampai tengah hari, kemenangan berada pada pihak Kinanah. Kehadiran Rasulullah ﷺ di peperangan tersebut disebabkan para paman beliau yang membawanya. Beliau membantu mengembalikan anak-anak panah musuh untuk pamannya ketika musuh melemparkannya kepada mereka. Akhir dari perang ini adalah perdamaian yang diusulkan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah (عُتْبَة بْن رَبِيعَة) mewakili Kinanah. Kinanah akan membayar diyat untuk korban yang terbunuh dari Hawazin, memberikan penjamin atas pembayaran diyat tersebut, dan merelakan korban dari pihak Quraisy sendiri. Hawazin pun menyetujuinya sehingga berakhirlah perang.

Masa kecil dan remaja Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan berbagai ujian dan pengalaman penting. Namun, di balik semua itu, tampak hikmah Allah dalam menyiapkan beliau untuk memikul amanah besar sebagai penutup para nabi dan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam.

Baca juga: Awal Kehidupan Rasulullah: Kelahiran dan Masa Penyusuan di Bani Sa’d

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

  • ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.
  • Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.
  • al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr.

 

Link artikel terkait:

Peristiwa Hilful Fudhul

Kehidupan Rasulullah Sebelum Menikah

Pernikahan Rasulullah Dengan Khadijah Radhiallahu’anha

Renovasi Ka’bah Lima Tahun Sebelum Nabi Diutus Menjadi Rasul


Artikel asli: https://muslim.or.id/113764-masa-kecil-dan-remaja-rasulullah-dari-asuhan-halimah-hingga-perang-fijar.html