Beranda | Artikel
Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 2)
8 jam lalu

Ragam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.

Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-Sunah

Al-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaik

Allah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:

  1. Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;
  2. Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.

Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)

Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)

Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,

إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام.

“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]

Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.

Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.

Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalam

Hal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)

Juga firman Allah ﷻ,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)

Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.

Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.

Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.

Allah ﷻ berfirman,

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)

Allah ﷻ berfirman,

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.

Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-Sunah

Karena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.

Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).

Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.

Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.

Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.

Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة

“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)

Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Alukah.net


Artikel asli: https://muslim.or.id/113429-menggunakan-al-quran-dan-as-sunah-dalam-dialog-eksistensi-tuhan-bag-2.html