Beranda | Artikel
Hidup Hemat di Tengah Zaman Konsumtif
10 jam lalu

Zaman ini bukan hanya zaman kemudahan, tetapi juga zaman yang penuh dengan ujian yang tersirat dan tak terasa. Ujian itu tidak selalu datang dalam bentuk kekurangan dan kesulitan, justru sering datang dalam bentuk kelapangan dan kemudahan. Apa yang dahulu sulit didapat, kini begitu mudah dibeli. Apa yang dahulu harus ditunggu, kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Manusia tidak lagi kesulitan mencari barang, tetapi kesulitan menahan diri.

Allah mengingatkan,

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)

Allah Azza wa Jalla telah mengingatkan hakikat dunia sejak awal,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)

Perhatikan susunan ayat ini. Allah menyebut permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, lalu perlombaan dalam harta dan anak keturunan. Seakan Allah menggambarkan fase demi fase manusia yang larut dalam dunia hingga lupa bahwa ia sedang berjalan menuju akhirat.

Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dengan sangat jelas dan panjang lebar dalam kitab tafsirnya, kemudian memberikan nasihat yang begitu indah dan berkata,

وهذا مصداقه وقوعه من محبي الدنيا والمطمئنين إليها؛ بخلاف من عرفت الدنيا وحقيقتها، فجعلها معبراً، ولم يجعلها مستقراً، فنافس فيما يقربه إلى الله، واتخذ الوسائل التي توصله إلى دار كرامته، وإذا رأى من يكاثره وينافسه في الأموال والأولاد؛ نافسه بالأعمال الصالحة

“Hal ini terbukti terjadi pada orang-orang yang mencintai dunia dan merasa tenang dengannya. Berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia menjadikannya hanya sebagai tempat persinggahan, bukan sebagai tempat menetap. Maka ia berlomba dalam hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah, dan mengambil berbagai sarana yang dapat mengantarkannya menuju negeri kemuliaan-Nya. Dan apabila ia melihat orang lain saling berlomba serta berbangga-bangga dalam harta dan anak-anak, maka ia menyaingi mereka dengan amal-amal saleh.” [1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Larangan israf dan tabdzir

Di antara sifat tercela yang dilarang oleh syariat adalah sifat israf (berlebihan) dan tabdzir (boros). Ar-Raghib rahimahullah berkata,

هو تجاوُز الحدِّ في كل فعل يفعله الإنسان، وإن كان ذلك في الإنفاق أَشْهَرَ

“Israf adalah melampaui batas dalam setiap perbuatan yang dilakukan manusia, meskipun istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks pengeluaran harta.” [2]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,

ما أنفقتَ في غير طاعة الله سَرفٌ، وإن كان ذلك قليلًا

“Apa saja yang engkau infakkan bukan dalam ketaatan kepada Allah adalah pemborosan (israf), walaupun jumlahnya sedikit.” [3]

Sebagian ulama membedakan antara tabdzir (menghambur-hamburkan harta) dan israf (berlebihan).

Tabdzir adalah mengeluarkan harta bukan pada tempatnya baik dalam maksiat atau tanpa manfaat, karena bermain-main dan meremehkan harta.

Adapun israf adalah berlebihan dalam makanan, minuman, dan pakaian, tanpa kebutuhan.

Islam bukan agama yang memusuhi kenikmatan, tetapi ia mengatur agar kenikmatan tidak berubah menjadi kebinasaan.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)

Sebagian salaf berkata,

جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ في نصف آية:  وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Allah telah menghimpun ilmu kesehatan dalam setengah ayat, ‘Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan.’” [4]

Allah juga berfirman,

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141)

‘Atha’ bin Abi Rabah berkata,

نُهُوا عن الإسراف في كلِّ شيءٍ

“Mereka dilarang berlebihan dalam segala sesuatu.” [5]

Ibnu Katsir menjelaskan,

ولا تسرفوا في الأكل؛ لِمَا فيه من مضرَّة العقل والبَدَن

“Yakni jangan berlebihan dalam makan, karena hal itu membahayakan akal dan badan.” [6] 

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا، وتصدَّقوا، والبسوا، في غير إسرافٍ ولا مَخِيلَةٍ

“Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah, tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. An-Nasa’i)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلْ ما شئتَ، والْبَسْ ما شئتَ، ما أخطأَتْكَ اثنتانِ: سَرفٌ أو مَخِيلَةٌ

“Makanlah apa yang engkau mau, dan pakailah apa yang engkau mau, selama terhindar dari dua hal: berlebihan dan sombong.” [7]

Dari Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما مَلأَ آدميٌّ وِعاءً شرًّا مِن بطنه، بحسْبِ ابن آدم أُكُلاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَه، فإن كان لا محالة، فثُلُثٌ لطعامه، وثُلُثٌ لِشَرَابه، وثُلُثٌ لِنَفَسِه

“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi dan berkata: hadis hasan shahih)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)

Bahaya bermegah-megahan

Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)

Bermegah-megahan bisa dalam jumlah harta, kendaraan, rumah, bahkan dalam gaya hidup.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda,

فواللهِ ما الفَقرَ أخشى علَيكُم، ولَكِنِّي أخشى أن تُبسَطَ عليكُمُ الدُّنيا كما بُسِطَت على مَن كان قَبلَكُم، فتَنافَسوها كما تَنافَسوها، وتُهلِكَكُم كما أهلَكَتْهم

“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)

Qana’ah dan rasa cukup

Allah juga memuji hamba-hamba-Nya yang pertengahan,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)

Ibnu Katsir menjelaskan,

ليسوا بمبذِّرين في إنفاقهم، فيَصْرِفون فوق الحاجة، ولا بُخلاء على أهليهم، فيُقصِّرون في حقِّهم، فلا يكْفُونَهم؛ بل عدلًا خيارًا، وخير الأمور أوسطها، لا هذا ولا هذا

“Mereka tidak menghamburkan harta melampaui kebutuhan, dan tidak pula bakhil terhadap keluarga sehingga mengurangi hak mereka. Mereka bersikap adil dan pilihan terbaik, dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.”

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

“Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati, dan kefakiran itu adalah kefakiran hati.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, disahihkan Al-Albani)

Dunia di tangan, bukan di hati

Allah Azza wa Jalla berfirman,

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Harta bukan musuh. Tetapi ketika ia melalaikan, ia menjadi bahaya.

Hemat adalah bentuk kesadaran.

Hemat adalah latihan menahan nafsu.

Hemat adalah bukti bahwa akhirat lebih kita cintai daripada dunia.

Karena pada akhirnya, ketika kita berdiri di hadapan Allah, yang ditanya bukan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

ما أنفقتَ على نفسِكَ وأهلِ بيتكَ، في غير سَرفٍ ولا تبذير، وما تصدَّقتَ به، فهو لك. وما أنفقتَ رياءً وسمعةً، فذلك حظُّ الشيطان

“Apa yang engkau infakkan untuk dirimu dan keluargamu tanpa berlebihan dan tanpa pemborosan, serta apa yang engkau sedekahkan, maka itu menjadi milikmu (di akhirat). Adapun yang engkau infakkan karena riya dan ingin dipuji, maka itu bagian setan.” [8]

Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata,

العاقل يُدبِّر بعقله معيشتَه في الدنيا، فإن كان فقيرًا اجتهَد في كسبٍ وصناعةٍ تَكُفُّهُ عن الذُّلِّ للخَلْق، وقلَّل العلائقَ، واستعملَ القَناعة؛ فعاش سليمًا من مِنَن الناس، عزيزًا بينهم، وإن كان غنيًّا، فينبغي له أن يُدبِّر في نَفَقَتِه؛ خوفَ أن يفتقر، فيحتاج إلى الذُّلِّ للخَلْق

“Orang berakal mengatur kehidupannya dengan akalnya. Jika ia miskin, ia berusaha mencari nafkah agar tidak hina di hadapan manusia. Jika ia kaya, ia mengatur pengeluarannya agar tidak jatuh miskin dan terhina.” [9]

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس

”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Semoga Allah menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita.

Wallahu Ta‘ala a‘lam.

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

[1] Tafsir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiri Kalam Al-Mannan, hal. 1001.

[2] Mausu’ah Nadhrotu An-Na’iim, 9: 3994.

[3] Ibid.

[4] Tafsir Ibnu Katsir, 2: 210.

[5] Ibid, 2: 182.

[6] Ibid, 2: 182.

[7] Shahih Bukhari, 4: 53.

[8] Ad-Dar Al-Mantsur, 5: 275.

[9] Shaid Al-Khathir, hal. 404.


Artikel asli: https://muslim.or.id/113351-hidup-hemat-di-tengah-zaman-konsumtif.html