Beranda | Artikel
Awal Kehidupan Rasulullah: Kelahiran dan Masa Penyusuan di Bani Sad
10 jam lalu

Setelah sebelumnya kita membahas sosok ayah Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Abdul Muththalib, pada artikel ini kita akan mulai menelusuri kisah kehidupan beliau ﷺ sejak awal. Pembahasan diawali dari peristiwa kelahiran beliau, kemudian berlanjut hingga masa penyusuan di perkampungan Halimah as-Sa’diyah.

Kelahiran Nabi Muhammad

Rasulullah, pemimpin para Nabi, lahir di rumah Abu Thalib, perkampungan Bani Hasyim di Makkah pada pagi hari Senin 9 Rabi’ul Awwal pada awal tahun terjadinya peristiwa gajah. Beliau ﷺ lahir bertepatan dengan masa empat puluh tahun setelah masa kekuasaan Kisra Anusyirwan. Kelahiran beliau ﷺ bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M, sebagaimana diteliti oleh ulama besar Muhammad Sulaiman al-Manshurfuri dan ahli falak Mahmud Pasha.

Aminah, ibu Rasulullah ﷺ, menceritakan tatkala kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, “Ketika aku melahirkannya, keluar suatu cahaya dari kemaluanku yang menerangi istana-istana di negeri Syam.”

Yang membantu proses kelahirannya adalah asy-Syifa’ (الشفاء), ibu dari Abdurrahman bin Auf. Setelah melahirkan, Aminah mengutus seseorang kepada Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ untuk mengabarkan kabar gembira tersebut kepadanya akan kelahiran cucunya. Abdul Muththalib pun mendatanginya dengan gembira, lalu membawanya masuk ke dalam Kakbah, berdoa kepada Allah serta bersyukur kepada-Nya. Kemudian Abdul Muththalib memberinya nama “Muhammad” kepadanya. Padahal, nama tersebut tidak dikenal oleh bangsa Arab. Allah berkehendak mewujudkan apa yang telah ditetapkan-Nya dan disebutkan dalam kitab-kitab para Nabi sebelumnya, seperti Taurat dan Injil, sehingga Allah mengilhamkan Abdul Muththalib untuk menamainya dengan nama tersebut. Beliau ﷺ dikhitan pada hari ketujuh sebagaimana kebiasaan yang dilakukan oleh bangsa Arab.

Pengasuh beliau ﷺ adalah Ummu Aiman, budak perempuan milik ayahnya, Abdullah. Wanita pertama yang menyusui Rasulullah ﷺ setelah ibunya adalah Tsuwaibah, budak perempuan milik Abu Lahab. Sebelumnya, Tsuwaibah juga telah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib, kemudian setelahnya Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi.

Tradisi penyusuan di kalangan bangsa Arab

Kebiasaan penduduk Arab yang tinggal di perkotaan adalah mencarikan ibu susuan bagi anak-anak mereka. Hal ini bertujuan untuk menjauhkan anak-anak mereka dari penyakit-penyakit yang ada di perkotaan, sehingga tubuh mereka menjadi lebih kuat, saraf-saraf mereka lebih kokoh, dan mereka dapat menguasai bahasa Arab yang fasih sejak kecil.

Abdul Muththalib pun mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah ﷺ, lalu menyerahkan beliau kepada seorang wanita dari Bani Sa’d bin Bakr, yaitu Halimah binti Abi Dzu’aib (حليمة بنت أبي ذؤيب) bersama suaminya, al-Harits bin Abdul ‘Uzza (الحارث بن عبد العزى) yang dikenal dengan kunyah Abu Kabsyah (أبو كبشة) dari kabilah yang sama.

Rasulullah ﷺ memiliki beberapa saudara sepersusuan, yaitu Abdullah bin al-Harits (عبد الله بن الحارث), Anisah binti al-Harits (أنيسة بنت الحارث), Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib (أبو سفيان بن الحارث بن عبد المطلب), dan Hudzafah binti al-Harits (حذافة بنت الحارث) yang dikenal dengan julukan asy-Syaima’ (الشيماء). Hudzafah juga menjadi pengasuh Rasulullah ﷺ.

Perjalanan Halimah mencari anak susuan

Halimah melihat keberkahan dari diri Rasulullah ﷺ yang sangat menakjubkan. Awalnya, ia keluar dari kampungnya bersama suami dan anaknya yang masih kecil, serta beberapa wanita Bani Sa’d bin Bakr untuk mencari anak susuan. Ketika itu, terjadi paceklik di kampungnya dan tidak tersisa apa pun untuk mereka. Halimah berangkat dengan membawa seekor unta tua dan menunggangi seekor keledai betina yang lemah.

Keseharian keluarga Halimah sangat memprihatinkan. Mereka tidak bisa tidur di malam hari lantaran anaknya terus menangis akibat kelaparan. Wanita tersebut tidak bisa mengeluarkan air susu untuk mengisi perut anaknya. Unta yang dimilikinya pun juga tidak mengeluarkan setetes susu pun untuk mengganjal perut sang anak. Dalam kondisi yang begitu beratnya, Halimah tetap berharap turunnya hujan dan munculnya kelapangan.

Halimah berangkat dengan keledai tersebut. Keledai itu berjalan dengan sangat lambat sehingga rombongan merasa keberatan karenanya. Sesampainya di Makkah, para wanita segera mencari anak susuan ke penduduk di sana. Setiap wanita dari Bani Sa’d tersebut telah ditawari untuk menerima Rasulullah ﷺ sebagai anak susuannya. Namun, tidak ada yang mau menerimanya lantaran beliau adalah anak yatim. Alasannya adalah para ibu susu ini mengharapkan imbalan dari ayah si anak. Para wanita itu berkata, “Ia adalah anak yatim. Apa yang bisa diberikan oleh ibu dan kakeknya?”

Keberkahan Rasulullah di Bani Sa’d

Setelah beberapa lama di Makkah, semua wanita Bani Sa’d telah mendapatkan anak susuan kecuali Halimah. Ketika rombongan wanita susuan itu hendak kembali ke kampungnya, ia tidak suka jika kembali dengan tangan kosong tanpa membawa anak susuan. Akhirnya, ia mengambil anak yatim tersebut sebagai anak susuannya. Suaminya lalu mendukungnya dan mendoakan semoga Allah memberikan keberkahan melalui anak yatim tersebut.

Setelah Halimah mengambil beliau, kembali ke tunggangannya, dan meletakkannya di pangkuannya, tiba-tiba ia mendapati bahwa payudaranya penuh dengan susu. Rasulullah ﷺ pun menyusu hingga kenyang. Anaknya kemudian turut menyusu hingga kenyang. Lalu keduanya tidur, padahal sebelumnya wanita tersebut tidak bisa tidur karena anaknya.

Suami Halimah kemudian mendatangi untanya dan mendapati bahwa ternyata ia penuh dengan susu. Ia memerahnya dan meminumnya sampai mereka kenyang dan puas. Itu adalah malam terbaik yang mereka lalui. Pada pagi hari, suaminya berkata, “Ketahuilah, demi Allah, wahai Halimah! Sungguh kamu telah mengambil seorang jiwa yang penuh keberkahan.” Halimah pun menimpali, “Demi Allah, sesungguhnya aku juga berharap demikian.”

Kemudian rombongan tersebut berangkat menuju kampungnya. Halimah masih menunggangi kendaraan yang sama, yaitu keledai betinanya. Namun ajaibnya, keledai itu berjalan dengan sangat cepat sampai mendahului kendaraan rombongan lainnya. Teman-temannya sampai memintanya untuk memelankan tunggangannya itu.

Sesampainya di kampungnya dengan membawa anak tersebut, Halimah mendapati kambing-kambingnya kembali dari padang dalam keadaan kenyang dan penuh susu. Mereka pun memerah dan meminumnya, sementara orang lain tidak mendapati setetes pun susu dari ternaknya. Keberkahan tersebut terus ia rasakan sampai berlalu dua tahun. Setelah itu, Halimah menyapih Rasulullah ﷺ. Beliau tumbuh dengan pertumbuhan yang tidak seperti anak-anak biasa. Belum genap dua tahun, beliau telah menjadi anak yang kuat.

Kehadiran Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi seluruh alam. Sejak masa awal kehidupannya, telah tampak berbagai bentuk keberkahan yang menyertai beliau ﷺ, di antaranya yang dialami oleh keluarga Halimah. Insyaallah, kelanjutan kisah ini akan dibahas pada artikel berikutnya. Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

  • ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.
  • Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.

 

Link artikel terkait:

Nama dan Nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sejarah Penamaan “Muhammad” Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam

Perselisihan Ulama Mengenai Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Perbedaan Ulama Mengenai Tanggal Lahir Nabi

Tanggal Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kapan Tanggal Lahir Nabi Muhammad?


Artikel asli: https://muslim.or.id/113421-awal-kehidupan-rasulullah-kelahiran-dan-masa-penyusuan-di-bani-sad.html