Beranda | Artikel
Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 1)
10 jam lalu

Di zaman dahulu, argumen keberadaan Tuhan tidak menjadi pembahasan yang begitu signifikan di kalangan para ulama yang membahas akidah. Namun, di masa kini, urgensinya kian terasa karena syubhat kuffar sudah menyentuh fundamen keimanan, yakni eksistensi atau keberadaan Tuhan dalam semesta ini.

Akan tetapi, sejatinya para ulama Islam tidak sepenuhnya meninggalkan pembahasan ini. Justru pijakan dasar dalam berargumen tentang keberadaan Tuhan telah dibahas dan terus berkembang sampai hari ini. Termaktub dalam kitab dan risalah para salaf terdahulu berupa argumen solid tentang eksistensi Tuhan secara logis dan mudah diterima oleh banyak kalangan.

Cara Salaf dalam menyikapi diskursus eksistensi Tuhan

Sikap salaf dalam bab ini adalah moderat, mereka semangat menghadirkan argumen keberadaan Tuhan, tetapi tidak sampai mengorbankan validitas dalil naqli serta pemahamannya. Hal ini menjadi tonggak utama yang perlu dipegang para pelajar dalam mengulik pembahasan ini. Karena telah berlalu zaman, di mana para ulama semangat menghadirkan argumen keberadaan Tuhan dengan argumen logis. Sampai pada akhirnya, sebagian mereka terjebak dalam kontradiksi antara argumen logis dan argumen yang disampaikan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Bahkan karena sebab perkara itu, akhirnya lebih mengutamakan argumen logis dibandingkan firman Allah dan sabda Rasulullah. Inilah yang terjadi kepada kalangan filsuf dan mutakallimin yang menisbatkan dirinya kepada Islam di masa pertengahan.

Hal penting berkaitan penggunaan wahyu dalam menyusun argumen eksistensi Tuhan

Argumen eksistensi Tuhan bisa kita dapatkan dari dua sumber:

Pertama: Sumber akal

Kedua: Sumber penukilan (Al-Quran)

Al-Quran dan As-Sunah sejatinya membawa argumen keberadaan Tuhan yang banyak sekali. Namun, ketika berdialog dengan seseorang yang sudah kehilangan basis keyakinan kepada Tuhan, maka apalagi dengan validitas wahyu Tuhan. Oleh karena itu, dalam berdialog dengan kelompok ateis maupun agnostis, Al-Quran dan As-Sunah tidak dikedepankan sebagai argumen secara eksplisit. Akan tetapi, sebagai seorang muslim, kita menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam dialog eksistensi Tuhan dengan pertimbangan sebagai berikut:

Pertama: Menjadikan Al-Quran dan As-Sunah sebagai landasan berdialog

Al-Quran dan As-Sunah sebagai wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya ditujukan sebagai panduan utama dalam berkehidupan kita. Ia mengandung kaidah global yang komprehensif, contoh-contoh yang signifikan untuk meningkatkan pemahaman kita, serta perbandingan-perbandingan yang membuat kita semakin yakin dengan mukjizat terbesar dari Nabi kita ﷺ ini. Allah ﷻ berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. an-Nahl: 89)

Al-Huda yang dimaksudkan adalah Al-Quran. Ia bermakna jalan yang lurus, menjadi petunjuk menuju arah yang tepat. Lawannya adalah kesesatan (ضلّ). Oleh karena itu, Al-Quran benar-benar menjadi panduan bagi kita semua untuk segala hal, khususnya dalam dakwah. Berdialog dengan ateis dalam masalah eksistensi Tuhan adalah sebesar-besar perkara dakwah, karena ia merupakan inti dakwah tauhid.

Dalam ayat lain, Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)

Ayat tersebut menunjukkan bahwasanya guideline dalam berdakwah dan berdialog dengan ateis adalah Al-Quran dan As-Sunah. Allah ﷻ mengetahui pentingnya perkara ini. Karena eksistensi adalah fundamen dari keyakinan akan konsep Tuhan dan syariat-Nya, tentu saja Allah ﷻ telah membekali umat dengan petunjuk terbaik untuk membuktikan keberadaan-Nya. Bukan hanya sekadar panduan berargumen, tetapi juga menjadi busyra atau kabar gembira bagi orang yang membangun argumen di atasnya.

Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala? 

Kedua: Segala argumen yang dibangun disyaratkan tidak boleh bertentangan dengan realita Al-Quran dan As-Sunah yang sharih

Sebagai bentuk penegasan dari panduan pertama yang disebutkan, segala bentuk argumen yang kita bangun hendaknya di atas Al-Quran dan As-Sunah, atau minimal tidak bertentangan dengan keduanya. Dalam dialektika teis-ateis, ada banyak sekali argumentasi dan juga pandangan yang bertebaran dalam masalah ini. Ada yang datang dari internal kaum muslimin, ada yang datang dari para teolog non-muslim yang bersandar kepada logika. Banyaknya argumen ini terkadang menggoda kita sebagai penyeru agama Allah ﷻ untuk menggunakannya atau mensintesis formula baru berdasarkannya. Padahal, tidak semua argumen itu selamat dari konsekuensi batil, bahkan bisa jadi analoginya pun bermasalah. Oleh karena itu, kita butuh sebuah alat penimbang kebenaran dari semua argumen ini.

Allah ﷻ telah menjadikan Al-Kitab, yakni Al-Quran, sebagai hakim untuk memutuskan kebenaran. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (QS. An Nisa’: 105)

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan persengketaan di antara manusia yang dihadapi oleh Nabi ﷺ. Pesan yang dibawa oleh ayat ini adalah perintah agar Nabi ﷺ berkomitmen menjadikan Al-Quran sebagai panduan memutuskan perkara dan larangan untuk menuruti hawa nafsu. Keluasan makna dari ayat ini dapat kita pahami bahwasanya segala urusan dapat ditimbang oleh Al-Quran sebagai kalam Allah ﷻ yang terjaga kebenarannya. Ketika kita dapati banyak argumen yang dapat digunakan untuk mendukung eksistensi Tuhan, maka argumen tersebut perlu disaring dengan fakta dan perintah yang terkandung dalam Al-Quran.

Kita juga bisa mendapatkan faidah bahwasanya ketika berdialog, kita harus tetap adil dalam berargumen, jangan sampai menuruti nafsu untuk memenangkan dialognya. Seorang guru kami mengatakan, “Kebenaran substansi tidak diukur oleh kemenangan dalam berdialog.” Hal ini diketahui oleh kebanyakan ilmuwan dan akademisi, berbeda dengan atlet debat modern yang dituntut untuk menang dalam penampilan dan retorika.

Dalam ayat lain, Allah ﷻ berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Kita mungkin mendapati argumen kebenaran Tuhan juga bertebaran di kitab-kitab samawi yang tersisa kini. Maka, sikap kita kepadanya adalah sama, yakni ditimbang dengan Al-Quran terdahulu sebelum digunakan. Jangan karena merasa bercocokan dengan pendapat maupun hipotesis sendiri, tanpa crosscheck, langsung menggunakan begitu saja. Dalam ilmu debat pun, hal ini sangatlah fatal. Karena argumen yang dibangun atas sebuah dasar yang tidak kokoh, sangat mudah untuk dibantah dengan cara menginvalidasi atau membatalkan susunan argumennya.

Berdasarkan ayat di atas, Al-Quran dan As-Sunah hendaknya menjadi pengadil atas segala yang kita lakukan maupun argumen yang hendak kita jadikan sebagai dasar. Benarkah perkara yang ingin kita sampaikan ini telah sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunah, atau minimal tidak bertentangan dengan keduanya? Sejatinya tidak ada perkara kebenaran yang tidak termaktub dalam keduanya. Karena keduanya adalah wahyu Allah ﷻ yang memang diturunkan untuk menjadi petunjuk dalam jagat kehidupan kita. Oleh karena itu, setiap kebaikan pasti sudah dijelaskan dalam Al-Quran dan As-Sunah, setidaknya termaktub kaidah semisal yang menjadi landasan dalam berargumen.

[Bersambung]

***

Penulis: Glenshah Fauzi 

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian yang kami sadur dari catatan pelajaran khususnya dalam Daurah Duat Nasional #3 bersama Ustad Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. dan Ustad Nidhol Masyhud, Lc., Dipl. hafizhahumullah. Keduanya tidak secara langsung menyebutkan poin-poin berikut, tetapi pembelajaran tersebut menginspirasi kami untuk meringkas metode penggunaan Al-Quran dan As-Sunah dalam berdialog dengan kelompok yang tidak mengakui kewujudan Tuhan.


Artikel asli: https://muslim.or.id/113342-menggunakan-al-quran-dan-as-sunah-dalam-dialog-eksistensi-tuhan-bag-1.html