Beranda | Artikel
Stop Normalisasi Diniatkan Ibadah sebagai Pemanis Obsesi Duniawi Terselubung
11 jam lalu

Allah Ta’ala telah membuka pintu ibadah seluas-luasnya, baik melalui jalur ibadah murni (mahdhah) maupun aktivitas harian (ghairu mahdhah) yang diniatkan secara benar. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang fundamental,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.” [1]

Terkait pembahasan niat di atas, ada satu fenomena yang perlu kita renungkan bersama. Fenomena ini kerap muncul dari pernyataan sebagian pakar, politisi, akademisi, kalangan profesional, maupun cendekiawan saat berbicara di ruang publik. Bahkan, tanpa sadar ia sering merayap ke dalam obrolan ringan kita selaku rakyat biasa, di ruang tongkrongan atau di sela-sela perbincangan kecil bersama sahabat dan keluarga.

Potret nasihat agama oknum tokoh publik

Mari kita telaah dengan jujur. Dalam perbincangan kita dengan orang lain, adakalanya kita mendapatkan momen untuk memotivasi orang lain, baik berupa dorongan duniawi yang positif maupun nasihat seputar agama dan akhlak. Saat kita mendapatkan kesempatan untuk memotivasi urusan dunia, kadang kita begitu bersemangat membakar jiwa mereka demi mencapai ambisi. “Ayo kerja keras, kerja cerdas! Kita harus adaptif dan solutif! Dunia terus berubah, ia tidak akan menunggu kita. Kita harus menyesuaikan diri atau akan tertinggal,” maupun motivasi lainnya. Kalimat ini tidak salah. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.

Masalah muncul ketika orang yang sama mendapat kesempatan memberikan sepatah dua patah kata nasihat agama, mari kita simak apa yang disampaikan, “Aktivitas duniawi kita juga bisa menjadi ibadah di sisi Allah jika kita meniatkannya.” Terkadang kalimat ini pun hanya muncul beberapa menit dari keseluruhan pidato yang amat panjang itu. Setelahnya, dilanjutkan pembahasan yang mayoritas isinya adalah seputar keduniaan. Bahkan, kerap kali kalimat tadi disambung dengan dorongan semacam, “Jangan jadi ritualis! Beragama jangan sekadar ritual saja. Bukankah selain ada hablumminallah, juga ada hablumminannas?” Meskipun bisa saja kita bertanya balik, “Bukankah selain ada hablumminannas, juga ada hablumminallah?”

Sekali lagi, nasihat di atas benar secara tekstual. Namun, dikhawatirkan semua itu hanya kalimatul haq yuradu biha al-bathil (perkataannya benar, tetapi maksud halus di baliknya adalah sebuah kekeliruan). Kiranya ingin jujur, mari lihat skala prioritasnya. Saat membicarakan dunia, kita membakar semangat orang lain untuk mengejarnya, sedangkan saat menyampaikan nasihat agama, secara terselubung lagi-lagi kita justru mendorong orang untuk fokus pada dunia! Alhasil, semua yang keluar dari lisan kita adalah dunia. Jarang sekali ada nasihat yang murni terlepas bebas dari urusan keduniaan!

Barangkali kita berdalih, “Saya bukan ustaz atau kiai, saya tidak ahli menyampaikan ajaran agama. Biar ahlinya saja.” Pertanyaannya, bukankah menyampaikan ajaran tentang menjaga niat dalam aktivitas dunia, serta konsep hablumminallah dan hablumminannas, juga merupakan bagian dari ajaran agama? Mengapa kita tebang pilih? Lagipula, kiranya oknum ini merasa bukan ahlinya, lantas mengapa berkenan naik ke atas mimbar di hadapan umat saat momen-momen ibadah? Padahal, banyak ajaran agama yang sangat sederhana untuk disampaikan tanpa harus menunggu menjadi ustaz terlebih dahulu. 

Menyampaikan nasihat agama bukan hanya tugas ustaz dan kyai, melainkan tanggung jawab moral setiap orang yang memiliki iman. Ia adalah bukti pembeda antara hamba yang beruntung dengan mereka yang bangkrut. Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Maka, sekali lagi, jujurlah pada diri sendiri. Dan yang terpenting, jujurlah kepada Allah! Apakah benar aktivitas duniawi kita sudah benar-benar diniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, atau ia hanyalah dalih agar kita bisa terus terobsesi pada dunia tanpa merasa bersalah?

Baca juga: Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah: Tulus atau Modus?

Sebegitu sempurnakah dunia di mata kita?

Lagipula, mengapa kita begitu tergila-gila pada dunia seolah ia begitu sempurna? Bukankah dunia ini banyak lelahnya? Semakin dewasa, semakin banyak tuntutan yang menghimpit, semakin banyak keputusan pahit yang harus diambil. Hidup di dunia ini sungguh menguras energi. Lantas, bukankah kita adalah umat yang meyakini bahwa salat adalah tempat istirahat dari segala kesulitan dan keletihan itu? Rasulullah bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu,

يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” [2]

Lalu, mana ajakan kita kepada sesama untuk menunaikan salat? Mengapa hanya strategi sukses dunia yang terus kita gaungkan?

Bukankah hidup ini penuh masalah yang memusingkan kepala? Sedangkan tidak ada satu kitab pun yang sanggup menjadi solusi tuntas selain Al-Qur’an? Maka, mana ajakan kita untuk membaca dan merenungi maknanya?

Bukankah dunia ini terlalu banyak sakit hatinya? Ketidakadilan di mana-mana, kezaliman datang dari segala arah. Ketidaktenangan yang sering menghantui, sesal atas masa lalu dan cemas akan masa depan. Padahal, tidak ada yang bisa menenangkan hati kecuali berzikir kepada Allah.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)

Selalu motivasi dunia yang disampaikan, entah di mana ajakan zikir itu disembunyikan. Bukankah firman Allah itu benar?

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS An-Nisa: 122) 

Pembaca sekalian, di dunia yang penuh akan hal di luar kendali kita ini, bukankah salah satu tujuan utama kita banting tulang berjibaku dengan dunia adalah untuk mencari rezeki? Dan bukankah tidak ada yang bisa menolong dan memberikan kita rezeki kecuali Allah Ta’ala? Lantas, mana ajakan kita untuk isti’anah, untuk meminta tolong kepada-Nya? Mana ajakan untuk mengetuk pintu Ar-Razzaq melalui doa? Ingat! Ad-du’a silahul mukmin, doa adalah senjata orang yang punya iman.

Maka, prinsip yang benar adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS Al-Qasas: 77)

Perhatikan, kejar akhirat, dan jangan lupakan dunia. Jangan dibalik! Alhasil, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan nasihat agama, ajaklah orang untuk mengenal Allah terlebih dahulu. Ajak mereka salat, ajak mereka berzikir dulu. Barulah setelah itu, dengan kadar yang pas kita dorong mereka untuk giat menggapai dunia dengan tetap menjaga niatnya. Semua ada porsinya masing-masing. Alhasil, baik amalan akhirat maupun aktivitas dunia kita, 24 jam dalam sehari semuanya bernilai ibadah.

Perlu dipahami bahwa tulisan ini adalah bentuk kritik sosial dan nasihat tulus guna mewujudkan perbaikan bersama. Semoga Allah memberikan kita taufik agar mampu jujur kepada Allah Ta’ala, juga kepada diri kita sendiri. Wallahu waliyyut taufiq.

Baca juga: Beramal Ibadah Demi Kebahagiaan Dunia, Berpahalakah?

***

Penulis: Reza Mahendra

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.

[2] HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Zad Al-Ma’ad, 1: 256.


Artikel asli: https://muslim.or.id/113135-stop-normalisasi-diniatkan-ibadah-sebagai-pemanis-obsesi-duniawi-terselubung.html